Sudah 12 tahun lebih saya mengikuti pendidikan formal. Berarti sudah 12 tahun lebih otak kiri saya bekerja keras. Dan 12 tahun lebih otak kanan saya tertinggal dari otak kiri saya. Dan sekarang saya berusaha agar otak kanan saya melampaui otak kiri saya. Dan di 12 tahun lebih pendidikan formal itu, ada 12 orang lebih yang jadi wali kelas saya. Setiap kelas berbeda wali kelasnya.
- Taman Kanak-kanak
Wali kelas waktu taman kanak-kanak saya kurang tahu, karena waktu TK saya belum paham apa itu wali kelas, bahkan saya belum pernah dengar kata-kata wali kelas.
- Kelas 1 Sekolah Dasar
Kelas 1 SD, nama wali kelas saya Bu Muriyati. Sering dipanggil Bu Mur. Beliau yang mengajar saya membaca, berhitung, dan hal-hal dasar lainnya. Beliau juga yang mengajarkan saya tentang aksara Bahasa Lampung.
- Kelas 2 Sekolah Dasar
Kelas 2 SD, nama wali kelas saya Bu Sumarni. Panggilannya Bu Marni. Dulu Bu Marni sempat di takuti semua murid. Karena jika nilai dapet angka 6, Bu Marni langsung turun tangan. Iya turun tangan dalam makna denotasi. Melakukan hukuman "jenggit" ke kami muridnya. Tapi ternyata cara itu memang ampuh untuk mendidik kami. Mungkin sekarang kebiasaan itu sudah berhenti dilakukan, karena pendidikan di Indonesia mengharamkan hukuman yang bersifat fisik.
- Kelas 3 Sekolah Dasar
Kelas 3 SD, nama wali kelas saya Bu Siti Rahayu. Jadi Bu Siti ini guru saya yang mengenalkan saya ke pelajaran Bahasa Inggris. Karena waktu kelas 3, pelajaran Bahasa Inggris mulai dipelajari dikelas. Kemampuan saya saat itu cuma berhitung angka satu sampai sepuluh dalam Bahasa Inggris. Itu kemampuan yang saya peroleh ketika masih taman kanak-kanak.
- Kelas 4 Sekolah Dasar
Kelas 4 SD, nama wali kelas saya Bu Sutimah. Panggilannya unik, Bu Timah. Ketika itu beliau seorang guru pelajaran Bahasa Indonesia. Hal yang paling sering saya lakukan saat itu merangkum. Pelajaran Bahasa Indonesia memang gak lepas sama yang namanya merangkum. Dan sudah jadi tradisi dimana ketua kelas lah yang jadi penyuara serta pen-dekte teman-temannya. Dan saya lah ketua kelasnya waktu itu, saya juga yang bertugas di kala itu. Walau kadang-kadang saya juga digantikan oleh beberapa teman saya lainnya.
- Kelas 5 Sekolah Dasar
Kelas 5 SD, nama wali kelas saya Bu Mugiatun. Guru Bahasa Indonesia juga, sekaligus juga mengajar pelajaran KTK bagian menyanyi. Bu Mugiatun juga yang mengajari saya nada-nada serta lagu-lagu nasional yang wajib dihafal. Dihafal dari liriknya sampai doremi-nya.
- Kelas 6 Sekolah Dasar
Kelas 6 SD, nama wali kelas saya Pak Eko Sumardiyono. Di panggil Pak Sumar. Seorang guru MTK yang bertempat tinggal di salah satu gedung di sekolah. Dan kini sudah membangun rumah yang baru dan nyaman tentunya. Orangnya tegas. Sudah mengajar MTK sejak saya kelas 5 SD. Dan harus mempunyai 3 buku tulis untuk pelajaran MTK, buku tugas, buku PR, dan buku catatan.
- Kelas 1 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 1 SMP, nama wali kelas saya Pak Supriyono. Wah, orangnya unik dan sensitif dengan debu. Kelas harus tetap bersih. Dan harus bisa jadi kelas terbersih setiap minggunya. Nyatanya hanya beberapa kali saja jadi kelas terbersih selama 1 tahun. Beliau mengajar MTK. Uniknya beliau sering bercerita hal-hal bersifat spiritual ketika mengajar.
- Kelas 2 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 2 SMP, nama wali kelas saya Mam Ratmi Ningsih. Dipanggil Mam karena tuntutan pekerjaan. Beliau seorang guru Bahasa Inggris, jadi wajar dipanggil seperti itu. Di SMP semua guru Bahasa Inggris gak ada yang dipanggil Bu. Entah karena gengsi atau pengen terlihat kalo guru Bahasa Inggris. Bisa jadi sebagai identitas SMP saya yang bisa dibilang unggul.
- Kelas 3 Sekolah Menengah Pertama
Kelas 3 SMP, nama wali kelas saya Pak Mubalighin. Seorang guru MTK. Setiap kali mengajar beliau hanya membawa satu buah alat komunikasi dan beberapa spidol. Mengajar tanpa buku cetak atau LKS. Saya juga heran entah darimana Beliau mendapat angka-angka yang ditulis di papan tulis. Saking jeniusnya yang pasti. Hanya beberapa guru MTK saya yang seperti itu.
- Kelas 1 dan 2 Sekolah Menengah Kejuruan
Kelas 1 SMK dan 2 SMK, saya punya wali kelas yang sama. Namanya Bu Berty Desmiana. Seorang guru dan dosen komputer. Sebenarnya Bu Berty bakal jadi wali kelas saya selama 3 tahun. Tetapi ketika di pertengahan kelas 3 SMK wali kelas saya diganti. Bu Berty menjabat sebagai ketua jurusan RPL. Dan tidak boleh merangkap menjadi wali kelas.
- Kelas 3 Sekolah Menengah Kejuruan
Sebagian kelas 3 SMK wali kelas saya sama dengan kelas 1 dan 2. Setelah diganti wali kelas saya, Pak Yusup Sunartoni kalo tidak salah nama lengkapnya. Dipanggil Pak Toni. Jarang masuk kelas atau masuk sekolah. Hanya pada hari-hari tertentu saja. Mungkin karena sibuk. Beliau masih tetap kuliah ketika saya kelas 3, walau pangkatnya sudah PNS dan mempunyai penghasilan tetap. Tapi yang namanya ilmu itu tetep harus dicari, selama kita masih hidup. Mungkin itu salah satu prinsip yang dipegang teguh Pak Toni. Orangnya juga friendly buat kami semua.
Ya itulah masa 12 tahun lebih pendidikan formal yang saya lalui dengan mereka para wali kelas saya. Kenangan yang tak terlupakan dan masih saya ingat dengan baik. Terlalu banyak kenangan, saya juga bingung mana dulu yang saya tulis. Dan yang terlintas pertama kali yang saya tulis.
Ya itulah masa 12 tahun lebih pendidikan formal yang saya lalui dengan mereka para wali kelas saya. Kenangan yang tak terlupakan dan masih saya ingat dengan baik. Terlalu banyak kenangan, saya juga bingung mana dulu yang saya tulis. Dan yang terlintas pertama kali yang saya tulis.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.