Saturday, January 31, 2015

Mimpi Buruk

Terbangun, cara manusia melepaskan diri dari yang namanya mimpi buruk. 
Mimpi buruk selalu hadir di tengah-tengah kita. Selalu menghantui juga selalu membayangi bayang-bayang tidur kita sepanjang malam. Memberikan sebuah peringatan jika kita bisa menghadapi sesuatu dengan tanpa daya. Hanya melihat serta melakukan apa yang diperankan. Mimpi buruk juga memberi kita pelajaran.

Hal yang tidak pernah disangka-sangka kebanyakan orang tentang mimpi-mimpi buruk yang dialaminya. Banyak yang sekadar melupakan mimpi buruk yang sudah dialami. Seakan-akan mimpi itu tidak berarti dan hanya menjadi secuil ketegangan yang dialami ketika tidur. Saya percaya semua yang ada di dunia ini, pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Sekecil apapun itu, selama itu pemberian Tuhan pasti mempunyai arti tersendiri.

Bagi saya mimpi buruk bagai peran antagonis dalam sebuah drama. Tanpa peran antagonis, sebuah drama hanya akan berjalan datar tanpa ada tahap-tahapan cerita. Berlangsung secara membosankan. Tidak akan pernah menemui konflik hingga klimaks. Dan membuat para penonton bingung apa yang bisa dinikmati dalam drama itu.

Mimpi indah bagai peran protagonis. Peran yang baik-baik. Membawa kebahagiaan dalam peran yang dimainkannya. Membuat kita para penonton merasa menang diakhir cerita. Seperti seorang pahlawan. Berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Dan yang harus dialami seorang protagonis yaitu tekanan-tekanan yang dilakukan oleh sang antagonis. Harus bisa menghadapi tantangan yang sewaktu-waktu dilakukan oleh antagonis.

Tanpa itu semua, sebuah drama hanya kosong. Begitu juga dengan alam mimpi. Sebuah alam yang tidak nyata. Tanpa kedua peran "mimpi indah" dan "mimpi buruk" maka alam itu hanya akan berakhir dengan kekosongan belaka. Hanya berlalu tanpa ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap konflik yang harusnya hadir dalam alam itu. 

Berkat mimpi indah dan mimpi buruk, alam mimpi menjadi tidak kosong. Tapi berisi makna-makna juga pelajaran hidup tersendiri. Pelajaran yang ditujukan untuk masing-masing pribadi yang mengalaminya. Membuat kita harus pandai-pandai menarik pelajaran dalam sebuah mimpi. 

Alam mimpi sudah berwarna dengan kedua peran mimpi itu. Itulah kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa mendustakannya. Ciptaan-Nya selalu mempunyai hikmah. Sekecil atau seburuk apapun itu, semua ada pelajaran tersembunyi yang harus manusia ambil. 

Sudah saatnya kita tidak mengabaikan mimpi-mimpi kita. Walau itu mimpi buruk sekalipun. Karena pasti ada pelajaran dibaliknya. Itulah kuasa Tuhan. Itulah skenario yang Tuhan ciptakan untuk makhluknya.

Tuhan Maha Asyik

Friday, January 30, 2015

Jalan Kehidupan

Jalan kehidupan selalu ada dalam kehidupan semua makhluk-Nya di bumi. Tidak hanya dikhususkan kepada manusia saja yang selalu menyandang sebagai ciptaan yang paling sempurna diantara makhluk ciptaannya yang lain. Sandangan sebagai makhluk yang sempurna harusnya dijaga baik-baik.

Jalan kehidupan manusia menjadi momok bagi seluruh manusia itu sendiri. Banyak yang takut menatap ke depan melihat jalan cerita yang bakal dihadapinya. Kebanyakan jalan itu selalu berisi hambatan atau rintangan, yang jelas berisi hal-hal yang negatif. Sesuatu yang membuat semua yang melihatnya bakal menunduk pesimis, kehilangan kepercayaan diri ataupun kehilangan semangat untuk terus hidup.

Banyak yang berpendapat jalan kehidupan itu seperti cerita yang tidak bisa diubah. Sudah ditetapkan oleh si pembuat cerita. Dimana awal cerita dan akhir cerita menjadi pembatas. Dan isi cerita hanya berisi drama yang membuat semua orang bermimpi buruk. Hal terakhir yang dilakukan pasti menyalahkan si pembuat cerita. Seakan-akan pembuat cerita hanya memberikan derita dalam isi ceritanya tanpa memberi kebahagiaan.

Itulah anggapan kebanyakan manusia. Selalu berfikir negatif akan apa yang sudah ditetapkan. Beranggapan sesuatu yang sudah ditetapkan tidak bisa dirubah. Harus menjalani semua derita kehidupan tanpa ada rasa kebahagiaan didalamnya. Menyalahkan Tuhan sebagai pembuat cerita menyedihkan itu. 

Sedikit manusia berfikir jernih akan jalan kehidupannya. Berfikir jernih diperlukan dalam segala hal di dunia ini. Dunia yang perlu pengamatan dalam melakukan peran kita. Mereka yang berfikir jernih pasti tidak akan menemukan sebuah ketakutan maupun keraguan dalam menjalani kehidupan mereka. Tidak akan pernah mengeluh bagaimana Tuhan memberikan jalan kehidupan kepada mereka, walau seburuk apapun itu. 

Mereka selalu punya cara tersendiri menjalani kehidupan. Mempunyai cara yang unik yang akan merubah jalan yang suram menjadi jalan yang menyenangkan dengan segala tantangan yang dilaluinya. Membuat energi positif selalu datang pada dirinya. Ikut membantu menghadapi rintangan atau cerita yang sudah digariskan-Nya. 

Tidak pernah menyalahkan-Nya, karena mereka tahu jika tidak begitu, tidak akan ada usaha untuk membuat jalan kehidupan yang lebih baik. Tidak ada usaha untuk menghadapi tantangan yang ada. Di dunia ini, proses tidak akan menghianati hasil. Semua sudah dibakukan dalam dunia ini. Proses yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. 

Membuat proses yang baik dalam jalan kehidupan itu, pasti juga akan menghasilkan sesuatu yang baik di akhirnya. Sesuatu yang sudah pasti akan membahagiakan kita semua. Membuat segala tantangan yang dulu menghadang menjadi sebuah keindahan yang tak ternilai. 

Pada akhirnya, menghadapi jalan kehidupan hanya cukup dengan berfikir jernih. Karena segala sesuatu harus menggunakan fikiran yang jernih. Banyak yang sudah merasa gagal padahal belum melakukan apa-apa. Banyak yang belum melihat keadaan tapi sudah merasakan ketakutan. Semua datang dari fikiran yang terpengaruh. Membuat fikiran kita berguna, berarti kita mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan pada kita. 

Thursday, January 29, 2015

Cerita Saya Hari Ini (3)

Ketika saya menulis ini, bertepatan dengan kedatangan sebuah Duo Gitaris favorit saya di Indonesia, Depapepe. Bisa dikatakan sebagai idola saya. Karena setiap hari memang saya senang mendengarkan lagu-lagu ciptaan mereka yang hanya menggunakan alunan dua gitar disertai dengan instrumen lain tanpa dibubuhi lirik di setiap lagunya. Suatu hal yang berbeda dengan musik-musik biasanya. Dan saya suka itu.

Sayangnya saya tidak bisa melihat mereka tampil besok. Saya masih belum mampu mengeluarkan uang yang saya punya untuk menonton idola-idola saya. Hingga saat ini saya masih menggunakan media internet untuk mendapat konten-konten yang idola saya ciptakan. Bisa dibilang 100% saya selalu melakukan hal ilegal yang berhubungan dengan idola-idola saya, men-download konten-konten yang mereka ciptakan. 

Sudah pasti saya bukan fans setia yang selalu mendukung idola-idolanya dengan membeli produk-produk original-nya. Yah, saya bukan berarti tidak mendukung. Hanya saja saya tidak ingin melibatkan orang tua saya untuk membantu saya membeli apa yang idola-idola saya ciptakan. Sudah cukup bagi saya membebani orang tua saya.

Walau begitu, saya juga fans yang ingin bertemu idolanya. Dan mungkin "pintu kemana saja" milik doraemon jadi solusi bagi saya. Seandainya alat itu memang ada di kehidupan saya, pasti akan saya gunakan untuk bertemu mereka para idola saya.

Sebenarnya saya membenci hal-hal yang berkaitan dengan pembajakan. Perbuatan yang bagi saya sangat tidak terhormat. Juga hal itu membuat si pembajak tidak menghargai karya-karya seseorang yang sudah bersusah payah menciptakan karya dengan sepenuh hatinya. Sebuah kontradiksi bagi saya. Disamping saya membenci perbuatan itu, saya masih tetap terus menggunakan konten-konten bajakan walau konten itu berasal dari sebuah karya original. 

Tapi agar saya bisa mendapatkan karya-karya idola saya, ya saya harus menggunakan konten-konten bajakan itu. Saya masih belum mampu mendapatkan karya mereka dengan keringat saya sendiri. Dan saya juga tidak ingin orang tua saya menjadi tambah terbebani demi kebutuhan saya yang bisa dikatakan tidak penting.

Impian saya saat ini masih ingin bertemu mereka para idola saya. Tidak hanya Depapepe saja, tapi juga idola-idola saya lainnya. Saya sebenarnya juga berharap agar idola-idola saya menjadi saingan saya suatu hari nanti. Hingga mereka lah yang akan membeli karya-karya saya. Bukan hanya saya saja yang membeli karya-karyanya. 

Itu masih menjadi impian saya saat ini. Saya juga berharap bisa bertemu mereka tanpa sepeser uang pun yang saya keluarkan. Bagaimana pun caranya yang penting itu halal dan tidak merugikan orang lain pastinya. Semoga Allah mendengar mimpi-mimpi saya ini. 

Tuesday, January 27, 2015

Tahu Lebih Dulu (2)

Sebuah hal istimewa bagi saya ketika saya mendapat anugerah untuk bisa tahu lebih dulu. Tahu tentang sesuatu yang terkadang penting atau terkadang menjadi suatu penentu antara apa yang bakal didapat di masa depan. Terkadang juga tahu lebih dulu hal-hal yang semestinya gak perlu diketahui. Itu yang saya tidak suka. Jika harus tidak diketahui, ya gak perlu untuk mencoba sekedar tahu atau bahkan mencoba untuk tahu lebih dulu.

Tahu lebih dulu yang menjadi faktor penentu masa depan sudah saya alami dari kecil. Dari masa-masa menyenangkan, masa yang belum tau apa arti dari perjuangan. Masa yang cukup biar kan mengalir seperti air. Tanpa berpikir ada apa di depan atau apa yang jadi penghalang. Mengalir hanya sekadar mengamati apa yang dilalui, apa yang terlihat di sekitar, dan apa yang terlewat.

Tahu lebih dulu yang terjadi pada saya, membuat saya menjadi sumber nomer satu. Sumber dari segala pertanyaan teman saya, akan hal-hal yang bersifat formal dan umum. Hal-hal yang akan mempengaruhi masa depan saya dan mereka.

Hal yang saya tidak suka menjadi tahu lebih dulu, ketika saya gak boleh membuat teman saya menjadi tahu tentang apa yang saya tahu lebih dulu. Saya bukan tipe orang gak memberi teman-teman saya hal yang saya tahu. Berbagi membawa kebahagiaan, hal yang pasti terjadi. Melanggar aturan demi berbagi, sudah saya lakukan.

Melanggar aturan yang dibuat manusia demi kebaikan manusia. Sebuah pelanggaran pastinya. Pelanggaran yang sudah saya lakukan karena prinsip hidup. Jika sudah menjadi prinsip, yang namanya aturan ya jadi gak penting. Yang terpenting prinsip itu terlaksana, gak peduli konsekuensi kedepan atau yang mungkin bakal dihadapi. Itulah manusia, dan saya pun manusia.

Jika saya tidak tahu lebih dulu kala itu, pasti saya gak bakal melanggar aturan itu. Tapi sudah anugerah-Nya saya dikasih tahu lebih dulu. Anugerah yang memang gak bisa saya atau manusia lain tolak. Pemberian-Nya ya wajib diterima dan harus disyukuri tentunya. Bukan seperti mereka yang gak berakal. Gak pernah kenal kata 'terima kasih'.

Walau itu yang membuat saya melanggar, tapi itu tetap hal yang istimewa. Anugrah itu hal yang istimewa. Saya melanggar bukan karena anugerah yang sudah saya terima. Tapi karena prinsip hidup saya yang melihat dari dua sisi atau pihak. Bukan hanya dengan sebelah mata tanpa memandang sekitar.

Dua orang teman saya sudah mendahului saya. Menuju kehidupan selanjutnya. Ya semoga yang pernah saya bagi ke mereka, menjadi hal baik bagi mereka. Membagi hal yang istimewa dan tak ternilai harganya. Begitu apa yang sudah mereka bagi kepada saya. Anugerah yang mereka terima. Hal-hal istimewa yang mereka dapat dari-Nya.

Namanya juga manusia. Gak bisa hidup sebatang kara. Manusia ya harus sosial. Harus berbagi. Dan itu yang jadi prinsip saya. Semua kan bukan cuma milik sendiri atau pribadi. Tapi sebagian juga milik mereka, orang lain. Saya juga mencoba membagi sebanyak mungkin anugerah yang saya dapat. Mencoba membuat orang lain merasakannya.

Anugerah yang sebenarnya bisa didapat semua orang. Bukan hanya pada saya saja. Bisa didapat dari usaha. Mencoba menemukan hal baru dalam kehidupan. Tahu lebih dulu bersifat umum dan abadi serta tak terhingga tentunya. Tapi tetap harus memahami sesuatu dari kedua sisi yang berbeda, memandang dengan dua mata dan bersifat tidak membeda-bedakan.

Sunday, January 25, 2015

Anugrah Ngeblog

Dulu saya pengen banget blog saya bisa menghasilkan. Bukan cuma sekadar ngasih pelayanan cuma-cuma ke para pembaca. Jadi target saya ya blog itu harus ada iklannya. Ngeblog dari kelas dua SMP. Awalnya coba-coba. Itu karena saya tau ternyata kakak saya punya blog. Jadi di bayangan saya keren kalo misal saya punya blog.

Internet itu guru paling pintar dari segala guru. Pintar bikin penggunanya jadi hebat sekaligus pintar bikin penggunanya jadi berlipat dosanya. Ada positif, ada negatif. Condong kemana tinggal kemauan penggunanya saja.

Belajar dari internet tentang cara ngeblog tanpa guru. Bisa dibilang otodidak. Semua memang awalnya coba-coba. Yang penting punya dulu. Dan kenyataanya memang gak sempurna. Hal wajar karena saya memang pemula yang gak tau apa-apa.

Setelah saya punya, saya cuman bisa menerbitkan artikel ketika saya berada diwarnet. Fasilitas pendukung memang saya belum ada kala itu. Dirumah ada sebuah komputer, tapi tanpa koneksi internet. Ngeblog ya harus pake internet. 

Dulu saya masih terobsesi dengan permainan rubik. Sering nonton video rubik, search rekor-rekor rubik, cari rumus cepatnya rubik dan lain-lain. Karena dulu saya terobsesi itu, jadi artikel pertama yang saya terbitin di blog pertama saya judulnya "Manfaat Main Rubik". Masih saya ingat walau sudah beberapa tahun.

Dulu kemampuan ngetik saya masih pemula. Tidak tau dimana letak huruf-huruf keyboard. Dulu saya juga berpikiran kenapa huruf di blog itu acak-acakkan. Tapi sekarang sudah mulai menguasai tombol-tombol keyboardi. Minimal kalo ngetik gak perlu mikir dimana letak hurufnya. 

Satu hal yang disukai blogger pemula, pasti suka pasang widget banyak yang terkesan gak berguna di blog. Begitu juga saya. Ketika nemu widget ya langsung pasang aja. Bisa dibilang sampe keliatan ramenya tampilan blog saya kala itu.

Mulai kesini, saya mulai berkembang. Mulai mendapat pengunjung ratusan bahkan ribuan tiap harinya. Dulu di akhir tahun 2013, saya pernah memposting sebuah artikel tentang JKT48. Hasilnya meledak dalam sehari. 4000 lebih pengunjung dalam sehari pernah saya dapat. Hal yang paling mengesankan selama saya ngeblog.

Karena lalu lintas yang padat, saya kepikiran untuk memberinya iklan. Melakukan pengajuan ke google. Hasilnya negatif. Blog pertama saya itu sangat-sangat tidak memenuhi syarat untuk diterima sebagai pengiklan dari pihak google. Akhirnya saya hanya menggunakan iklan Indonesia yang pastinya penghasilan dari iklan itu sangat kecil.

Saya pun punya beberapa admin dalam blog saya itu. Tapi karena memang blog itu sudah banyak sekali melanggar hak cipta, jadinya google memberi blog itu google penguin. Otomatis blog saya itu langsung turun lalu lintasnya. Dari ribuan menjadi puluhan. Sangat drastis sekali.

Belum lama ini, saya juga melakukan pelanggaran kepada blog saya yang kedua. Dan akhirnya akun blog saya ditutup permanen sampai sekarang. Tanpa ada peringatan apapun. Mustahil jika akun itu kembali lagi.

Akhirnya saya mulai lagi dari awal. Mulai memperhatikan apa-apa saja etika dan hal-hal penting dalam ngeblog. Mulai menargetkan mendapat penghasilan yang besar untuk blog saya. Targetnya google mau beriklan di blog saya.

Kenyataan memang tidak selalu sesuai dengan harapan. 8 kali saya mengajukan blog saya kepada pihak google, 8 kali juga saya ditolak. Dengan alasan yang sama. Tapi saya malah justru mendapat persetujuan untuk mengiklan di Youtube. Sebuah hal yang sangat melenceng dari target saya.

Sampai sekarang masih sedikit pengunjung saluran Youtube saya. Dan masih sedikit pula uang yang saya dapatkan sebagai tabungan. Berkat teman saya lah, menjadi pengiklan google di Youtube. Sebuah pekerjaan yang memang saya tidak pernah bayangkan sebelumnya.

Beberapa hari lalu, saya iseng-iseng mengaitkan akun pengiklan Youtube saya ke blog saya yang notabene sudah di tolak 8 kali. Hasilnya ternyata sama. Hanya ada bayangan putih saja. Tanpa ada iklan satupun yang melekat di blog saya itu.

Namun hari ini, saya coba periksa blog saya itu. Dan ternyata diterima. Sebuah target yang sudah saya idam-idamkan dari saya kelas 1 SMK kini sudah ada ditangan saya. Justru berhasilnya karena tidak sengaja, dan cuma iseng belaka. 

Dan ketika saya pikir-pikir, ternyata saya mendapat 2 sekaligus dari 1 harapan saya. Sebuah nikmat yang memang tak terencana dipikiran saya, tapi Allah lah yang menjadikannya kenyataan. Anugrah yang memang hanya Dia saja yang bisa melakukan.

Di semua proses yang sudah saya lalui, dari mencoba-coba, belajar, mendaftar iklan, research, hingga menunggu sekian lama, akhirnya saya memetik hasilnya juga. Suatu hal yang membanggakan, dikala saya sudah pesimis dengan target saya itu. Terima kasih atas nikmat-Nya. 

Kini saya harus memulai tantangan baru lagi...

Saturday, January 24, 2015

Tahu Lebih Dulu


Sebuah kisah yang dulu pernah saya tulis. Dan memang saya itu bukan seorang yang jenius. Semua orang yang menganggap saya jenius berarti mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena kenyataannya saya bukan seorang yang jenius.

Masa kecil saya, pernah memenangkan perlombaan. Ya, saya sering ikut lomba. Guru-guru saya yang mengirim saya ke lomba. Formal maupun informal. Ketika kecil memang saya pasti mendapat ranking semasa SD ataupun TPA. Suatu hal yang saya tidak tau apa sebabnya. 

Saya tidak pernah belajar ketika malam atau siang, kecuali ketika mau ulangan besoknya. Dan hal itu berlaku sampai sekarang. Tapi entah kenapa saya malah mengungguli mereka teman-teman sadya yang nyatanya belajar setiap malam, walau terkadang itu dipaksa. Wah saya tidak tau kenapa.

Menurut saya semua orang itu jenius. Dan karena semua orang jenius, maka jenius itu tidak ada. Semua orangkan sama. Kenapa membeda-bedakan?. Semua orang juga jenius. Tapi yang membedakan itu bakat. Tergantung bakatnya apa.

Saya selalu mendapat rangking ketika SD atau TPA. Itu bukan karena saya jenius, tapi karena saya tahu lebih dulu. Jika semua teman-teman saya seperti saya, kemungkinan besar saya tidak akan mendapat rangking. 

Tahu lebih dulu, itu kuncinya. Seandaikan semua orang Indonesia tahu lebih dulu ketimbang semua orang luar negeri, saya yakin Indonesia pasti selalu mendapat rangking. Hanya saja orang Indonesia jarang yang tahu lebih dulu. 

Ketika SMP, saya tidak pernah mendapat rangking. Ya karena teman-teman saya yang lainnya tahu lebih dulu ketimbang saya. Dan itu bukti nyata jika tahu lebih dulu itu membuat seseorang lebih unggul secara pemikiran. Tapi tahu lebih dulu bukan menjadi kunci seseorang unggul secara akhlaq.

Tahu lebih dulu, membuat teman-teman saya ketika itu menganggap saya itu pintar dan jenius. Padahal saya dan mereka sama-sama jenius juga pintar. Yang membedakan bakatnya saja. Andai mereka tahu lebih dulu, pasti juga mereka akan mendapatkan apa yang saya dapatkan.

Terkadang mereka yang tahu lebih dulu suka memandang remeh orang-orang yang tidak tahu lebih dulu. Dan saya benci orang seperti itu. Pura-pura tidak tahu lebih dulu, itu jalan yang harus saya tempuh. Jalan itu biasanya saya lakukan kepada orang-orang yang memang menganggap remeh orang yang tidak tahu lebih dulu. Akhirnya saya pun merasakan bagaimana diremehkan.

Tahu lebih dulu juga kadang-kadang membuat seseorang menjadi ingin dihormati. Rasa seakan-akan dia itu bosnya. Namanya juga manusia pasti gak luput dengan yang namanya hal-hal negatif. Tapi hal itu harusnya memang menjadi pelajaran yang penting. 

Semoga orang-orang yang tahu lebih dulu merasakan apa yang orang-orang tidak tahu lebih dulu rasakan. Bukan hanya merasakan sesuatu secara sepihak. Tapi juga merasakan apa yang sedang terjadi dan dialami di lain pihak.

Friday, January 23, 2015

Made in China

Wah berlanjut dari kisah yang kemarin. Kemarin resmi 'Made in Ayah' yang artinya low cost bahkan free. Tapi yang kali ini asli 'Made in China'. Hanya bagus dari segi tampilan. Keawetannya juga harus dipertimbangkan. Gak awet wajar, walau sudah mencoba mengawetkannya. Tapi yang namanya made in China susah kalo awet. Memang yang awet itu pasti bukan dari China. Hape saja, kalo labelnya sudah made in China pasti sudah tak ragukan. Sekelas OPPO sekalipun. Tetep saja China.

Mainan saya yang made in China ini kayaknya cuman sedikit. Yah memang saya jarang sekali dibelikan mainan berlabel China. Selain boros duit, ya pastinya juga kurang awet. Dan hanya mementingkan tampilan kan. Ah sudahlah. 


  • Tamiya
Nah, semua anak kecil pada jaman saya pasti punya yang namanya mobil balap bernama TAMIYA. Tamiya itu sebenarnya merk perusahaan yang menyokong produk mobil balap ini. Tapi karena China itu negara ter-kreatif, semua mainan pun diplagiat. Justru dengan adanya plagiator ini, saya gak pernah punya tamiya yang merknya bener-bener tamiya. 

Tapi karena Tamiya itu persuhaan pertama yang buat tamiya, jadi apapun merknya tapi kalo bentuknya mobil balap yang ada di anime Let's and Go, pasti tetap disebut dengan tamiya. Gakk peduli made in China atau made in Indonesia sekalipun. Itu salah satu keuntungan dari pembuat pertama sekaligus yang memperkenalkan mainan ini terlebih dahulu.

Mainan ini hadir di Indonesia gara-gara RCTI. Stasiun TV favorit sekaligus kebanggaan, karena setiap hari minggu berasa di surga. Nonton TV dari jam 5 pagi sampai jam 12 siang. Saat itu RCTI, SCTV dan Indosiar masih berlomba-lomba paling banyak menayangkan kartun anime. Semua berubah ketika..... ah sudahlah...

Anime Let's and Go, ceritanya memang bagus kala itu. Buktinya semua orang terinspirasi dan pengen punya yang namanya tamiya. Tamiya pertama saya bernama Max Breaker. Harganya sekitar 14 ribu kata ayah saya. Sebuah tamiya yang ketika itu tak tunggu-tunggu di anime nya. Ternyata pas ketika season 1 tamat, tamiya saya gak pernah nongol di TV. 

Ternyata tamiya saya hadir di season 2. Itu berarti saya punya mobil yang lebih maju dari teman-teman saya yang punya tamiya juga. Kakak saya pun juga membeli tamiya rakitan. Katanya harganya 19 ribu. Lebih komplit, lebih wow, bisa modifikasi pula. Tamiya saya yang kedua namanya, magnum. Harganya 15 ribu. Sudah termasuk baterai yang bisa recharge

Semua tamiya itu juga akhirnya sama, rusak. Maklum karena memang itu semua made in China. Yah saya masih tetap mengucapkan terimakasih kepada China, sudah membantu membuat masa kecil saya bahagia. Walau saya tahu harganya memang mahal kala itu. Dan tidak semurah buatan ayah saya.

  • Tembak-tembakan
Yang ini mainan bahaya. Lebih bahaya dari mainan yang dibuat Ayah saya. Perjuangan saya mendapatkan mainan ini sangat berat. Perlu usaha seharian. Dan tentunya melelahkan. Usaha apa yang dilakukan anak kecil untuk mendapatkan mainan keinginannya ? "MENANGIS".

Ya! Saya menangis seharian demi tercapainya impian saya itu. Kala itu penyakit anak kecil saya kumat. Suka iri kalo teman saya punya mainan baru. 

Kala itu, teman saya baru punya tembak-tembakan model pistol. Ya karena saya cuman bisa melihat saja. Terkadang saya pinjam. Intinya produk China itu sudah membutakan hati nurani saya. Akhirnya saya kalah, dan penyakitnya kumat. 

Setelah seharian, barulah Ayah saya mengajak saya ke pasar. Beli tembak-tembakan. Dan ternyata di luar dugaan saya. Saya pengennya pistol, tapi karena Ayah saya tahu kalo pistol itu untuk anak dengan level kemampuan menembak rendah, Ayah saya membelikan saya Sniper Riffle. 

Senjata yang ada teropongnya. Bisa di pompa. Dan memang harus dipompa ketika memainkannya. Jadi itu senjata yang spesial pastinya. Saya saja menangis terkena tembakkan itu. Tapi uniknya, teropongnya itu bolong. Tanpa ada lensa pembesar. Mungkin karena di desain untuk anak-anak dan bukan untuk perang sungguhan, jadi cukup bentuknya saja yang mirip.

Akhirnya made in China yang ini rusak juga. Tetap saja label gak awetnya nempel. Sekarang ya gak tau dimana rimbanya. Tapi saya bahagialah mempunyai senjata terbaik didunia menurut saya.

  • Gembot
Gembot ini permainan modern di jamannya. Walau sekarang kalo masih ada gembot, pasti tidak laku. Gembot ini pemberian pak-lek saya yang baru saja pulang dari merantau di Malaysia.

Saya baru tau gembot ini darinya setelah saya baru pindah ke Jogja ini. Dulu saya gak tau itu dari siapa. Tapi gembot itu dibawa mbak saya dari Jogja. 

Dulu karena didikan mbak saya yang terbilang didikan untuk menjadikan anak kecil pintar, jadinya main gembot itu hanya boleh dilakukan seminggu sekali. Tepatnya hari Jum'at sore. Dilain hari, gembot itu disimpan rapih di lemari kamarnya. Saya yang masih kecil ya belum bisa membuka lemari terus mengambil nya di laci paling atas. It's something

Akhirnya juga sama dengan made in China lainnya. Rusak rusak dan rusak. Wah saya tidak tau kenapa. Yang jelas ketika mbak saya kembali lagi ke Jogja dulu, intensitas main saya yang awalnya seminggu sekali berubah jadi sehari sekali. Keren kan..

  • Beyblade
Yang ini ceritanya sama dengan yang tamiya. Sama-sama ada karena kartun anime hari minggu. Kalo dipikir-pikir sekitar kelas dua SD mainan ini booming di Indonesia. Kala itu beyblade nya yang paling keren yang bisa keluar api kalo nempel atau gesek tembok. 

Punya saya gak kaya itu. Tapi kalo dilihat keapikannya, punya saya lebih unggul. Sedikit menggunakan media plastik sebagai body-nya. Tapi lebih seperti logam. Itu juga awalnya mainan yang dibelikan untuk kakak saya.

Setelah saya pulang dari Jogja kelas 2 SD, Ayah saya membelikan beyblade baru. Dengan fitur canggih. Bisa hidup, karena ada lampunya. Tapi kualitasnya buruk. Body-nya keseluruhan terbuat daru plastik. 

Baru beli saja sudah pecah di sampingnya. Punya benyblade sudah pasti di adu dengan beyblade teman. Dan itu pasti. Mudah pecahlah jika body-nya dari plastik full. 

Akhir ceritanya ya jelas rusak. Entah sekarang dimana saya juga gak tau. Sudah 11 tahun berlalu.

-----------------

Itu beberapa mainan dengan label made in China yang paling berkesan di antara yang lainnya. Sampai sekarang juga made in China masih merajai pasar dunia. Bukan cuma Indonesia saja. Tapi terimakasih China sudah membantu saya mendapat kebahagiaan masa kecil saya. 

Thursday, January 22, 2015

Made in Ayah

Masa kecil saya memang sudah bahagia dulu. Dan karena itu saya merindukannya kembali. Yang jelas masa kecil saya tidak seperti masa yang dilalui anak-anak sekarang. Masa kecil saya dan semua orang-orang yang seumuran dengan saya pasti punya masa kecil yang sempurna, jauh dari kata-kata masa kecil kurang bahagia.

Faktor pendorong masa kecil bahagia saya ialah mainan-mainan yang saya mainkan ketika kecil. Mainan yang ayah saya buat ataupun ayah saya belikan. Semua sangat berarti hingga sekarang. Terbukti saya merindukan masa kecil saya.


Made in Ayah

Ayah saya memang orang yang jenius, bukan otak kirinya saja tapi juga jenius dalam otak kanannya. Walaupun hanya sedikit yang turun ke dalam diri saya, tapi saya tetap bersyukur. Hal yang jarang di miliki orang lain. 

Ayah saya sering membuat mainan-mainan untuk saya dulu. Mencoba menghiasi masa kecil saya dengan kesenangan yang pastinya membuat kenangan mengagumkan. Kebanyakan yang ayah saya buat mainan-mainan tradisional. Yang kita tau mainan tradisional berfungsi membangun motorik, sosialisasi dan banyak hal bermanfaat lainnya.


  • Otok-otok
Ini mainan pertama saya ketika kecil yang di buat ayah saya dari bambu serta kaleng susu. Mainan tradisional yang mempunyai dua roda dan tongkat bambu sebagai pendorongnya. Intinya ketika saya mendorong mainan ini, pasti keluar suara otok-otok berulang. Karena ada kaleng susu bekas yang dipukul dengan bambu memanfaatkan gaya pegas dari karet dan gaya tarik dari putaran roda. Mainan itu sudah rusak sekarang >.< 

  • Jedoran
Wah ini mainan berbahaya. Soalnya dibuat untuk nembak teman-teman saya. Ya, bisa dibilang ini tembak-tembakan versi tradisional. Memanfaatkan bunga jambu air yang masih kuncup sebagai pelurunya. Di rumah saya ada dua buah jambu air yang pasti berbuah setiap musimnya. Ketika bunganya masih kuncup sering sekali tak pakai buat peluru jedoran. Mainan ini cuma dari bambu. Bambu biasa sebagai pelongsong, dan bambu lain sebagai pendorong peluru.

  • Truk
Iya namanya truk. Mobil truk mainan. Dibuat ayah saya pastinya. Warnanya biru dicat dengan cat kalengan. Mobil-mobilan yang dibuat dari kayu. Beda dengan mainan replika truk yang dijual dipinggir jalan, mobil truk yang satu ini punya fitur spesial. Roda depannya bisa belok. Sebuah fitur istimewa bagi saya yang memang menyukai mobil pas kala itu. Walau ternyata fitur itu tidak pas diaplikasikan. Soalnya pas mobil itu saya tarik belok kekiri, justru roda depannya malah belok kekanan. 

Karena saya mempunyai kakak laki-laki, ayah saya beli truk mainan di pinggir jalan warnanya kuning dan catnya masih basah pas dulu itu. Mobil yang dibuat ayah saya jadi milik kakak saya, dan mobil yang baru beli jadi milik saya. Karena masih baru, jadi saya pilih mobil itu. Tapi sekarang saya gak ingat akhir cerita mobil mainan itu. Yang jelas saya sudah lama gak lihat mobil itu. Mungkin akhir ceritanya jadi kayu bakar.

  • Patu
Dibahasa Jawa ada sebuah huruf yang gak ada di Bahasa Indonesia. Tapi huruf itu biasa diganti dengan huruf 'T'. Huruf itu bunyinya seperti huruf T yang dilafalkan orang suku Bali. Nah, jadi mainan saya ini namanya PATU, dengan huruf T yang dilafalkan. 

Patu ini mainan gangsing yang dibuat dari kayu dan cara mainnya pakai tali sebagai penggeraknya. Tali di lilitkan di badan patu sampai ke leher patu. Terus di lempar dengan teknik biar patu ini bisa muter. Dulu itu musim patu dan teman-teman saya sudah punya patu duluan. Akhirnya ayah saya membuatnya untuk saya, karena dulu mustahil bagi saya bermain dengan alat pertukangan. 

Akhir cerita dari mainan saya ini terbengkalai. Karena sesudah musim patu, teman-teman saya juga tidak mainan patu lagi. Begitu juga dengan saya. Akhirnya ya patu itu terbengkalai. Padahal dulu patu saya sudah tak kasih warna dengan spidol. Jadinya full color.

  • Yoyo
Iya yoyo. Cuma yoyo ini dibuat dari kayu, tapi dibuat pas saya masih kecil banget. Jadi sebenarnya yoyo ini di buat bukan untuk saya. Tapi untuk kakak saya. Ada dua yoyo di rumah saya. Yoyo yang pertama juga dibuat dari kayu, tapi bukan buatan tangan ayah saya. Dibuat dipabrik. Asal-usulnya yoyo itu dibeli seorang murid ayah saya, tapi karena mungkin dia memainkannya di sekolah, ayah saya merampas yoyo itu. Iya merampas. Ayah saya yang seorang guru wajarlah merampas mainan muridnya. Saya juga pernah kok dirampas mainannya sama guru saya >.<.

Yoyo buatan pabrik itu terkesan bagus. Warnanya merah dengan permukaan yang halus. Pastinya diamplas dan dibuat sungguh-sungguh. Tapi dari segi permainan, saya tidak suka memainkan yoyo buatan pabrik itu. Rasanya terlalu berat dan tali yang kepanjangan. Tapi yoyo buatan ayah saya, hanya sederhana. Warnanya juga hanya warna kayu. Saya suka yoyo yang ini karena enak kalo dimainkan. Gak terlalu berat dan talinya gak kepanjangan. Saya dulu itu pendek, lebih pendek dari teman-teman saya. Sampai sekarang yoyo ini masih ada dirumah saya dan bisa dimainkan. Yang saya suka bau khas dari yoyo ini. Masih ingat sampai sekarang.

----

Nah itu mainan-mainan yang ayah saya buat untuk menghiasi masa kecil saya. Buktinya masa kecil saya memang bahagia, berarti usaha ayah saya berhasil dan tak sia-sia. Sebenarnya masih banyak mainan buatan ayah saya, hanya saja saya lupa dan susah mengingat sekarang. Nanti kalo saya ingat, pasti saya tulis lagi ceritanya disini.

----
  • Tembak-tembakkan
Nah, akhirnya ketemu juga yang lainnya.. Tembak-tembakkan. Iya, mainan tembak / senapan dari kayu. Pelurunya masih sama dengan jedoran. Nah, mainan ini pakai gaya pegas dari karet buat melontarkan pelurunya, bunga jambu air yang masih kuncup. Mungkin sebenarnya ayah saya mencoba mengurangi sampah yang berserakan dari 2 pohon jambu di halaman rumah. Saat ini sih pohon jambu airnya tinggal satu, dulu satunya di pangkas habis karena kakak perempuan saya menikah dan pohon jambunya  jadi halangan kalo dipasang tenda.

Ada 2 buah tembak-tembakan yang dibuat ayah saya. Yang satu besar yang satu kecil. Mungkin yang besar untuk kakak saya dan yang kecil untuk saya. Akhir cerita dari mainan itu, yang besar terbengkalai entah dimana. Mungkin juga berakhir jadi kayu bakar. Kalo yang kecil berubah fungsi jadi pembunuh lalat. Memanfaatkan karetnya. Karena dirumah saya dulu banyak lalat, jadi senjata itu buat membunuh lalat. Ternyata multi-fungsi. Sekarang mungkin masih ada yang kecil.

Wednesday, January 21, 2015

Musisi

Musik memang salah satu kesukaan saya. Sudah saya ceritakan sebelumnya kisah saya tentang selera musik. Ada beberapa musisi yang menjadi panutan saya, sehingga saya menyukai musik. Merekalah yang setiap hari tak dengar musik-musiknya. Dan musik mereka susah bosannya bagi saya. Beda dengan para musisi lain yang lagunya diputar berulang-ulang sedikit saja, saya langsung bosan. Tapi musik yang dihasilkan mereka justru membuat saya ketagihan untuk mengulang dan mengulang. Kadang-kadang saya juga niruin musik mereka. Sebatas menambah skill dibidang musik.

  • Payung Teduh
Sebuah band yang beraliran jazz. Sekaligus band pertama yang seluruh personilnya saya follow via twitter pribadi saya. Personilnya hanya empat. Alat musiknya pun sederhana, tanpa ada efek yang berarti. Hanya suara asli yang dihasilkan. Tapi kualitas musiknya membuat saya takjub hingga sekarang dan mungkin akan berlangsung hingga ke masa depan. 
Mereka masih mempunyai dua album. Dan terkenal berkat dua album itu. Terdiri dari 14 macam lagu. Kesemua lagunya mempunyai lirik yang dalam menurut saya. Menyentuh hati, pikiran serta jiwa. Makanya saya tidak bosan walau 14 lagu itu diputar berulang-ulang setiap hari.
Saya mengetahui band itu dari acara Liputan 6 SCTV. Dulu di hari Minggu pagi, mereka tampil secara eksklusif di acara itu. Dan ternyata musik mereka yang easy listening cocok diputar waktu pagi kala itu, sekitar jam 5 lebih. 
Dan ternyata akhir-akhir ini, saudara laki-laki saya (kakak) juga mulai suka mereka. Memang musiknya membawa damai, dan wajar jika dia suka. Mungkin dia suka karena sudah menontonnya secara live.

  • Depapepe
Juga sebuah band beraliran jazz. Mereka beraliran instrumental. Hanya memainkan alat musik saja. Terdiri dari dua orang yang bermain gitar. Terkadang mereka dibantu alat musik lain sebagai pendukung. Mereka berasal dari Jepang. Dan akhir bulan nanti akan tampil di Indonesia. Sayangnya saya gak bisa nonton mereka.
Depapepe sudah menghasilkan banyak album. Lebih dari 8 Album. Terdiri dari puluhan lagu. Di setiap lagu menampilkan kemampuan gitar yang saya sendiri tidak percaya jika musik itu dihasilkan dari gitar. 
Saya juga mencoba mempelajari teknik bermain gitarnya. Dengan mendengar lagu-lagunya dan langsung mempraktekkannya tanpa petunjuk video. Suatu hal yang susah bagi saya untuk mencapai taraf sempurna. Yah minimal nyerempet dikitlah, walau suara memang masih acak-acakan. Tapi memang permainan Depapepe menggunakan teknik tinggi, makanya lagunya bagus semua. Dan bisa nyantol di hati. Diputer berapa kalipun ya gak bosen.

  • Ebiet G. Ade
Kalo ini penyanyi legenda. Waktu awal berdirinya blog pribadi saya ini, saya menuliskan tentang lagu beliau di kisah saya. Lagunya memang menarik. Suaranya punya ciri khas yang memang susah di tiru. Lagunya kebanyakan menceritakan tentang cinta.
Saya sih yakin, semua juga suka sama Ebiet. Dan hanya kaum muda yang alay yang gak suka sama Ebiet. Musiknya sepertinya universal, tak termakan sama jaman. Walau penyanyinya sudah jarang banget muncul di layar tv Indonesia.

  • Steven Jam / Steven n' Coconutreez
Band beraliran reggae yang lagu-lagu karyanya pas banget sama saya. Menceritakan kehidupan, kebebasan serta kritik sosial Indonesia. Karena isi lagunya mencerminkan kehidupan, saya jadinya suka. Saya suka mengamati kehidupan. Dan selalu mencoba melalui kehidupan itu sesederhana mungkin tanpa tuntutan. 
Selain Steven Jam, legenda reggae Indonesia, Tony Q Rastafara juga saya suka. Lagunya juga menceritakan kehidupan. Kehidupan yang identik dengan kesenangan bukan kesedihan. Mencerminkan kebebasan bukan terkekang.


Ada beberapa musisi lagi yang saya suka, tapi itu yang paling saya suka. Terlalu banyak yang saya suka, dan kebanyakan dari yang saya suka, teman-teman saya pasti tidak menyukainya. Mungkin karena saya selalu bersikap beda dari kebanyakan orang. Karena saya suka perbedaan.

Tuesday, January 20, 2015

Wali Kelas

Sudah 12 tahun lebih saya mengikuti pendidikan formal. Berarti sudah 12 tahun lebih otak kiri saya bekerja keras. Dan 12 tahun lebih otak kanan saya tertinggal dari otak kiri saya. Dan sekarang saya berusaha agar otak kanan saya melampaui otak kiri saya. Dan di 12 tahun lebih pendidikan formal itu, ada 12 orang lebih yang jadi wali kelas saya. Setiap kelas berbeda wali kelasnya.


  • Taman Kanak-kanak
Wali kelas waktu taman kanak-kanak saya kurang tahu, karena waktu TK saya belum paham apa itu wali kelas, bahkan saya belum pernah dengar kata-kata wali kelas.

  • Kelas 1 Sekolah Dasar
Kelas 1 SD, nama wali kelas saya Bu Muriyati. Sering dipanggil Bu Mur. Beliau yang mengajar saya membaca, berhitung, dan hal-hal dasar lainnya. Beliau juga yang mengajarkan saya tentang aksara Bahasa Lampung.

  • Kelas 2 Sekolah Dasar
Kelas 2 SD, nama wali kelas saya Bu Sumarni. Panggilannya Bu Marni. Dulu Bu Marni sempat di takuti semua murid. Karena jika nilai dapet angka 6, Bu Marni langsung turun tangan. Iya turun tangan dalam makna denotasi. Melakukan hukuman "jenggit" ke kami muridnya. Tapi ternyata cara itu memang ampuh  untuk mendidik kami. Mungkin sekarang kebiasaan itu sudah berhenti dilakukan, karena pendidikan di Indonesia mengharamkan hukuman yang bersifat fisik.

  • Kelas 3 Sekolah Dasar
Kelas 3 SD, nama wali kelas saya Bu Siti Rahayu. Jadi Bu Siti ini guru saya yang mengenalkan saya ke pelajaran Bahasa Inggris. Karena waktu kelas 3, pelajaran Bahasa Inggris mulai dipelajari dikelas. Kemampuan saya saat itu cuma berhitung angka satu sampai sepuluh dalam Bahasa Inggris. Itu kemampuan yang saya peroleh ketika masih taman kanak-kanak.

  • Kelas 4 Sekolah Dasar
Kelas 4 SD, nama wali kelas saya Bu Sutimah. Panggilannya unik, Bu Timah. Ketika itu beliau seorang guru pelajaran Bahasa Indonesia. Hal yang paling sering saya lakukan saat itu merangkum. Pelajaran Bahasa Indonesia memang gak lepas sama yang namanya merangkum. Dan sudah jadi tradisi dimana ketua kelas lah yang jadi penyuara serta pen-dekte teman-temannya. Dan saya lah ketua kelasnya waktu itu, saya juga yang bertugas di kala itu. Walau kadang-kadang saya juga digantikan oleh beberapa teman saya lainnya.

  • Kelas 5 Sekolah Dasar
Kelas 5 SD, nama wali kelas saya Bu Mugiatun. Guru Bahasa Indonesia juga, sekaligus juga mengajar pelajaran KTK bagian menyanyi. Bu Mugiatun juga yang mengajari saya nada-nada serta lagu-lagu nasional yang wajib dihafal. Dihafal dari liriknya sampai doremi-nya.

  • Kelas 6 Sekolah Dasar 
Kelas 6 SD, nama wali kelas saya Pak Eko Sumardiyono. Di panggil Pak Sumar. Seorang guru MTK yang bertempat tinggal di salah satu gedung di sekolah. Dan kini sudah membangun rumah yang baru dan nyaman tentunya. Orangnya tegas. Sudah mengajar MTK sejak saya kelas 5 SD. Dan harus mempunyai 3 buku tulis untuk pelajaran MTK, buku tugas, buku PR, dan buku catatan.

  • Kelas 1 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 1 SMP, nama wali kelas saya Pak Supriyono. Wah, orangnya unik dan sensitif dengan debu. Kelas harus tetap bersih. Dan harus bisa jadi kelas terbersih setiap minggunya. Nyatanya hanya beberapa kali saja jadi kelas terbersih selama 1 tahun. Beliau mengajar MTK. Uniknya beliau sering bercerita hal-hal bersifat spiritual ketika mengajar.

  • Kelas 2 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 2 SMP, nama wali kelas saya Mam Ratmi Ningsih. Dipanggil Mam karena tuntutan pekerjaan. Beliau seorang guru Bahasa Inggris, jadi wajar dipanggil seperti itu. Di SMP semua guru Bahasa Inggris gak ada yang dipanggil Bu. Entah karena gengsi atau pengen terlihat kalo guru Bahasa Inggris. Bisa jadi sebagai identitas SMP saya yang bisa dibilang unggul.

  • Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 3 SMP, nama wali kelas saya Pak Mubalighin. Seorang guru MTK. Setiap kali mengajar beliau hanya membawa satu buah alat komunikasi dan beberapa spidol. Mengajar tanpa buku cetak atau LKS. Saya juga heran entah darimana Beliau mendapat angka-angka yang ditulis di papan tulis. Saking jeniusnya yang pasti. Hanya beberapa guru MTK saya yang seperti itu.

  • Kelas 1 dan 2 Sekolah Menengah Kejuruan
Kelas 1 SMK dan 2 SMK, saya punya wali kelas yang sama. Namanya Bu Berty Desmiana. Seorang guru dan dosen komputer. Sebenarnya Bu Berty bakal jadi wali kelas saya selama 3 tahun. Tetapi ketika di pertengahan kelas 3 SMK wali kelas saya diganti. Bu Berty menjabat sebagai ketua jurusan RPL. Dan tidak boleh merangkap menjadi wali kelas.

  • Kelas 3 Sekolah Menengah Kejuruan
Sebagian kelas 3 SMK wali kelas saya sama dengan kelas 1 dan 2. Setelah diganti wali kelas saya, Pak Yusup Sunartoni kalo tidak salah nama lengkapnya. Dipanggil Pak Toni. Jarang masuk kelas atau masuk sekolah. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Mungkin karena sibuk. Beliau masih tetap kuliah ketika saya kelas 3, walau pangkatnya sudah PNS dan mempunyai penghasilan tetap. Tapi yang namanya ilmu itu tetep harus dicari, selama kita masih hidup. Mungkin itu salah satu prinsip yang dipegang teguh Pak Toni. Orangnya juga friendly buat kami semua.


Ya itulah masa 12 tahun lebih pendidikan formal yang saya lalui dengan mereka para wali kelas saya. Kenangan yang tak terlupakan dan masih saya ingat dengan baik. Terlalu banyak kenangan, saya juga bingung mana dulu yang saya tulis. Dan yang terlintas pertama kali yang saya tulis.

Sunday, January 18, 2015

Rokok dan Saya

Rokok dan saya, sesuatu yang memang kurang akur. Rokok gak suka saya, saya juga gak suka rokok. Suatu hal yang sangat sulit jika kami berdua bergabung. Bagai api dan air, jika digabungkan salah satu akan musnah.Walau begitu, saya sudah mengenal rokok sejak kecil. Bahkan sejak sebelum saya masuk TK.

Pertemuan saya dengan rokok ketika itu sudah pasti bukan hanya pertemuan biasa. Tapi pertemuan dimana saya dan rokok mencoba untuk bergabung. Ya, saya mencoba merokok. Sebuah tindakan yang seharusnya anak kecil tidak lakukan. Tapi saya melakukan walau hanya beberapa hisap saja.

Hal yang saya rasakan pada saat itu cuma manggut-manggut, karena waktu itu saya cuma di rayu oleh tetangga saya yang usianya sudah remaja. Dan entah kenapa saya mau mencoba itu. Sudah terlalu lama buat di ingat-ingat.

Ketika itu ternyata rokok rasanya tidak seenak kelihatannya. Begitu juga yang saya rasakan sekarang. Mengkonsumsi asap rokok yang sudah di hisap perokok lain. Rasanya merokok ya mirip seperti itulah. Bedanya kita gak merasakan rasa manis pada kertas di ujung ekor rokok, dan hanya merasakan asap yang sudah dibuang perokok.

Beberapa kali saya juga mencoba bergabung dengan rokok. Hasilnya pun negatif, dan salah satu dari kami harus musnah jika terus bergabung. Karena memang saya tidak merasa cocok, saya pun memaksa untuk tidak bergabung kembali dilain waktu. Sebuah usaha menolak setiap rokok yang ditawarkan teman-teman saya yang pada dasarnya seorang perokok aktif.

Saya pernah menonton sebuah video dokumentasi berdurasi sekitar satu jam dari media Amerika. Video itu bercerita tentang perindustrian rokok serta para perokok di Indonesia. Berikut apa yang saya dapat dari video itu.
Di negara Amerika yang sebenarnya merupakan negara asal dari pabrik rokok "Marlboro", iklan rokok di media saluran TV diblokir perijinannya. Sehingga tidak ada satupun iklan rokok yang bermunculan di TV Amerika. Hal itu dilakukan pemerintah Amerika untuk menekan jumlah perokok aktif di negaranya. Selain itu, iklan-iklan lain seperti papan reklame atau poster pun juga dilarang. Sebuah terobosan yang memang patut diakui kesuksesannya.
Berbeda dengan Indonesia yang justru sangat mudah bagi kita untuk melihat iklan rokok. Dari media elektronik ataupun yang bertebaran menyebar di jalan-jalan. Sebuah kebijakan memang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Hentikan penyebaran iklan rokok di Indonesia.
Video itu berlanjut menceritakan perjalanan seorang reporter media Amerika bersama relawan anti rokok dari Indonesia menelusuri ibukota Jakarta. Sang reporter itu merasa takjub dengan ibukota Jakarta, karena iklan rokok serta outlet-outlet rokok yang sangat mudah sekali dijumpai di Indonesia. Sang relawan bercerita betapa beratnya perjuangan mereka mengatasi problema rokok.  
Reporter itu pun menanyai beberapa pelajar yang menggunakan seragam dan sedang merokok. Sebuah jawaban unik keluar dari mulut mereka. Betapa memang parahnya Indonesia jika dikaitkan dengan rokok.
Memang begitulah kenapa saya tidak menjadi seorang perokok seperti teman-teman saya yang lainnya. "Karena saya dan rokok tidak bisa bergabung". Jika digabungkan? salah satu dari kami akan musnah. Hingga saat ini saya masih tidak mempunyai ketertarikan akan rokok. Dan semoga hal itu berjalan sepanjang hidup saya hingga rokok benar-benar musnah dari Indonesia.  


Saya sematkan video yang sudah saya tonton mengenai rokok dan Indonesia.

Saturday, January 17, 2015

Selera Musik

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis kisah opini tentang "Saya Tidak Jenius". Di kisah itu ada sebuah ciri seorang jenius, yaitu menyukai musik. Saya memang suka dengan musik, sejak kecil saya pun sudah suka musik. Dari lagu-lagu yang saya nyanyikan ketika maju di depan kelas waktu masih TK sampai musik yang saya dendang kan saat ini. Memang wajar jika saya menyukai musik. Faktor keturunan!.

Ayah saya seorang jenius otak kiri, yang sebenarnya juga menguasai otak kanan. Ayah pun pintar dalam urusan menggambar, berkarya, juga memainkan musik. Salah satu alat musik yang paling beliau sukai ialah seruling. Ada sebuah seruling yang dibuat dari sebelum saya lahir menggunakan sebuah pipa, dan hingga kini seruling itu masih bisa dimainkan walau sudah patah menjadi dua karena keponakan saya.

Seruling itu sering digunakan ayah saya ketika malam hari. Dan saya pun tidak tahu kenapa selalu digunakan ketika malam hari. Dan mungkin aneh juga, menyuarakan seruling ketika siang hari. Mungkin itu alasannya. Tetapi menurut saya suara seruling itu menambah keindahan malam hari ketika beliau menyanyikannya. 

Tetangga rumah pun ikut mendengar alunan nada seruling itu. Bahkan yang jaraknya puluhan meter juga masih mendengar, mungkin karena disuarakan malam hari dimana kebisingan hilang. Rumah saya ada di desa bukan perkotaan, dimana menjadi sepi dan senyap ketika malam harinya. Yang ada hanya suara jangkrik, belalang serta hewan malam. 

Lagu yang biasanya didendangkan lagu-lagu lawas. Dari D'lloyd, Panbers hingga Koes Plus. Serta beberapa penyanyi lainnya. Tidak ada buku panduan atau kunci-kunci nada sebagai patokan, melainkan hanya angan-angan tentang alunan nada yang ada di benak beliau. Walau begitu tapi tak kalah merdu dengan para pemain seruling profesional.

Walau ayah saya berbakat menggunakan musik, ternyata beliau juga bisa memainkan gitar bekas yang dulu saya beli. Dulu ketika masih kecil beliau pernah menawari saya sebuah gitar, tapi karena saya tidak suka gitar biasa tanpa listrik saya pun menolaknya. Dan ketika kelas 2 SMK baru saya membeli gitar bekas dengan uang tabungan saya. 

Saya memang tertarik dengan alat musik gitar hingga sekarang, walau sekarang pun skill saya masih bisa dibilang pemula. Entah kenapa ketertarikan saya kepada alat musik gitar bukannya seruling yang sudah akrab sejak saya kecil. Jadi bakat ayah saya bermain seruling sama sekali tidak turun ke diri saya. Begitu juga saudara-saudara saya. Dan hanya saya yang tertarik memainkan alat musik.

Semenjak saya memiliki gitar, saya lebih tertarik memainkan lagu-lagu slow dan jazz. Lagu yang isi lantunan nadanya membawa kedamaian. Walau saya juga suka dengan musik aliran Jpop. Tapi musik Jpop susah dimainkan. Temponya cepat, nadanya juga cepat.  Selain itu saya juga suka dengan aliran reggae. Reggae identik dengan damai, makanya saya suka reggae.

Selain itu karena musiklah awal saya memulai mencari penghasilan via YouTube. Walau hingga kini saya belum menikmati sepeser pun hasilnya. 

Cita-cita saya tentang musik salah satunya bisa menggunakan alat musik seruling milik ayah saya. Tapi entah kenapa minat saya tidak ada sama sekali, jadi mungkin itu cita-cita yang tak mungkin tercapai secepatnya. 

Thursday, January 15, 2015

Cerita Saya Hari Ini (2)

Tadi malam, suatu hal yang bisa dibilang menggembirakan terjadi pada saya. Dulu saya pernah berjuang agar blog yang saya kelola (bukan blog ini) bisa saya monetisasi atau saya uangkan. Bisa dibilang mencari penghasilan dari menulis di blog. Blog saya itu bertema pariwisata Indonesia yang saya tulis full dalam bahasa Inggris. Tujuannya agar pariwisata Indonesia mengglobal, dan membuat mereka para turis tertarik datang ke Indonesia. Tujuan lainnya, agar blog saya itu lebih banyak pengunjung karena ditulis dalam bahasa internasional dan mendatangkan pengunjung secara internasional juga. Terbukti 75% pengunjung blog saya bukan dari Indonesia, tetapi sebagian besar dari Amerika Serikat dan sisanya Eropa serta Asia. 

Semua persyaratan untuk memonetisasi blog saya sudah saya lakukan. Mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal yang bersifat optimasi. Setelah saya mengelola blog itu 3 minggu, saya mulai mengajukan pendaftaran ke pihak google untuk monetisasi. Hasilnya nihil, saya ditolak karena konten belum memadai. Konten pun saya tambah terus menerus secara rutin setiap hari. Dan beberapa hari setelah itu saya kembali mengajukan pendaftaran, hasilnya pun sama. Hingga beberapa waktu berlalu, saya sudah mengajukan sebanyak 8 kali. Dan dari 8 kali itu semua menemui masalah yang sama.

Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Tujuan saya mencari penghasilan ini ya jelas biar saya bisa jadi mandiri dan kalo bisa tanpa perlu sepeser pun biaya orang tua ada di saku saya. Semalam karena kebosanan saya dan otak saya yang stuck, saya iseng membuka Youtube pribadi saya. Beberapa bulan yang lalu, saya sempat meng-upload video pribadi saya. Video itu hanya sebagai ekspresi saya dalam bermain gitar. Ada 3 video yang dulu saya upload. Ketiga video itu bisa dilihat di menu VideoKu. Iseng semalam saya mendaftarkan akun Youtube saya ke pihak google.

Youtube juga sebenarnya bisa menghasilkan uang. Cukup upload saja video pribadi atau video yang bermanfaat lainnya. Dan jika google menyetujui, video itu bisa menjadi pundi-pundi dollar. Bukan pundi-pundi rupiah. Setelah saya mendaftarkan akun Youtube saya, beberapa jam setelah itu saya pun menerima email balasan tentang kelanjutan akun Youtube saya. 

Dan tidak saya sangka, email itu berisi hal positif. Bukan hal negatif yang dulu saya pernah terima yang isinya hanya penolakan. Email itu berisi tentang penerimaan akun Youtube saya untuk bisa di monetisasi. Yang artinya saya bisa mendapatkan penghasilan dari Youtube pribadi saya. Walau kala itu hanya berisi 3 video pribadi saya, tapi entah kenapa kok google menyetujui pendaftaran saya.

Mungkin itu kehendak Allah. Memberi jalan lain yang mungkin lebih indah dan lebih cocok dengan saya. Walau ilmu saya tentang Youtube masih bisa dibilang pemula, sedangkan ilmu tentang blog bisa dikatakan tingkat lanjut. 

Kini saya mulai mencari ilmu dan memperdalam tentang Youtube. Beberapa teman saya sudah melakukan monetisasi Youtube beberapa waktu lalu. Dan saya tak menyangka mengikuti jejak mereka. Terima kasih Ya Allah, saya akan berusaha sebaik mungkin memanfaatkan kesempatan ini. Terima kasih kepada rekan saya Tegar Darmawan yang semalam sudah membantu saya tengah malam. Semoga tidak ada hambatan lain bagi saya. Amin.

Wednesday, January 14, 2015

Lampung

Lampung itu tempat kelahiran saya, tempat masa kecil saya, tempat saya mengawali belajar, tempat saya mendapat banyak teman, sekaligus tempat saya mendapat banyak cobaan. Setelah bertahun-tahun saya menetap di Lampung, kini sudah 6 bulan lebih saya melangkahkan kaki meninggalkan Lampung. Memulai petualangan baru di tempat yang bukan tanah kelahiran saya. Lampung yang membuat saya mempunyai gelar "Putra Jawa Kelahiran Sumatera". Itu lah gelar yang baru saya dapat ketika saya mulai melangkahkan kaki keluar dari Lampung.

Sekilas tentang tempat kelahiran saya itu, terletak di ujung Sumatera dimana menjadi salah satu provinsi yang miskin di jajaran provinsi lainnya di Sumatera. Lampung juga jadi tempat ibu dan ayah saya pertama kali bertemu hingga akhirnya membina rumah tangga. Mereka sama-sama merantau dari kampung halamannya. Mencari kehidupan yang lebih baik pastinya. Karena memang ibu dan ayah saya bukan dari kalangan atas ataupun menengah, tapi memang dari kalangan yang pas-pas an kadang kekurangan, itulah yang saya ketahui sampai sekarang.Sebuah takdir lah yang mempertemukan ibu dan ayah saya. Menjadikan kami semua anak-anaknya keluarga bahagia.

Dulu saya pernah mendengar ibu saya berkata jika membina kehidupan di Lampung lebih baik daripada di kampung halamannya. Dan itu juga dirasakan ayah saya sepertinya. Sehingga ketika mereka membina rumah tangga, Lampung lah tempat tinggal selanjutnya hingga sekarang.

Karena ibu dan ayah saya orang rantau, sudah pasti jauh dari keluarganya. Dan karena itulah keluarga saya tidak mempunyai hubungan kerabat dekat di Lampung. Toh jika ada, itu pasti kerabat jauh. Keluarga ibu dan ayah saya berasal dari satu daerah yang sama dan hanya bertetanggaan desa. Mungkin jika mereka dulu tidak merantau ke Lampung, sebuah keluarga yang saya rasakan sekarang tidak akan pernah ada. Dan entah apa saya akan dilahirkan atau terlahir dari keluarga yang berbeda.

Kini saya justru kembali ke kampung halaman ibu dan ayah saya. Mengikuti jejak-jejak napak tilas mereka disini. Merakasan bagaimana mempunyai kerabat dekat yang memang dekat. Memang disini lah keluarga besar saya, jika menurut orang-orang. Tempat kakek-nenek saya tinggal.

Jika di urut berdasarkan silsilah keluarga ayah, saya merupakan anak yang termuda di antara sepupu-sepupu saya. Selain itu ayah saya juga anak terakhir dari kakek-nenek saya, begitu juga saya yang jadi anak terakhir ibu dan ayah saya. Tapi jika di urut dari keluarga ibu, saya bukanlah yang terakhir. Setidaknya saya punya beberapa adik sepupu, entah berapa jumlahnya saya tidak tau pasti. Memang saya juga belum pernah bertemu mereka secara keseluruhan, hanya sebagian. Mungkin waktu yang akan mempertemukan.

Jika di ambil kesimpulan, Jogja ini jadi kampung halaman ibu dan ayah saya, dan seharusnya juga jadi kampung halaman saya. Dimana keluarga besar saya ada di sini semua. Tapi setelah beberapa bulan di Jogja, saya kembali berkesimpulan. Jogja akan jadi kampung halaman saya jika masa kecil saya dihabiskan di Jogja. Dan masa kecil saya dihabiskan di Lampung, masa pertumbuhan saya dari baru dilahirkan hingga sekarang.

Memang saya tidak pernah merasakan kedekatan dengan keluarga besar ketika di Lampung. Bisa dibilang keluarga yang gak punya sedulur di Lampung. Keluarga saya ibarat solo-player. Ya begitulah yang saya rasakan. Tapi giliran saya merasakan keluarga besar disini, saya malah justru merasa berada di tempat lain. Tempat yang bukan kampung halaman, bukan rumah. Mungkin karena ibu dan ayah saya tinggal di Lampung. Dan seandainya mereka kembali ke sini, pasti rasanya komplit memiliki keluarga besar.

Tapi saya juga tidak menghendaki mereka pindah kesini, dan biarlah disana di Lampung. Tempat pilihan ibu dan ayah saya memulai hidup baru. Suatu saat saya juga akan kembali ke Lampung walau mungkin saya berangan-angan untuk tidak menetap di sana dan memulai kehidupan baru di sana. Tapi jika memang itu kehendak Yang Maha Esa, saya juga akan mensyukurinya. Jadi biarkan waktu menjawab.

Bagaimanapun juga Lampung itu juga bagian dari cerita hidup saya, malah jadi bagian yang besar dan hampir semua untuk sekarang ini. Tempat dimana saya mendapatkan teman-teman, tempat dimana saya memulai kehidupan baru, tempat dimana saya diajarkan nilai-nilai kehidupan. Itulah Lampung yang saya rasakan. Baru bisa saya rasakan berharganya setelah saya tinggalkan. ^-^

Tuesday, January 13, 2015

Cerita Saya Hari Ini

Setelah beberapa hari yang lalu saya menyatakan bahwa Wordpress mempunyai tampilan yang lebih bagus dari Blogger, hari ini saya mulai lagi membuka blog saya yang menggunakan platform Wordpress irfanfahrurrozi.wordpress.com. Blog itu saya buat pada bulan November tahun 2013. Dan awal pembuatan blog itu sebagai blog pribadi saya. Tapi memang karena menurut saya platform Wordpress susah dipelajari, jadi ya saya tetep setia menggunakan platform Blogger.

Kembalinya saya di Wordpress, di tandai dengan sebuah artikel berjudul Selamat Datang Kembali. Penggalan kisahnya bercerita kenapa alasan saya berada di Wordpress lagi.
Dari segi desain wordpress ini, saya masih belum bisa mengembangkannya. Hanya terpaku dengan apa yang sudah disediakan platfrom ini. Suatu hal yang sampai sekarang memang sulit saya kuasai. Karena itulah, saya sangat jarang sekali membuka platfrom ini, walau saya menggunakannya. Hanya setahun sekali saya menulis di platfrom ini.
Saat ini memang saya sudah mempunyai blog pribadi saya sendiri yang menggunakan platfrom blogger di ifahrurrozi.blogspot.com, dan saya sudah secara professional mengelola blog itu. Tetapi, beberapa hari ini saya melihat beberapa blog yang menggunakan platfrom wordpress, dan entah kenapa ketika saya bandingkan tipe tampilannya dengan blog yang bertipe platfrom blogger, saya merasa jika wordpress sangat unggul dalam tampilan look-nya.
Nah itu penggalan dari apa yang saya tulis di artikel tersebut. Cukup menjelaskan kenapa saya kembali menulis cerita di Wordpress saya. 

Bertepatan dengan kembalinya saya di Wordpress, bertepatan pula dengan kabar duka dari pemain Laskar Pelangi "Verrys Yamarno" yang berperan sebagai seorang Mahar di film tersebut. Verrys meninggal diduga karena mengalami vertigo yang disebabkan kecelakaan motor ditahun 2011. 

Saya pun menuliskan tanggapan saya tentang sosok Verrys di Wordpress saya, berjudul Selamat Tinggal Verrys Yamarno. Saya sangat merekomendasikan Anda membacanya. Tentang apa yang saya pikirkan terhadap Mahar. 

Diakhir kisah itu, saya mengucapkan:
Selamat Jalan Verrys “Mahar” Yamarno. 
Sebagai tanda hormat saya kepada Verrys si Anak Belitong yang memang berjasa bagi Belitong bahkan kepada seluruh masyarakat Indonesia. 

Kenapa Jogja Beda?

Di Jogja ini, hal yang paling melekat di diri saya ada banyak. Mungkin karena memang Jogja itu tempat yang multi segalanya. Dari yang bersifat multi-cultural, multi-ethnic, multi-culinary, dan multi-multi lainnya sampai yang aneh, multi-gaib.

Jogja memang kota yang istimewa. Dosen saya pernah bilang kalo Jogja itu mini nya Indonesia. Hampir mirip seperti diorama yang bisa dikunjungi dan bersifat realiti. Orang Jogja sendiri entah kenapa mereka selalu menjunjung tinggi budaya, adat, dan hal-hal lain yang bersifat tradisional. Mungkin itu karena orang Jogja sifatnya memang apa adanya. Selalu menganggap hal-hal kemodernan itu sebagai hal yang tidak perlu secaran berlebihan ditanggapi yang ujung-ujungnya bakal menenggelamkan sifat ketradisionalannya.

Satu hal yang harus saya pelajari disini yaitu unggah-ungguh. Sebuah tata krama yang tidak pernah saya pelajari sekalipun di tanah kelahiran saya. Disini, setiap orang wajib memiliki serta mengikuti unggah-ungguh yang memang sudah menjadi tradisi orang Jogja. Keistimewaan personality orang Jogja inilah yang jadi identitas Jogja itu sendiri. Tanpa perlu adanya rekayasa ataupun rekaan lainnya, tapi hanya mengikuti apa yang memang dianggap pantas dan perlu dilakukan. 

Di tempat kos saya berada ini, banyak sekali keluarga-keluarga non-muslim yang notabene orang-orang mayoritas di negara islam ini. Suatu hari saya melihat, bapak-bapak berpeci menghadiri sebuah tahlilan yang diadakan oleh keluarga non-muslim. Suatu hal yang belum pernah saya lihat terjadi di depan mata saya kecuali di Jogja. Bukan bermaksud mencampur-adukkan agama, tetapi memang itulah ciri orang Jogja. Terbuka terhadap sesama, dan rasa kebersamaan yang memang dijunjung tinggi.

Memang gak ada salahnya menurut saya untuk mendoakan mereka yang berbeda agama. Toleransi memang diajarkan di agama kita islam. Justru banyak kini orang islam malah memusuhi mereka yang non-muslim. Seakan-akan islam merupakan agama yang arogan terhadap agama lain. Suatu cerminan yang memang 180 derajat salah dari ajaran islam itu sendiri.

Beberapa waktu lalu sebelum natal, teman non-islam saya pulang kampung kedaerah asalnya. Saya pun juga kembali ke kerabat saya. Suatu hari di dalam tas saya ada secarik kertas, berisi tulisan teman saya itu. Isi-nya permohonan doa kepada Tuhannya agar saya sebagai temannya diberi kemudahan dalam menjalani hidup serta dikabulkannya permohonan saya.

Itu hal yang belum pernah saya temui selain di Jogja. Dan itu sebuah realiti. Apapun agamanya, yang namanya berdoa demi kebaikan sesama walau berbeda agama, pasti perbolehkan atau justru malah di anjurkan untuk saling mendoakan. Itu yang saya tangkap dari keindahan beragama. Bukan kita memusuhi mereka.

Dalam bidang budaya, Jogja bisa dibilang nomor satunya di Indonesia. Dalam kegiatan budaya, hampir setiap minggunya diadakan di daerah Jogja. Dari mulai pelaksanaan budaya yang kecil-kecilan sampai pelaksanaan budaya yang besar-besaran melibatkan orang banyak serta berbulan-bulan persiapannya. 

Beberapa waktu lalu, demi memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, masyarakat Jogja menyiapkan festival Sekaten. Melibatkan ribuan orang, serta persiapan yang memang harus matang. Ada juga rangkaian festival memperingati 1 Suro / 1 Muharram. Semua festival atau upacara itu harus melalui rangkaian-rangkaian upacara pengiring lainnya. Semua itu pasti ada nilai budaya yang terkandung serta nilai kehidupan yang berharga yang bisa kita petik.

Suatu hal yang sangat mustahil saya temukan di tanah kelahiran saya. Karena itu, dibanding kekurangannya, terdapat kelebihan yang sangat banyak sampai tak terhitung jumlahnya. Membuat Jogja tetap istimewa dan selalu istimewa di tengah keistimewaannya. Jogja beda bukan karena hal buruknya, tapi karena banyaknya nilai positifnya. Itulah yang menyebabkan banyak orang betah tinggal di Jogja, ingin ke Jogja. Menyebabkan multi-ethnic nya menjadi ciri khasnya. 

Monday, January 12, 2015

Mimpi Terindah Saya

Dulu sekali, pas kecil yang namanya kartun sudah menghiasi isi kepala saya, hati saya hingga perilaku saya. Kartun yang bagi orang dewasa gak mendidik dan membuat penontonnya si anak-anak menjadi lupa akan sekolah dan pendidikannya. Membuat nilai di sekolah turun atau menjadi goblok. Itulah yang ayah saya pikirkan tentang kartun, walau saya gak tau itu bener atau memang sebatas khayalan saya. 

Terkait opini ayah saya, mungkin hal yang wajar karena ayah saya orang yang pandai dalam hal pengetahuan. Dan darahnya mengalir ke anak-anaknya. Salah satu teman saya ketika mengaji di TPA, bertanya yang entah kenapa kok saya masih ingat pertanyaan itu. Ia bertanya ke guru kami "kenapa kok anak-anaknya ayah saya pinter semua?". Guru kami menjawab panjang lebar yang saya gak inget apa jawabannya sampai sekarang. 

Oke, kartun sudah menghiasi isi kepala saya, hari saya hingga perilaku saya. Wajar jika mimpi terindah saya ya jelas tentang kartun. Sebuah mimpi yang sebagiannya mimpinya berwarna hitam putih. 

Sebuah penelitian menunjukkan, 
Semakin tinggi intelejen yang dimiliki seseorang, semakin luas ia akan bermimpi 
&
Kebanyakan orang yang memiliki intelejen tinggi, mimpinya akan berwarna.
Nah itu penelitan tentang mimpi. Mimpi terindah saya berwarna hitam putih, bukan karena saya tidak memiliki intelejen yang tinggi. Tapi karena kartun sudah menghiasi mimpi saya itu. 

Dulu ketika kecil, waktu pertama kali ayah saya membeli VCD player, ia sering sekali membeli kaset VCD. Beberapa diantaranya kaset video lagu band jaman dulu ataupun campur sari, Ayah saya juga membelikan kaset VCD kartun untuk saya, anaknya. Membuat opini saya tentang pemikiran kartun ayah saya hilang seketika. Mungkin dia ingin saya tambah bahagia. Membelikan saya beberapa kaset VCD kartun seperti Tom & Jerry, Micky Mouse, Donald Duck, dan Doraemon. Ia membelikan saya 4 VCD kartun. Suatu saat ketika saya diajak ayah saya belanja, dia juga membelikan saya kaset VCD Ninja Ranger volume 17.

Di kaset VCD Mickey Mouse, ada film kartun yang diproduksi jaman dulu sekali dan berwarna hitam putih. Dan saya suka film bagian itu. Hingga suatu saat film itu masuk kedalam mimpi saya. Menjadikan sebagian mimpi indah saya berwarna hitam putih.

Di mimpi terindah saya itu, saya melihat bahwa karakter-karakter kartun Mickey Mouse masuk kedalam dunia nyata. Mereka bermain-main di halaman rumah saya. Cuaca dalam mimpi itu hujan, dan mereka bermain-main air yang menggenang di tanah. Bukan hanya halaman rumah saya, mereka juga bermain di halaman rumah tetangga saya. 

Ketika itu seakan saya menjadi penonton di mimpi saya. Bukan menjadi pelaku utamanya. Saya mengamati keindahan yang hadir jika mereka benar-benar nyata keluar dari film-film yang sudah saya tonton. Mimpi itu sangat berkesan, hingga sekarang umur saya 18 tahun. Mimpi itu terjadi ketika saya mungkin belum masuk TK atau ketika saya TK malahan. Yang jelas bertahun-tahun saya masih menjadikan mimpi itu mimpi terindah saya sepanjang saya hidup di dunia. 

Sunday, January 11, 2015

JKT48 Menurut Saya

Di kisah sebelum ini, saya menjabarkan kepada kalian panjang lebar apa yang saya alami dengan paduan suara ini. 

Kini, saya menyebut mereka bukan sebuah kelompok paduan suara, tetapi seperti kebanyakan orang menyebut mereka, "Idol Group". Entah apa bedanya itu dengan girl band yang sama-sama kelompok paduan suara yang tampil menggunakan tarian. 

Tetapi fenomena grup idola itu lebih membara atmosfernya ketimbang para girl band. Suer.. Dimana saya juga dulu ikut kemembaraannya. Tapi kini, saya cukup jadi pengamat kemembaraan itu. Sudah cukup bagi saya ikut membaranya atmosfer itu. 

Walau keinginan saya bertemu mereka belum terwujud hingga malam ini.

Latar belakang saya menulis ini, karena 15 menit naik motor dari kamar tidur sewaan saya sedang berlangsung acara konser JKT48 di sebuah gelanggang olah raga. Dan saya yakin para wota se-Jogja datang berkumpul disana. Tiketnya lumayan murah untuk ukuran beberapa artis terkenal. Cukup 50rb doang. Tapi entah kenapa dompet saya cukup susah ngeluarin duit segitu buat nonton mereka. Ya biarkanlah kesempatan saya bertemu hilang satu. Walau mungkin itu kesempatan satu-satunya.

Jadi menurut saya, JKT48 itu:
Remaja perempuan yang cantik.
Sedang audisi generasi  keempat sekarang ini.
Sedang digemari para remaja pria seindonesia termasuk sebagian malaysia.
Artis yang membuat saya keracunan.
Artis yang video nya saya tonton ulang-ulang.
Artis yang lagunya susah dimainin pake gitar.
Artis yang membuat blog saya dahulu jadi rame.
Grup yang artisnya juga banyak kaya lagunya.
70an orang ada di satu grup.
Setiap lagunya punya gerakan yang beda.
Yang saya tahu jumlah lagunya sudah (16x5) + (4x6) + 3 = ?.
Berarti ada ? gerakan tarian yang dihapal.
Grup yang kalo latian kelarnya jam 12 malem.
Grup yang membuang uang mereka para fansnya, tapi tidak dengan saya.
Grup yang orang Jepang kenalan saya di twitter jadi suka gara-gara liat fotonya.
Grup yang penuh kontroversi, karena poto aja mbayar.
Grup yang pahanya sengaja keliatan.
Grup yang beberapa anggotanya masuk kemimpi saya..
Grup yang dulu sering dibilang plagiat tetangga sebelah.
Grup yang buat saya heran, kok ya ada grup kaya gitu.
Grup yang juga buat saya, buat postingan tentang mereka di blog pribadi saya.
Grup yang gak tau kapan bubarnya.
Grup yang membuat teman saya menggila.
Grup yang artisnya, ngerekam suara mereka buat dijadiin alarm.
Grup yang ada software kalkulatornya.
Grup yang bakal dihujat suatu saat, jika salah satu anggotanya berpasangan dengan saya.
Artis yang ah sudahlah, capek nulisnya.
Jadi semoga saya bisa ketemu mereka dengan gratis.. Secepatnya.

What I Think About Your Idol

Lebaran Iduladha tahun 2012 lalu, saya pertama kali mengenal sebuah kelompok paduan suara yang di iringi dengan tarian ketika kelompok itu sedang tampil menghibur. Perkenalan saya pertama kali itu diawali dengan sebuah prasangka buruk saya terhadap kelompok itu. Di kala itu saya memang sedang tidak suka atau lebih tepatnya sedang membenci kelompok-kelompok paduan suara yang menghibur para penonton menggunakan sinkronisasi mulut mereka dengan musik yang diputar. 

Teman saya mengenalkan kelompok paduan suara tersebut bukan dari gaya mereka yang sedang tampil menghibur. Tetapi dengan puluhan foto remaja-remaja perempuan yang bisa dibilang tingkat kecantikannya melebihi wanita tercantik di kota tempat saya bersekolah kala itu. Waktu itu dia mempelopori nonton bareng foto-foto remaja-remaja tersebut di dalam mushola sekolah. 

Sebuah tindakan yang kalian pikir itu seharusnya tidak boleh dilakukan, ya kan? Tapi kami melakukannya!. Teman saya itu sebenarnya penggila tarian yang ditarikan para laki-laki yang menjelang dewasa yang berasal dari negeri ginseng. Kadang kala dia juga melakukan tiruan tarian yang dilakukan para laki-laki itu di dalam kelas. Golongan mereka lebih senang disebut B-Boy. 

Oke, setelah perkenalan saya dengan kelompok paduan suara itu, saya belum terlalu terpengaruh dengan adanya paras-paras cantik mereka. Hingga suatu saat, ketika saya melakukan koneksi dengan menggunakan portal sekolah, saya menemukan data dari laptop kakak kelas saya yang berisi beberapa file video yang menampilkan gaya panggung para remaja perempuan itu. Secara iseng saya meng-copy nya. Karena awal tujuan saya menggunakan portal jaringan sekolah untuk mencuri film-film dari laptop para siswa lain yang menggunakan jaringan yang sama. 

Setelah pulang sekolah, saya melihat film-film yang sudah saya curi tadi, termasuk dengan file video yang berisi penampilan kelompok paduan suara. Lirik lagunya sangat asing bagi saya, termasuk musiknya. Tetapi karena saya memang penyuka musik Jepang, saya sedikit agak nyambung ketika mendengarkan musik paduan suara itu yang memang bergenre musik Jepang. Hanya saja penyesuaian lirik bahasa Indonesianya agak kurang pas kala itu ketika saya pertama kali mendengarnya. 

Beberapa waktu berlalu, dan kegilaan teman saya tentang kelompok paduan suara itu mulai menggila. Mereka sering menyanyikan salah satu single dari kelompok itu. Kuping saya yang selalu dekat dengan pergaulan mereka, mulai terkena polusi dari suara-suara mereka yang berisi lirik-lirik lagu kelompok paduan suara yang di ulang-ulang. Dan itu merupakan awal proses dimana membuat orang lain menjadi terbayang-bayang.

Lama-kelamaan, saya lirik itu mulai menghinggapi otak saya. Dan hasrat saya untuk menyelesaikan sepenggal lirik itu mulai datang. Satu-satunya obat yang saya punya hanyalah file video penampilan dari kelompok paduan suara itu. Terpaksa saya mengkonsumsinya dengan menontonnya. Perlahan bayang-bayang tentang lirik itu mulai hilang, tapi justru bayang-bayang para remaja perempuan itu mulai menghinggapi kepala saya. 

Terpaksa saya mencari obat lain, dengan membuka fanspage facebook yang dulu teman saya dan saya tonton bareng-bareng di dalan mushola sekolah. Satu demi satu foto saya lihat. Dan hanya ada rasa kagum dan ingin bertemu dengan mereka demi membuktikan betapa kalah cantiknya wanita tercantik di kota itu. Suatu hal yang aneh. Saya malah terbayang-bayang dan mulai kecanduan paras mereka. Tidak ada unsur lain selain kekaguman dan ingin bertemu.

Selamat! Teman saya sudah meracuni pikiran jernih saya dan mengisinya dengan kelompok paduan suara itu. Lalu suatu saat ada sebuah konser khusus mereka di sebuah stasiun TV swasta nasional. Siaran itu secara live di tayangkan sore hari, tepat setelah saya pulang sekolah. Dan secara tepat waktu, saya mulai menonton penampilan paduan suara itu satu demi satu. Beberapa lagu atau sebagian besar lagu terdengar asing di kuping saya.

Besoknya, saya mengetahui jika bukan saya saja yang melihat penampilan kelompok paduan suara kemarin. Beberapa teman saya yang kelihatannya juga keracunan juga melihat mereka. Keracunan saya pun mulai parah, dengan mendownload lagu-lagu mereka secara ilegal. Dan memasukannya di kartu memori hp saya. Setiap hari saya dengarkan lagu-lagu mereka. 

Saya yang kala itu sudah menjadi blogger, mulai mencari informasi mendalam tentang kelompok itu dan memposting artikel ke blog yang saya kelola. Lama-kelamaan ternyata artikel di blog saya mulai laku di lalu lintas Indonesia. Hal itu membuat saya semakin mendalam mencari informasi tentang mereka di internet dan mempublish informasi baru di blog saya. Hasilnya fantastis, blog saya laku keras ketika ujung tahun 2013. Sehari saya bisa mendapat 4000 page viewer. 

Ketika itu tahap keracunan saya sudah dilevel menegah. Dimana saya mulai tahu informasi-informasi standar keseluruhan. Beberapa orang dari kelompok paduan suara itu saya ikuti di media jejaring sosial twitter. Beberapa yang saya anggap memang terbaik di kelompok itu. Tahun berganti, saya mempunyai ide dengan menggunakan lagu mereka sebagai media belajar saya dalam bermusik menggunakan alat musik gitar. Dari dulu saya memang sudah menyukai gitar. 
Saya beranggapan, jika saya bisa satu lagu mereka sudah dipastikan saya lancar bermain gitar di lagu-lagu musisi lainnya.
Kenapa? karena musik yang bergenre jepang menggunakan sistem kunci yang rumit dan banyak. Begitu juga temponya yang kadang cepat pada beberapa bagian, nadanya juga terlalu sering berubah. Itu satu keuntungan saya menyukai kelompok paduan suara tersebut. Keuntungan lainnya sebenarnya tidak ada. Tapi mereka membuat saya bahagia ketika saya mendengarkan atau menonton pertunjukan mereka.

Kini sekarang saya mulai tidak peduli dengan mereka, karena mungkin saya mulai bosann dan berusaha membuat saya bosan dengan mereka. Tetapi sepertinya itu berlangsung lama, dimana saat ini saya masih suka mendengarkan melodi-melodi dari musik mereka dan juga mempraktekannya dengan menggunakan gitar saya. 

Mungkin saya tidak akan bisa sepenuhnya berhenti menggemari musik mereka ataupun paras mereka. Bahkan sebenarnya, ada ratusan ribu orang yang keracunan lebih parah dari saya. Dimana mereka mulai tidak peduli dengan seberapa banyak uang yang mereka keluarkan setiap harinya yang digunakan untuk menonton pertunjukkan mereka setiap harinya. Ya, mereka melakukan pertunjukan setiap harinya. 

Perhari, mereka harus membayar 50.000 hingga 100.000 hanya untuk tiket masuk. Dimana nilai itu masih sangat besar bagi saya yang tidak memiliki penghasilan tetap. Tapi, demi mengobati keracunan mereka, sepertinya tidak ada cara lain selain menggelontorkan uang tersebut demi bertemu idolanya. 

Sebenarnya, hasrat saya ingin bertemu mereka dan beratapan muka masih ada hingga sekarang ini. Dan saya juga menantikannya. Dan juga menantikan secara gratis. Saya masih tidak mau menghamburkan uang saya demi bertemu mereka yang juga manusia biasa tapi punya hal yang lebih dari hanya sekedar biasa.

Mungkin suatu saat saya bisa bertemu dengan paduan suara kelompok itu. Oya, paduan suara itu memiliki nama JKT48.  hihihi!

Friday, January 9, 2015

Ukuran Kebahagiaan Masa Kecil

Dosen mata kuliah algoritma & pemrograman pernah bilang:
Tingkat kebahagiaan masa kecil seseorang ditentukan jumlah bekas luka yang ada ditubuhnya
Saya setuju dengan analisa dari dosen saya tersebut. Mungkin karena itu memang terbukti pada diri saya. Bekas luka yang timbul karena kecelakaan kecil, jatuh, mbolang, dan sebagainya memang saya rasa bisa dijadikan sebuah patokan seberapa bahagianya masa kecil kalian. Setidaknya bekas luka yang terbuat secara alami karena kenakalan kita masa kecil atau kecerobohan kita masa kecil bisa membuat kita terus mengenang apa yang masa kecil kita lakukan. Seakan-akan bukan menjadi kutukan atau menambah jelek tampilan tubuh kita, tetapi justru menjadi pengenang masa kecil kita. 

Memang gak semua bekas luka di sebabkan karena suatu hal yang menyenangkan pas dilakukan di masa kecil. Tapi jika bekas luka itu memang disebabkan karena suatu hal yang menyenangkan, kita gak bakal menyesal punya bekas luka itu. 

Ada sebuah bekas luka di tangan kanan saya yang hingga kini gak bisa ilang. Mungkin bukan "Hingga Kini" tapi "Sampai kapanpun". Kelas tiga sekolah dasar dulu, ketika sore hari menjelang magrib, saya dan teman masa kecil saya bermain dengan wadah plastik yang di bakar. Suatu hal yang memang asyik melihat tetesan lelehan plastik yang dibakar. Dan suatu kesalahan yang dibilang fatal, jika itu dibuat mainan. 

Tetesan lelehan plastik itu mengenai tangan kanan saya. 5 tetesan yang panas tepatnya. Efeknya, kulit tangan saya ikut meleleh, dan daging segar berwarna putih terlihat. Bisa dikatakan luka robek berbentuk segitiga. Hal yang mengesankan yang saya lakukan setelah terkena cairan panas itu, mencari air dan merendam tangan saya. Kenapa? namanya juga panik!. 

Saya yakin dulu, kulit saya ikut menempel di tetesan plastik yang jatuh ditangan saya. Terus pas tetesan plastik itu saya buang dari tangan saya, kulit pun ikut terbuang. Mengakibatkan bekas luka yang secara permanen. Karena kerusakan kulit yang cukup parah pastinya. 

Semakin bertambah umur, luka itu bukannya memudar tetapi justru malah melebar. Mungkin karena kulitnya tidak bisa regenerasi, dan terus terbentang karena pertumbuhan tangan saya yang dulu ketika itu "tangan anak kecil" ke "tangan orang normal". 

Dan apa yang saya rasakan sekarang ialah tak ada rasa penyesalan. Dan saya selalu menganggap kejadian kecil itu sebagai kenangan indah. Walau itu sebenarnya sebuah kecelakaan karena kecerobohan!

Saya prihatin jika kalian anak orang kaya yang masa kecilnya hanya dilakukan didalam rumah dengan seonggok mainan plastik impor made in china . Tanpa ada petualangan khususnya bersentuhan langsung dengan alam. 

Seberapa banyak bekas luka menyenangkan kalian? Ingatlah, itu bukan hal yang harus dihilangkan dari kenangan. Justru itu sebagai media membuat masa kecil kalian abadi.
Published By Irfan Fahrurrozi