Beberapa hari yang lalu, sebuah kebun bunga Amaryllis di sebuah pekarang di Gunung Kidul mendadak terkenal. Pekarangan tersebut memang sengaja ditanami bunga oleh pemiliknya Sukadi. Tapi sayang beribu sayang, bunga yang mempunyai fase mekar setahun sekali tersebut kini sudah rusak akibat para pengunjung yang kegirangan selfie.
Selfie memang fenomena yang nge-tren beberapa tahun terakhir. Kebanyakan anak muda bersenjata Android yang kecanduan hal tersebut. Bisa dibilang Android itu senjata ampuhnya para pelaku selfie.
Namanya juga Indonesia, biasanya kalau ada hal yang booming, semua kalangan bakal terjun langsung mengikuti tren tersebut tanpa pikir pandang usia, jenis kelamin, status sosial, dan seambrek hal lainnya. Asalkan bisa dibilang 'gaul', mau di tengah hujan deras, di atas tebing, bahkan di alam gaib sekalipun, bakal dilakoni.
Orang Indonesia terlihat semakin menerima perubahan zaman tanpa babibu lagi. Mereka atau bahkan kita malah semakin terbuka dan mempersilahkan kepada hal-hal yang baru untuk masuk ke kehidupan kita. Mungkin zaman sekarang tren lebih penting ketimbang norma.
Dulu banyak yang bilang orang Indonesia itu terkesan ramah dan menjunjung tinggi norma. Terikat dengan hukum, agama, budaya, bahkan untuk hal yang sepele seperti mengunyah makanan. Terikat disini bukan berarti terpaksa, tetapi lebih ke tata cara menjalani hidup masing-masing. Berusaha sebaik mungkin agar tidak melenceng dari kaidah-kaidah yang sudah turun-temurun dijalankan. Di zaman ini masih ada rasa malu jika melanggar.
Lantas masih adakah orang Indonesia yang memang benar-benar masih berpegang teguh dan melestarikan kalimat 'orang Indonesia itu ramah' ?
Dari 250 juta lebih penduduk Indonesia, masih banyak di antara kita yang memang benar-benar orang Indonesia asli. Asli dalam artian mereka memang benar-benar memegang teguh kaidah-kaidah yang ada sebagai panutan hidup mereka. Hanya saja kebanyakan mereka terkesan tersembunyi dari media dan dunia luas.
Media lebih suka membicarakan hal-hal ganjil dan nyeleneh. Mungkin karena memang itu yang lebih laku ketimbang hal-hal yang berbau positif lainnya. Media hanya perantara yang polanya cuma mengikuti kemauan pasar. Andai pasar minta yang lebih nyeleneh lagi, tanpa segan media bakal memuatnya. Yang penting laku mas mbak..
Kembali ke topik bunga Amaryllis, ternyata ada yang unik pada fenomena ini. Istri si pemilik pekarangan Wartini (38), melontarkan komentarnya yang berisi keprihatinannya.
Sumber: Kompas
Beliau justru malah merasa kasihan kepada para pengunjung kebun bunganya. Bukankah kita yang seharusnya kasihan dengan si pemilik kebun bunga tersebut?
Inilah orang Indonesia 'ASLI'. Ibu ini merupakan salah satu dari sekian banyak orang Indonesia yang memang benar-benar masih memegang teguh kaidah-kaidah 'orang Indonesia'. Bisa dibilang 'tepo seliro' nya masih tertanam dalam hati. Beginilah seharusnya orang Indonesia, saling menghormati satu sama lain. Bersikap tenggang rasa dan peduli, bukan cuma mikirin diri sendiri.
Harusnya kita malu, lebih suka dikasihani tanpa pernah mengasihani orang lain. Malah kita malah tidak merasa sedikit pun sudah dikasihani. Kita masih terlalu egois untuk sekadar menjalani hidup kita sendiri. Bayangkan jika keegoisan kita ikut terbawa ketika memimpin Indonesia kedepan. Akankah kalimat 'orang Indonesia itu ramah' bakal jadi sebuah pepatah atau bahkan mitos?.
Mitosnya orang Indonesia itu ramah, menghormati orang lain, menjunjung tinggi norma-norma.
Dikala negara lain sudah sampai ke planet mars, kita malah justru mondar-mondir mikir bagaimana caranya terbang. Andai semua orang Indonesia mempunyai sifat seperti si pemilik kebun bunga, bisa jadi Indonesia bakal dihormati masyarakat dunia. Indonesia jadi negara nomor satu dengan tingkat kebahagiaan, kesejahteraan, keramahan, paling tinggi di dunia. Dan jika itu nyata, setidaknya bisa menceritakan ke anak-cucu kita sebuah kisah yang luar biasa. "Nak, Indonesia itu.............."
