Minggu, 23 April 2017
Mendapat mandat buat pulang kampung ke Wates, agendanya tilik Simbah, ketemu tamu, sama menyerahkan beberapa amanat yang perlu disampaikan.
Kali ini, petualangan saya pulang kampung, saya abadikan dengan jepretan demi jepretan kamera telepon genggam saya. Tujuannya mencoba meninggalkan jejak, bahwa saya pernah menapaki tilas antara pinggiran Sleman, kota Jogja, hingga berakhir ke kota Wates dan terdampar di kecamatan Wates bagian selatan, mepet pantai.
Petualangan saya, berawal dari stasiun Tugu Jogja pukul 06.00 WIB. Setelah membeli tiket kereta Prambanan Ekspres ( Prameks ), saya pun menunggu jadwal keberangkatan. Sambil menunggu inilah, saya memulai mengabadikan setiap momen yang saya temui ke dalam sebuah gambar, yang kemudian saya Tweetpic ke dalam akun pribadi saya @irfanfahrurrozi.
Waiting for journey to the west..— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Eh, wates deng.. pic.twitter.com/ARWHsAGEQg
Banyak momen yang bisa saya abadikan ketika perjalanan menuju kota Wates menggunakan kereta. Yang paling banyak saya singgung di sini ialah perihal budaya Update-nya Orang Indonesia. Semenjak kamera smartphone sudah sangat memadai untuk mengambil gambar dengan kualitas mumpuni, banyak orang-orang Indonesia yang saat kini memiliki prinsip emoh ketinggalan update.
Mencoba update bapak-bapak yang sedang update.. 😅 pic.twitter.com/EYGFGBpCl1— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Bapak-bapak di depan saya inilah contohnya. Beliau dengan senang hati dan percaya diri memotret kondisi stasiun pada saat itu. Tujuannya tidak lain dan sudah pasti, untuk Update. Minimal untuk mengabari sanak-saudara kabar terkini dari stasiun Tugu Jogja. Tapi, selain untuk mengabari sanak-saudara, banyak yang melakukan cekrek-cekrek untuk menambah koleksi fotonya. Minimal buat di-upload ke sosial media lah. Entah itu Instagram Story, Facebook, atau Twitter (seperti yang saya lakukan, Tweetpic).
Update demi update sili berganti.. pic.twitter.com/yTH06voS5S— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Tapi rasanya tidak mungkin Mbak-Mbak di atas Groufie, terus di-upload ke Twitter. Maklum, Twitter kan sekarang sepi. Semua sudah berpindah ke Instagram. Jadi sangat tidak mungkin di tahun 2017 ini menemukan para Alayers di Twitter. Mereka sudah move on sejak 3-4 tahun yang lalu. Hanya ada para pegiat Twitter yang tersisa. Bisa dibilang, saya salah satunya. 😁
Mbak, kaca keretanya ditempelin stiker dari luar.. Jadi kalo update pake front cam, biar dapet background kursi sama bingkai jendelanya.. pic.twitter.com/iSQetGestv— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Sementara itu di dalam kereta, Mbak duduk di samping saya ini, tidak mau ketinggalan Update. Tentunya cekrek-cekrek, mumpung lagi ada di dalam kereta mestinya. Walau jendela kereta Prameks dilapisi stiker full-body dari depan hingga ekor kereta, Mbak ini tetap gigih kok buat Update. 😂
Pemburu update agak terhalangi sama jendela kereta yang ditempelin stiker full-body dari kepala sampe ekor kereta.. 😂 pic.twitter.com/rCTvkHuNQg— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Setelah sekitar setengah jam di dalam kereta, akhirnya turun juga di stasiun Wates.
Kan, lak wes nyampek.. pic.twitter.com/5nQt4Lvuqk— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 22 April 2017
Sebenarnya angkutan kereta ini sangat efektif dalam hal penghematan waktu. Tapi agak kurang efektif kalo kita naik kereta dalam keadaan ngantuk berat dan perjalan cuma setengah jam. Selain di dalam kereta itu adem karena banyak AC, faktanya di dalam kereta yang sepi merupakan tempat ternyaman buat tidur. Lah, kalo perjalan kereta itu 2 jam, kita bisa tidur tanpa khawatir kebablasan waktu berhenti di stasiun tujuan. Tapi kalo cuma setengah jam, kudu pasang mata yang jeli.
Rehat sejenak sebelum ke transportasi lainnya .. pic.twitter.com/xW4LBdF2FP— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Sebelum lanjut jalan kaki ke terminal Wates, duduk dulu di kursi tunggu yang ada di stasiun. Ya sambil mengumpulkan tenaga buat jalan kaki, yang terpenting sih biar mata bisa melek 100%.
Never skip leg 💪 pic.twitter.com/FH2aW6nRQW— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Jalanan di depan stasiun Wates hari itu, super-lengang. Kayaknya jalan tersebut memang jarang banget dilintasi pengendara motor atau mobil. Gak tau sih kenapa. Tapi faktanya memang begitu.
Jalan kaki dimulai dari jalan itu, sekitar 13 menit perjalanan menuju stasiun Wates. Di tengah-tengah perjalanan, ada sebuah tempat bersejarah di Wates. TK dan SD Kanisius Wates.
One of historic places in Wates.. pic.twitter.com/W2nuDv1T76— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Badluck-nya saya pulang kampung di Minggu pagi. Terminal Wates yang biasanya selalu di tongkrongi kol (angkot) arah Bendungan, kali ini sama sekali mlompong. Gak ada satu pun yang lewat. Mungkin karena faktor Minggu pagi. Terminal pasti sepi. Jadi ya wajar kalo memang gak ada satu pun transportasi yang satu ini.
Hari minggu terminal wates sepi, sama sekali gak ada angkot..— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Terpaksa minta jemputan 😁 pic.twitter.com/kiEmlhl5Di
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya cuss pulang juga. Di jalan lintas provinsi, sempet ketemu rombongan para atlet mini kuda besi yang lagi latian.
Atlet pacuan mini kuda besi lagi latian..— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Kalo beban pacuannya kurang, mungkin sepedanya bisa si ganti becak, muat 2 orang dewasa 1 anak2.. pic.twitter.com/m84dZoWMMD
Dengan pakaian semok-nya, para atlet mini kuda besi yang betisnya kaya tiang listrik ini, mereka didampingi seorang pelatih yang mengiringi mereka menggunakan sepeda motor. Agak kurang adil sih. Para atlet harus mengayuh pedal, sedangkan si pelatih cuma nge-gas doang. Tapi namanya juga atlet, harus mau lah. 😁
Oya, akhirnya bisa tilik Simbah juga. Simbah saya ini, walaupun sudah pikun, tapi fisiknya masih kuat. Bukan berarti beliau kuat buat ngaduk semen atau ngecor lho yaa 😂, tapi kuat dalam artian masih bisa berjalan tanpa bantuan, malah pernah ke warung sendirian. Padahal pikunnya gak ketulungan. Salut! 👍
Mbahku, jiwa nasionalismenya paling tinggi..— Irfan Fahrurrozi (@irfanfahrurrozi) 23 April 2017
Kartinian atau gak kartinian, tiap pasti pake kebaya + jarik.. pic.twitter.com/vT6ZVRmtWf
Umurnya mungkin sudah 90 tahunan, entahlah. Di KTP beliau saja tanggal lahirnya cuma di karang sama petugas dinas kependudukan kok. Tapi mungkin sudah lebih dari 90 tahun.
Cuman Simbah saya ini, hyperactive banget. Bukan berarti pecicilan lari-lari lho yaa. Tapi lebih ke aktif buat tanya ke tamu yang datang ke rumahnya, termasuk saya. Beliau suka bertanya macem-macem, mungkin sekitar 5 pertanyaan.
Setelah rampung pertanyaan ke 5, terus di ulang lagi ke pertanyaan ke 1 sampai seterusnya, dan begitu terus, sampai si tamu pulang ke rumahnya. 😂
Tapi justru pikunnya inilah, yang bikin suasana jadi berwarna. Ada sesuatu yang memancar, sesuatu yang bisa dijadikan guyonan. Bukan bermaksud menertawai pikunnya, tapi mencoba memaknai pikunnya. Biar pikunnya itu bermanfaat, gak hanya sekadar pikun saja. Toh, pikunnya bisa membawa kebahagiaan kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Hehehe..
Maturnuwun Mbah 🙏
-Dari cucumu yang pernah kau tanyai 'siapa simbahmu?', Irfan Fahrurrozi.





