Saturday, February 28, 2015

Lingkungan Bisnis

Minggu ini, minggu kedua  saya sebagai seorang mahasiswa semester dua. Mahasiswa yang sudah dengan baik lulus dari semester satu tanpa ada hambatan yang berarti. Sebuah permulaan yang cukup bagus sebagai seorang mahasiswa baru. Mahasiswa yang baru saja mengalami gejolak-gejolak dalam dunia perkuliahan. Melalui tantangan-tantangan yang secara langsung berhadapan. Tantangan-tantangan yang pastinya menentukan nilai dikemudian hari.

Hari sabtu ini, hari terakhir saya belajar mata kuliah lingkungan bisnis. Mata kuliah umum yang terdiri dari beberapa sub pelajaran tentang apa dan bagaimana lingkungan bisnis itu. Semua pasti berguna untuk saya dan juga teman-teman seperjuangan saya sekarang ini untuk menaklukan masa depan tentunya. Merubah masa depan yang hanya ada di alam mimpi, menjadi masa depan yang bisa hadir dalam kehidupan nyata.

Sudah ada beberapa profesor hebat yang sengaja meluangkan waktunya untuk memberikan pelajaran dalam bentuk seminar kepada saya dan juga teman-teman saya selama dua minggu ini. Semuanya orang-orang yang benar-benar hebat. Dari orang yang paham tentang hukum, hingga orang yang sudah menjelajah negara-negara di dunia. Ada juga seorang wanita yang saya pikir sudah menguasai lebih dari empat bahasa dan bisa dibilang polyglot. Semuanya dengan ikhlas memberikan pelajaran yang pastinya sangat berharga.

Lingkungan sosial budaya, salah satu sub pelajaran yang ada di lingkungan bisnis. Di pandu oleh ketua STMIK Amikom Yogyakarta, Pak Yanto. Sudah jelas-jelas orang hebat, tentu yang diajarkan juga hebat. Dan memang benar, beliau memberikan tips-tips yang pastinya bisa membuat saya dan yang lainnya lebih survive membangun perekonomian sebagai pahlawan devisa. Pahlawan yang kebanyakan orang anggap hanya seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di luar negeri yang pastinya sering di aniaya oleh majiaknnya.

Tapi, semua justru bertolak belakang. Bukan bekerja sebagai pembantu yang hanya bisa di aniaya oleh majikannya di luar negeri, tapi bekerja sebagai pelaku bisnis online. Bisnis yang memanfaatkan jaringan internet untuk mencari penghasilan. Semua dibedah total oleh Pak Yanto. Dari bagaimana orang-orang mendapat uang, hingga bercerita tentang mereka-mereka yang sudah berhasil menggiat bisnis dalam dunia online

Semua itu membuat saya dan yang lainnya lebih termotivasi tentunya. Termotivasi untuk segera cepat-cepat berhasil membangun perekonomian pribadi melalui bisnis online. Bisnis yang bukan hanya menguntungkan, tapi juga dapat memajukan perekonomian negara dengan menjadi pahlawan devisa hingga meringankan beban orang tua yang sudah susah payah membantu saya dan yang lainnya dalam bidang materi. 

Singkat cerita, Pak Yanto pun memberikan tugas akhir mata kuliah lingkungan bisnis. Tugas yang membuat saya dan yang lainnya berperan aktif untuk menjadi pahlawan devisa untuk negara. Tugas yang bisa dianggap sebagai langkah pertama kami semua memulai berjuang dalam bisnis online. Semua bakal terwujud dengan usaha kerja keras dan doa yang berkelanjutan, kata Pak Yanto. Dan saya yakin akan itu setelah apa yang sudah saya alami seperti sekarang ini. Semoga kami semua mampu menjadi pahlawan devisa yang sebenar-benarnya.

Monday, February 23, 2015

Caturwulan Kedua

23 Juni 2014, tanggal di mana saya mulai petualangan saya meninggalkan rumah orang tua saya. Rumah di mana saya tinggal selama 17 tahun lebih, rumah di mana saya dibesarkan oleh orang tua saya, juga rumah di mana saya berkembang menjadi seorang pribadi seperti sekarang ini. Rumah yang tak mungkin bisa saya lupakan, juga rumah yang tak mungkin tergantikan selama hidup saya.

Mencoba berpetualang sekaligus mencoba kehidupan baru di tempat yang juga baru. Mencoba hidup dengan orang-orang baru juga mencoba membaur. Semua baru di tempat baru di cerita baru juga di kehidupan baru. Semua terangkum dalam buku kehidupann yang berisi perjalanan hidup yang dibatasi oleh waktu dan takdir yang berlaku. Semua bermakna dalam cerita.

Mencoba hidup baru dengan cara hidup baru. Meninggalkan kebiasaan lama juga kehidupan lama. Tapi tidak harus melupakan, dan justru tidak boleh dilupakan. Semua pasti mengandung pelajaran seburuk apapun nilai yang terkandung atau sehina apapun bentuk yang tercipta. Melupakan berarti mencoba untuk tidak belajar dari masa lalu. Hal salah yang harus dihindari.

Semua berkembang dari hal kecil, sedikit dan juga sepele. Dilakukan terus-menerus, diperbaiki terus-menerus, juga dikoreksi terus-menerus. Itu yang sedang saya lakukan untuk sekarang sejak pertengahan tahun lalu. Tahun dimana saya mencoba keluar dan melampaui batas dari kehidupan saya. Mencoba menangkap masa depan yang tak terlihat hingga sekarang, hanya bisa dibayangkan tanpa ada hal pasti. Semua masih dalam taraf mungkin.

23 Februari 2015, hari ini. Tanggal yang menunjukan lamanya perjalanan baru saya saat ini. Tanggal yang memberi kepastian bahwa sekarang sudah di caturwulan yang 2. Membuat saya sudah melalui 8 kali bulan purnama di tempat yang bukan rumah tinggal saya. Membuktikan sudah 8 bulan saya tinggal di Jogja, di tempat baru untuk kehidupan baru.

Semua terjadi karena kebutuhan pendidikan yang sedang saya jalani sekarang ini. Andai pendidikan tidak sepenting apa yang terjadi sekarang ini, bisa jadi kehidupan baru saya di sini hanya sekadar imajinasi serta bayang-bayang kosong yang hanya ada di dalam pikiran tanpa bisa disentuh maupun direalisasikan. Hanya sebagai pelengkap hidup saja, tanpa ada yang bisa dipelajari di dalamnya.

Hidup baru memberikan banyak pelajaran kepada saya. Memberikan arti-arti dari kehidupan. Memberikan sebuah perputaran kehidupan yang harus di jalani. Pastinya memberikan tambahan catatan jalan cerita dalam kehidupan saya. Membuat pribadi saya sendiri menjadi pribadi yang benar-benar baru untuk melanjut menulis cerita di buku kehidupan saya. 

Hal yang tentunya tidak akan pernah saya lupakan untuk selamanya. Karena memang ini jalan kehidupan saya. Jalan kehidupan yang tidak bisa dihapus secara sengaja, harus diingat walaupun pahit rasanya. Karena memang semuanya memberikan pelajaran untuk kehidupan saya kedepannya. 

Saturday, February 21, 2015

Cerita Saya Hari Ini (4)

Beberapa hari lalu, teman saya bertanya kepada saya. Dia bertanya untuk meminjam harddisk saya. Harddisk yang saya ambil dari laptop lama saya. Masih berfungsi dengan baik, jadi saya ambil dan saya jadikan sebuah media penyimpanan saya yang besar. Memang lebih besar banget dari keseluruhan flashdisk yang pernah saya punya.

Suatu hal yang jarang memang, teman saya pinjam harddisk saya. Untuk ukuran sebuah file jaman sekarang, sebuah flashdisk cukup untuk menyimpan itu. Bahkan bisa menampung beberapa film sekaligus. Atau beberapa game sekaligus. Tapi entah kenapa dia justru meminjam harddisk saya.

Karena saya tidak mampu menolak, ya saya pinjamkan harddisk saya. Dia memberitahu saya jika dia meminjam harddisk saya untuk men-copy film. Ya saya pesan kepada dia, kalo film yang @$@$#%#@! jangan di simpan di harddisk saya, angsung di hapus saja. Tapi saya tahu kalo dia gak mungkin juga copy film yang seperti itu. Karena memang kami berdua bukan maniak film seperti itu.

Waktu itu, dia datang ke kamar kos saya malam hari. Sekitar pukul 9 malam. Tepat setelah saya pulang dari warung buat beli makan malam saya. Setelah dia datang, langsung saja saya berikan harddisk saya. Lalu dia pulang. Sebelumnya dia janji pinjam sehari.

Malam berikutnya, saya BBm dia. Kalo udah selesai ya cepetan dibalikin. Saya juga bilang, filmnya jangan dihapus kalo bagus. Dia setuju dengan itu. Beberapa waktu kemudian, dia datang sendiri jalan kaki ke kamar kos saya. Langsung dia kembalikan harddisk saya. 

Setelah saya buka, isinya acak-acakkan. Bukan acak-acakkan, tapi hanya bertambah banyak. Kebanyakan isinya film yang memang belum pernah saya tonton sebelumnya. Mungkin ada puluhan film baru disana. Hampir semua film produksi dari Jepang. Beberapa diantaranya drama Jepang TBS lainnya Movie. 

Hal itu membuat pekerjaan saya tambah banyak. Yaitu menonton itu semua. Sudah dua hari dan belum selesai saya menonton semuanya. Baru sebagian saja. Memang isinya menarik semua. Dan tidak ada film !$#@!$#@! sejauh ini saya menontonnya. Kalaupun ada, saya akan hapus. Sudah cukup banyak dosa saya lakukan di dunia, dan tidak ingin film seperti itu menambah dosa saya.


Wednesday, February 18, 2015

Muhammadiyah

Muhammadiyah, organisasi masyarakat dalam bidang keagamaan dan juga kemasyarakatan yang didirikan sejak dahulu kala di kawasan Kauman, Jogja oleh KH. Ahmad Dahlan. Bisa dibilang salah satu organisasi tertua yang pernah ada di Indonesia. Organisasi yang tidak hanya bergerak dalam bidang keagamaan, tapi juga kemasyarakatan bahkan kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Semua ada dalam Muhammadiyah.

Muhammadiyah merupakan organisasi yang menganut apa yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka dari itu, diberi nama Muhammadiyah yang berarti pengikut Nabi Besar Muhammad Saw. Menjadikan orang-orang yang ikut dalam Muhammadiyah, dituntun untuk selalu mengikuti apa yang sudah diajarkan serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. 

Salah satu organisasi masyarakat yang hampir serupa ialah Nahdatul Ulama. Keduanya sama-sama memiliki tujuan yang sama. Hanya saja cara yang digunakan berbeda. Berbeda dalam penggunaan dasar yang dianut. Tapi sama-sama diperbolehkan karena ada banyak dasar yang bisa diikuti, dan semuanya sama-sama benar. 

Berbicara tentang Muhammadiyah, keluarga saya semuanya orang Muhammadiyah. Dan bisa dibilang saya juga seorang Muhammadiyah. Ayah saya seorang yang aktif dalam kepengurusan Muhammadiyah sewaktu muda. Dan hingga sekarang masih saja aktif dalam organisasi Muhammadiyah. Bisa dibilang Muhammadiyah dan keluarga saya tidak bisa dipisahkan. Semuanya sudah melebur menjadi satu.

Saat ini, saya sedang berada di Jogja. Tempat dimana Muhammadiyah didirikan pertama kali oleh KH. Ahmad Dahlan. Membuat saya seperti tidak berada di tempat yang asing walau memang di sini bukan lah tempat asli saya tinggal. Tapi karena Muhammadiyah lah, saya seperti berada di lingkungan sendiri. Tanpa ada sesuatu yang berbeda. 

Bahkan, bisa dibilang justru Muhammadiyah di sini lebih Muhammadiyah di tempat asli saya, Lampung. Ya karena memang di sini sebagai pusat dari Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Tempat di mana Muhammadiyah dilahirkan dan diperjuangkan hingga sekarang. Tempat di mana Muhammadiyah menjadi awal mula pencerah umat Islam di Indonesia. 

Keluarga saya memang keluarga yang Muhammadiyah. Tapi bukan berarti keluarga saya asli dari Muhammadiyah. Keluarga besar Ibu saya, merupakan keluarga Nahdatul Ulama. Tapi karena ikut dengan Ayah saya, jadi keluarga saya keluarga Muhammadiyah. Suatu perbedaan yang indah. Membuat saya bisa mengenal bagaimana di luar Muhammadiyah.

Walau saya seorang Muhammadiyah, tapu saya masih bisa dibilang minim pengalaman dalam keaktifan saya di organisasi Muhammadiyah. Hingga sekarang, saya hanya aktif di sekitar lingkungan tempat tinggal saya. Terjun ke masyarakat dengan seadanya. Dan belum terjun dalam pengelolaan keorganisasian Muhammadiyah. 

Mungkin suatu saat saya akan terjun dalam pengelolaan keorganisasian Muhammadiyah. Membuat saya lebih bahagia tentunya. Tapi saat ini saya masih belum punya waktu yang cukup banyak untuk bisa ikut mengelola serta memperjuangkan Muhammadiyah. Walau begitu, saya yakin Muhammadiyah akan selalu tetap menjadi pencerah umat Islam di Indonesia. 

Monday, February 16, 2015

Film Religi

Beberapa hari lalu, kakak laki-laki saya datang mampir ke kamar kos saya. Dia datang untuk menginap semalam di sini. Ketinggalan kereta lah penyebabnya. Sebenarnya, dia akan berkunjung ke rumah kakak perempuan saya. Tapi karena kereta sudah berangkat lebih dulu ketimbang pesawat yang ditumpanginya mendarat, maka dia menginap di kamar kos saya untuk semalam dan pergi ketika pagi esoknya. 

Hal yang saya dapatkan ketika dia tidak sengaja datang untuk menginap di sini, saya mendapat beberapa film baru dan agak lama yang belum saya tonton sebelumnya. Film yang rata-rata dibuat di tahun 2014 lalu. Beberapa film berbentuk animasi 3D dan lainnya film religi dan film sejarah. Kesemuanya langsung saya copy di dalam harddisk saya. 

Semalam berada disini, kami berdua menonton film animasi 3D keluaran Disney yang belum pernah kami tonton sebelumnya. Big Hero 6, itulah judulnya. Film yang ternyata memang asyik dan layak diberi bintang karena kualitas filmnya dari segi animasi maupun segi cerita. Semua nya terlihat mengagumkan dan memang belum pernah ada sebelumnya. Dan yang terpenting film tersebut mempunyai banyak hikmah yang bisa di ambil berdasar cerita dari film tersebut. 

Semakin malam, kakak saya tidur begitu saja. Wajar, karena dia baru saja tiba di Jogja dari Jakarta. Memang dia sering bolak-balik Surabaya - Jakarta untuk melaksanakan tugas pekerjaannya. Kadang kala dia mampir ke Jogja untuk bertemu keluarga, seperti saat ini. 

Ketika dia beristirahat, saya melanjutkan film-film yang sudah saya copy sebelumnya. Film bertema religi yang saya tonton selanjutnya. Film yang ternyata memang populer di Indonesia dan bahkan mendapat kehormatan diputar di Amerika yang notabene negara muslim menjadi kaum minoritas. 

Bercerita tentang perjalanan suami istri yang beragama Islam mengarungi hidup berumah tangga di benua Eropa yang juga muslim menjadi kaum minoritas. Semua hal yang terjadi tentang bagaimana mereka memandang seorang muslim diperlihatkan dan diceritakan. Dari yang memang diremehkan hingga di kenal baik. Semua tergambar dalam film itu. 

Ketika saya menonton film itu, sempat terlintas di fikiran saya tentang mereka pemeran-pemeran film religi itu. Dimana mereka yang bukan seorang suami istri dalam dunia nyata harus berperan menjadi suami istri dalam dunia akting. Hal yang memang kontradiksi dengan yang terjadi sebenarnya. 

Sebuah kontradiksi juga terjadi dalam fikiran saya. Dimana tujuan pembuatan film religi sudah pasti untuk memberikan hikmah tentang keagamaan kepada para penontonnya. Memberikan kesan serta pelajaran bagaimana menjalankan agama yang baik dan benar dalam kehidupan nyata. Tapi justru dalam film itu, yang pemeran utamanya dua pasang manusia yang harus berperan menjadi suami istri melakukan sentuhan-sentuhan yang sebenarnya dilarang dalam agama itu sendiri.

Dalam perspektif lain, bisa dibilang "sebuah film yang dibuat untuk memberikan pelajaran tentang agama tetapi dibuat dengan cara yang menentang agama". Dan itu memang nyata saya lihat dari film itu. Setelah saya fikir lebih mendalam, malah bukan hanya film itu saja yang mencerminkan kesimpulan tadi. Banyak film-film religi lainnya yang dibuat dengan menentang agama. Dan itu memang terjadi di Indonesia.

Memang sudah menjadi hal asing melihat dua orang pasangan yang belum terikat dalam sebuah ikatan bersentuhan secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Tapi bagi saya, itu sebuah kesalahan besar yang dikecil-kecilkan. Sering dianggap sepele dan hanya angin bertiup saja, tanpa ada yang bisa menangkapnya. 

Sebuah ironi bagi pandangan saya. Seperti menyuruh orang lain taat dalam agama tapi justru dia sendiri tidak taat pada agama malah justru dia sendiri yang menodai agama itu. Andai semua orang termasuk mereka para pelaku figur-figur pembuat film ataupun figur lainnya mempunyai pemikiran yang sama terhadap saya, pasti tidak akan terjadi hal-hal yang bertolak belakang seperti itu kedepannya. 

Tapi manusia memang tetap manusia. Sulit untuk mengubah manusia jika tidak ada kemauan untuk berubah dalam pikiran dan hati pribadi masing-masing. Semoga Tuhan lah yang membuat dan membantu mereka untuk berubah.

Saturday, February 14, 2015

Twitter

Beberapa hari lalu saya sudah memberikan opini saya tentang media sosial Facebook. Opini yang lahir dari pengalaman-pengalaman saya selama menggunakan media sosial itu. Pengalaman yang sengaja saya bagi kepada semuanya, tentang apa yang sudah saya lalui selama 4 tahun lebih menjadi pengguna Facebook.

Kini memang bisa dibilang saya lebih condong aktif di Twitter ketimbang Facebook. Saya memang lebih dulu mengenal Facebook ketimbang Twitter. Itu karena memang ketenaran Twitter masih belum mampu menyaingi Facebook hingga sekarang ini. Tapi setelah saya menggunakan Twitter karena coba-coba, saya malah menemui kecocokan dengan media sosial yang satu ini.

Twitter, media sosial yang saya ikuti sejak tahun 2011 karena coba-coba dan ikut-ikut saja. Semua mengalir begitu saja tanpa sebuah jalan cerita yang tetap. Twitter bagi saya merupakan sebuah media sosial yang sangat berguna bagi saya. Berkat Twitter, saya lebih sering ngobrol dengan bule luar negeri. Membuat saya harus benar-benar berimprovisasi dalam berkomunikasi dengan mereka. Tentunya dengan bahasa Inggris. Walau ada salah satu orang asli Jepang yang mahir berbahasa Indonesia. Saya juga sempat ngobrol dengannya yang ternyata dia suka dengan alam bawah laut Indonesia.

Setelah saya coba-coba menggunakan Twitter, saya sempat tidak membuka dan mengelola akun saya di Twitter untuk beberapa bulan. Cukup mendafarkan akun, dan saya tinggalkan. Itu karena memang Twitter masih belum familiar dikalangan teman-teman saya. Jadi masih cukup susah berhubungan dengan mereka melalui Twitter.

Setahun berlalu, saya mulai mencoba mempelajari bagaimana Twitter bekerja dan mulai mengelola akun saya itu secara rutin. Saya juga mulai memperkenalkan Twitter ke teman-teman saya, agar mereka mengenal apa itu Twitter sekaligus sebagai alibi agar saya punya teman ngobrol di Twitter. Cukup susah memang mengenalkan Twitter. Tapi seiring waktu, mereka kini juga aktif di Twitter.

Twitter sangat berbeda dengan Facebook dulu. Dan bisa dibilang Facebook mencontoh beberapa fitur Twitter di sistemnya. Tapi entah kenapa malah Twitter beberapa waktu lalu mencontoh balik tampilan dinding Facebook. Membuat tampilan Twitter menyerupai tampilan Facebook. Itu menjadi hal yang saya tidak sukai di Twitter. Saya menyukai Twitter karena memang Twitter menyediakan fitur yang sederhana. 

Fitur yang mudah dimaksimalkan karena kesederhanaannya. Dan itu sesuai dengan pribadi saya, membuat saya cocok dengan Twitter. Kini memang sudah banyak pengembangan yang terjadi di Twitter. Membuat Twitter tidak sesederhana seperti dulu. Tapi masih memunculkan kesan sederhana dan eksklusif hingga sekarang. Membuat saya masih betah menggunakan Twitter sehari-hari.

Twitter telah membantu saya banyak hal. Salah satunya, membuat saya terus mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris saya yang bisa dibilang di bawah standar. Tapi sesuai berjalannya waktu, kemampuan bahasa Inggris saya terus meningkat karena saya merupakan salah satu sukarelawan dalam pusat penerjemahan Twitter ke dalam Bahasa Indonesia hingga sekarang. 

Sebuah hal yang tidak saya dapat dari media sosial lain termasuk Facebook. Dan itu sangat berharga bagi saya dan masa depan saya tentunya. Membuat saya lebih komunikatif dalam menyampaikan pesan menggunakan bahasa Inggris. Dan juga membantu saya dalam bidang pendidikan khususnya dalam pelajaran bahasa Inggris.

Twitter terus update detik demi detik. Membuat kicauan orang-orang berlalu bagai kabar cepat. Membuat kita tidak jenuh karena memandangi sebuah tulisan yang sama untuk waktu yang lama. Dan itu terjadi di media sosial Facebook. Membuat saya juga bosan menggunakannya. Saya berharap kedepannya, Twitter tidak kehilangan sifat kesederhanannya dan keeksklusifannya sehingga membuat saya terus betah menggunakannya. 

Friday, February 13, 2015

Pengorbanan Orang Tua

Sekarang ini saya paham jika bulan Februari itu memang bulan yang berat bagi orang tua yang memiliki anak yang sedang melanjutkan study di jenjang perguruan tinggi. Bulan Februari menjadi bulan yang berat karena pada bulan Februari, para orang tua itu akan menghambur-hamburkan uang dalam bidang pendidikan yang sedang dijalanin oleh anak-anaknya. Termasuk orang tua saya.

Membiayai anaknya untuk menggapai cita-cita melalui bidang pendidikan. Berharap agar anaknya menjadi pribadi yang lebih maju dan berhasil dari apa yang sudah dicapai oleh orang tua. Semua orang tua pasti berharap seperti itu. Dan saya yakin, orang tua saya juga sedang berharap seperti itu.

Mereka berkorban dengan materi ketika fase ini. Berkorban yang tidak sedikit dan bisa dibilang sangat banyak, demi masa depan yang lebih cerah untuk sang anak. Dan itu yang saya rasakan sekarang ini tentang pengorbanan orang tua saya dengan materi untuk membiayai pendidikan saya saat ini. Pendidikan yang diharapkan oleh orang tua saya, agar hidup saya kelak tidak seperti apa yang tidak diinginkan oleh semua orang.

Semua anak yang sedang belajar di perguruan tinggi pasti juga berpikiran demikian. Karena memang itu sudah menjadi hal wajib bagi kita semua. Mau tidak mau pasti kita mengalami itu ketika kita belajar di sebuah perguruan tinggi yang keseluruhan biaya pendidikan dibayar sepenuhnya oleh orang tua. Membuat kita semua menjadi ragu-ragu untuk menatap dan meraih masa depan, karena sudah merasa takut dengan kata membalas segala jasa orang tua yang telah mengeluarkan seluruh tenaga batin, fisik, serta materi untuk si anak.

Selama hidup saya, rasa membebani orang tua selalu ada. Dan entah kenapa kali ini, terasa yang paling banyak saya membebani orang tua saya dalam hal materi. Karena memang baru kali ini, orang tua saya mengeluarkan nominal yang sangat besar untuk membantu saya menaklukan apa yang namanya masa depan.

Sebuah beban mental bagi saya sekarang ini untuk membalas secara maksimal seluruh usaha yang sudah diberikan orang tua saya kepada saya. Dan pasti bukan hanya beban mental saya saja, tapi juga beban mental seluruh anak yang mengalami hal sama dengan saya. Sebuah beban yang hanya bisa terlepas jika dihadapi dengan setulus hati dan semangat pantang menyerah. Itu kunci yang memang sangat cocok untuk mengatasi beban mental yang hadir dalam kehidupan ini.

Saya tidak tahu apa saya bisa mengatasi beban mental itu. Walau memang saya tahu bagaimana kunci-kunci untuk mengatasinya. Tapi bagi saya, masa depan tidak semudah akan apa yang saya bayangkan sekarang ini. Mulai sadar dan paham jika masa depan itu suatu hal yang harus benar-benar di perjuangkan agar sesuai bayangan dan sesuai dengan apa yang diinginkan. 

Saat ini saya hanya bisa berdoa serta berusaha. Berharap masa depan saya bisa secerah bulan purnama yang selalu saya lihat ketika menampakkan diri. Berharap masa depan saya bisa seterang matahari pagi dilangit yang cerah. Berharap masa depan saya berkilau seperti bintang dimalam hari. Berharap masa depan saya bisa membuat orang tua saya tersenyum manis. Serta berharap agar masa depan saya yang hebat itu bisa dirasakan oleh semua orang. 

Wednesday, February 4, 2015

Facebook

Sudah beberapa bulan ini, saya tidak mengkonfirmasi mereka-mereka yang meminta "pertemanan" kepada saya di facebook. Terkecuali yang saya tahu siapa dia, seperti seorang blogger atau teman kampus. Tapi justru kebanyakan malah orang-orang bertipe random yang meminta hubungan pertemanan kepada saya. Dan entah kenapa tipe random itu justru condong ke tipe negatif.

Tipe negatif bag saya seperti seorang labil, remaja alay atau orang-orang yang masih baru mengenal media sosial. Itu semua golongan yang saya hindari untuk sebuah pertemanan di facebook. Saya tidak keberatan sebenarnya mengeklik tombol konfirmasi, tapi yang membuat saya enggan melakukannya justru tingkah orang-orang tersebut. 

Sepertinya saya sudah bisa membaca tingkah laku seseorang difacebook hanya dengan melihat foto profil dan juga namanya. Sebuah hal yang memang tidak selalu konkrit. Tapi itu sudah menjadi dasar bagi saya untuk mempertimbangkan sebuah jalinan pertemanan di media sosial facebook. 

Kebanyakan dari mereka hanya mencurahkan isi hati tentang hubungan percintaan mereka yang dialami di dunia nyata. Justru ada banyak orang yang sudah mencurahkan hatinya dengan tulisan-tulisan EYD versi mereka, bukan EYD versi saya ataupun Indonesia. Dan itu yang paling saya benci. 

Semua tingkah laku golongan seperti mereka, bagi saya hanya akan membuat beranda saya seperti tempat kumuh yang kaya akan sampah-sampah berserakan. Dan saya perlu melakukan pembersihan total untuk itu. 

Memang sudah hak masing-masing individu untuk menulis apa saja di media sosial mereka. Tapi setidaknya mereka harus belajar akan apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya di bagi ke dalam media sosial mereka. Mereka harus memiliki penyaring untuk itu.

Melakukan pembersihan sudah saya lakukan sejak beberapa bulan lalu. Dengan cara memutuskan hubungan pertemanan dengan mereka. Akun saya yang sudah lima tahun beroperasi, masih mempunyai 700 orang teman. Dan masih banyak golongan seperti mereka di pertemanan facebook saya. Ketika mereka muncul dalam beranda facebook saya, pasti akan saya putus hubungan pertemanan itu tanpa pikir panjang siapa dia. Dan itu sudah saya lakukan berulang kali.

Memang kejam jika itu dilakukan di dunia nyata. Memutuskan sebuah jalingan petemanan yang terjalin. Tapi jika itu dilakukan dalam media sosial facebook, hasilnya akan tampak lebih baik. Facebook akan menjadi jernih, tanpa ada satupun sampah yang berserakan. Dan sampah-sampah yang dibuang itu, akan menjadi satu golongan tersendiri. Mereka akan membentuk sebuah komunitas secara sendiri. Hingga kesadaran lah yang akan membuat mereka keluar dari komunitas itu, dan berpikir bahwa komunitas mereka hanya dipenuhi oleh sampah yang berserekan dan sudah dibuang.

Saya dulu pernah termasuk dalam golongan sampah itu, dan kini saya sudah sadar bahwa golongan itu memang benar-benar sampah yang ada dalam kehidupan media sosial saya. Dan ketika saya sadar, memutus jalinan pertemanan lah cara yang paling tepat untuk keluar dari golongan itu dan menjadi golongan yang lebih baik lagi.

Seharusnya kesadaran itu dimiliki setiap pribadi sejalan dengan perkembangan umur mereka yang semakin dewasa. Semakin baik untuk menyaring apa yang ada di media sosial. Tapi beberapa orang pun justru malah tetap seperti itu, walau usia mereka sudah seharusnya memiliki kesadaran tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya. 

Semua memiliki hak berbagi, tapi setiap orang juga harus memiliki penyaring untuk itu. 

Monday, February 2, 2015

Mati dan Mati

Mati suatu keadaan yang semua orang pasti akan mengalaminya. Mati ditakuti semua orang karena sifatnya, tak terduga dan bersifat "perjalanan searah". Sesudah mati, ya tidak bisa balik lagi. Itu yang membuat semua orang pasti berdebar mendengar mati, begitu juga dengan saya.

Mati juga sebuah proses dimana kita semua tidak bisa lagi mempersiapkan keadaan selanjutnya. Hanya bisa menunggu dan menjadi orang yang tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa memohon keselamatannya. Semua orang akan mengingat mati, jika mati menghampiri orang-orang disekelilingnya. Semua pasti berdebar mendengar atau melihatnya.

Mati merupakan sebuah perpisahan yang juga sebuah jalan baru. Perpisahan akan kehidupan kita di dunia. Kehidupan dimana kita mengenal yang namanya saudara, keluarga, sahabat, teman dan pribadi-pribadi lainnya. Kehidupan dimana kita mengenal sebuah ikatan, cinta, serta kasih sayang terhadap sesama. Kehidupan yang juga dimana kita mengenal akan benci, dosa, dan hal-hal buruk lainnya.

Mati menjadi jalan baru tatkala kita sudah mengalaminya. Mati membuka gerbang akan keabadian yang kekal di kehidupan selanjutnya. Mati juga yang nantinya akan membuat kita bahagia atau malah menyesal akan apa-apa yang sudah kita lakukan di dunia. Bahagia karena kita telah berbuat hal yang baik atau menyesal karena kita tak sempat berbuat baik. Semua terangkum dalam cerita kehidupan kita ketika kita mati kelak.

Kita kadang lupa kalau kita akan mati. Semua kesenangan kita lakukan di dunia semasa hidup. Tak peduli hal itu baik atau buruk. Lupa akan mati membuat kita tambah sengsara jika kita sudah mati. Membuat kita bakal dibayang-bayangi dengan rasa penyesalan. Rasa yang datang ketika sebuah akhir tiba.

Mati memang tidak untuk ditakuti, tapi diingat. Manusia tidak bisa hanya sekadar mengingat mati, juga pasti akan takut menghadapi yang namanya mati. Saya pun juga begitu. Mati membuat segala sesuatu yang sudah kita rasakan di dunia menjadi terputus dan hilang. Meninggalkan kenangan dalam sebuah memori kehidupan. Hanya bisa diingat tanpa bisa diulangi lagi.

Mati bagi sebagian orang yang berlaku baik, akan menjadi sebuah gerbang kebahagiaan yang kekal di kehidupan selanjutnya. Tidak semata-mata hanya menawarkan penyesalan atau hal yang ditakuti saja. Mati bagai sebuah air dalam botol. Akan mengikuti wadahnya. Wadahnya ialah perilaku kita di dunia.

Ketika kita mati nanti, semoga kita bisa merasakan kebahagiaan yang kekal di kehidupan selanjutnya. Tidak berharap menemukan sebuah penyesalan ketika kita mengalaminya. Waktu yang menentukan kapan itu terjadi. Yang jelas kita hanya bisa bersiap-siap tanpa ada pemberitahuan kapan sebuah akhir ditentukan. Kita hanya bisa menerka tanpa bisa melihat sebuah kepastian.
Published By Irfan Fahrurrozi