Wednesday, April 26, 2017

Journey to the West. Eh, Wates deng.

Minggu, 23 April 2017
Mendapat mandat buat pulang kampung ke Wates, agendanya tilik Simbah, ketemu tamu, sama menyerahkan beberapa amanat yang perlu disampaikan. 


Kali ini, petualangan saya pulang kampung, saya abadikan dengan jepretan demi jepretan kamera telepon genggam saya. Tujuannya mencoba meninggalkan jejak, bahwa saya pernah menapaki tilas antara pinggiran Sleman, kota Jogja, hingga berakhir ke kota Wates dan terdampar di kecamatan Wates bagian selatan, mepet pantai.

Petualangan saya, berawal dari stasiun Tugu Jogja pukul 06.00 WIB. Setelah membeli tiket kereta Prambanan Ekspres ( Prameks ), saya pun menunggu jadwal keberangkatan. Sambil menunggu inilah, saya memulai mengabadikan setiap momen yang saya temui ke dalam sebuah gambar, yang kemudian saya Tweetpic ke dalam akun pribadi saya @irfanfahrurrozi


Banyak momen yang bisa saya abadikan ketika perjalanan menuju kota Wates menggunakan kereta. Yang paling banyak saya singgung di sini ialah perihal budaya Update-nya Orang Indonesia. Semenjak kamera smartphone sudah sangat memadai untuk mengambil gambar dengan kualitas mumpuni, banyak orang-orang Indonesia yang saat kini memiliki prinsip emoh ketinggalan update. 


Bapak-bapak di depan saya inilah contohnya. Beliau dengan senang hati dan percaya diri memotret kondisi stasiun pada saat itu. Tujuannya tidak lain dan sudah pasti, untuk Update. Minimal untuk mengabari sanak-saudara kabar terkini dari stasiun Tugu Jogja. Tapi, selain untuk mengabari sanak-saudara, banyak yang melakukan cekrek-cekrek untuk menambah koleksi fotonya. Minimal buat di-upload ke sosial media lah. Entah itu Instagram Story, Facebook, atau Twitter (seperti yang saya lakukan, Tweetpic).


Tapi rasanya tidak mungkin Mbak-Mbak di atas Groufie, terus di-upload ke Twitter. Maklum, Twitter kan sekarang sepi. Semua sudah berpindah ke Instagram. Jadi sangat tidak mungkin di tahun 2017 ini menemukan para Alayers di Twitter. Mereka sudah move on sejak 3-4 tahun yang lalu. Hanya ada para pegiat Twitter yang tersisa. Bisa dibilang, saya salah satunya. 😁


Sementara itu di dalam kereta, Mbak duduk di samping saya ini, tidak mau ketinggalan Update. Tentunya cekrek-cekrek, mumpung lagi ada di dalam kereta mestinya. Walau jendela kereta Prameks dilapisi stiker full-body dari depan hingga ekor kereta, Mbak ini tetap gigih kok buat Update. 😂


Setelah sekitar setengah jam di dalam kereta, akhirnya turun juga di stasiun Wates. 


Sebenarnya angkutan kereta ini sangat efektif dalam hal penghematan waktu. Tapi agak kurang efektif kalo kita naik kereta dalam keadaan ngantuk berat dan perjalan cuma setengah jam. Selain di dalam kereta itu adem karena banyak AC, faktanya di dalam kereta yang sepi merupakan tempat ternyaman buat tidur. Lah, kalo perjalan kereta itu 2 jam, kita bisa tidur tanpa khawatir kebablasan waktu berhenti di stasiun tujuan. Tapi kalo cuma setengah jam, kudu pasang mata yang jeli. 


Sebelum lanjut jalan kaki ke terminal Wates, duduk dulu di kursi tunggu yang ada di stasiun. Ya sambil mengumpulkan tenaga buat jalan kaki, yang terpenting sih biar mata bisa melek 100%. 


Jalanan di depan stasiun Wates hari itu, super-lengang. Kayaknya jalan tersebut memang jarang banget dilintasi pengendara motor atau mobil. Gak tau sih kenapa. Tapi faktanya memang begitu. 

Jalan kaki dimulai dari jalan itu, sekitar 13 menit perjalanan menuju stasiun Wates. Di tengah-tengah perjalanan, ada sebuah tempat bersejarah di Wates. TK dan SD Kanisius Wates


Badluck-nya saya pulang kampung di Minggu pagi. Terminal Wates yang biasanya selalu di tongkrongi kol (angkot) arah Bendungan, kali ini sama sekali mlompong. Gak ada satu pun yang lewat. Mungkin karena faktor Minggu pagi. Terminal pasti sepi. Jadi ya wajar kalo memang gak ada satu pun transportasi yang satu ini. 


Setelah setengah jam menunggu, akhirnya cuss pulang juga. Di jalan lintas provinsi, sempet ketemu rombongan para atlet mini kuda besi yang lagi latian. 


Dengan pakaian semok-nya, para atlet mini kuda besi yang betisnya kaya tiang listrik ini, mereka didampingi seorang pelatih yang mengiringi mereka menggunakan sepeda motor. Agak kurang adil sih. Para atlet harus mengayuh pedal, sedangkan si pelatih cuma nge-gas doang. Tapi namanya juga atlet, harus mau lah. 😁

Oya, akhirnya bisa tilik Simbah juga. Simbah saya ini, walaupun sudah pikun, tapi fisiknya masih kuat. Bukan berarti beliau kuat buat ngaduk semen atau ngecor lho yaa 😂, tapi kuat dalam artian masih bisa berjalan tanpa bantuan, malah pernah ke warung sendirian. Padahal pikunnya gak ketulungan. Salut! 👍


Umurnya mungkin sudah 90 tahunan, entahlah. Di KTP beliau saja tanggal lahirnya cuma di karang sama petugas dinas kependudukan kok. Tapi mungkin sudah lebih dari 90 tahun. 

Cuman Simbah saya ini, hyperactive banget. Bukan berarti pecicilan lari-lari lho yaa. Tapi lebih ke aktif buat tanya ke tamu yang datang ke rumahnya, termasuk saya. Beliau suka bertanya macem-macem, mungkin sekitar 5 pertanyaan. 

Setelah rampung pertanyaan ke 5, terus di ulang lagi ke pertanyaan ke 1 sampai seterusnya, dan begitu terus, sampai si tamu pulang ke rumahnya. 😂

Tapi justru pikunnya inilah, yang bikin suasana jadi berwarna. Ada sesuatu yang memancar, sesuatu yang bisa dijadikan guyonan. Bukan bermaksud menertawai pikunnya, tapi mencoba memaknai pikunnya. Biar pikunnya itu bermanfaat, gak hanya sekadar pikun saja. Toh, pikunnya bisa membawa kebahagiaan kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Hehehe..

Maturnuwun Mbah 🙏

-Dari cucumu yang pernah kau tanyai 'siapa simbahmu?', Irfan Fahrurrozi. 

Thursday, April 20, 2017

Islam dan Reformasi ?

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam terbesar di dunia. Jumlah wilayahnya yang luas menjadikan Indonesia memiliki banyak sekali penduduk. Terdiri dari beragam adat, budaya, bahasa, hingga agama yang berbeda-beda. Dan Islam lah agama yang paling banyak dipeluk saat ini.

Kemunculan Islam tidak terlepas dari peran para Waliullah, para Wali Songo yang menyebarkan ajaran agama Islam ke seluruh penjuru negeri. Kendati banyaknya halangan serta penolakan akan ajaran Islam, mereka dengan semangat menegakkan dakwah hingga ke pedalaman yang sulit untuk dicapai. 


Dengan banyaknya pemeluk Islam di Indonesia, menjadikan pemerintahan politik di Indonesia berlandaskan dan sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri. Kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah pun sesuai dengan ajaran Islam. Hingga saat ini, setelah masa reformasi, penyelenggaraan pemerintahan yang berjalan melibatkan dalil-dalil dalam ajaran agama Islam. 

Walaupun nilai-nilai Islam banyak digunakan di dalam penyelenggaraan pemerintahan, Indonesia bukanlah negara yang menganut sistem pemerintahan berbasis Syariah melainkan pemerintahan berbasis Demokrasi. Keputusan penyelenggaraan ini didasarkan karena masyarakat Indonesia yang multikultural dan multi-agamis. Guna menghormati mereka yang berbeda agama serta demi menjunjung tinggi persatuan, maka Founding Father kita menyelenggarakan pemerintahan berbasis demokrasi yang sesuai dengan nilai syariah Islam.

Tetapi banyak ormas-ormas radikal yang kurang setuju dengan hal ini. Beberapa berpendapat bahwa penyelenggaraan pemerintahan harus murni syariah, harus sesuai dengan apa yang mereka pikirkan secara sepihak. Anggapan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin pun mulai luntur dengan adanya ormas-ormas yang menyuarakan keradikalannya, menuntut adanya reformasi dan menolak segala perbedaan yang ada. 


Hal seperti itulah yang harus diwaspadai, selain tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan toleransi, menghormati mereka yang berbeda kepercayaan, serta kasih sayang antar sesama, mereka memperburuk citra Islam itu sendiri. Mereka seakan-akan lupa akan nilai-nilai dasar yang diajarkan. 

Untuk saat ini reformasi yang ada di Indonesia sendiri sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Yang perlu dibenahi ialah pribadinya masing-masing. Dimana para pelaku politik masih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan masing-masing. Hakikatnya, ketika pelaku politik tersebut rusak, maka sistem pemerintahan yang sempurna akan ikut rusak dan menjadikan negara tersebut bukan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Wednesday, April 19, 2017

Pendidikan Masa Depan

Investasi masa depan sebuah bangsa terletak pada penerapan sistem pendidikannya. Keputusan akan bangkit atau tidaknya bangsa tersebut terletak secara terstruktur pada kemampuan masyarakatnya dalam melaksanakan pendidikan semasa hidupnya. Adanya penyelenggaraan pendidikan yang mumpuni, merupakan aset yang sangat berharga bagi sebuah bangsa. Kualitas sebuah bangsa menjadi kunci utama pembangunan sebuah negara. 

Penyelenggaraan pendidikan yang sedang dilakukan di mayoritas negara di dunia ialah dengan melakukan pendidikan berbasis heterogen. Jenis pendidikan yang dimana pelakunya wajib untuk mampu memahami banyak bidang studi dalam satu waktu. Semua kurikulum disusun dan ditanamkan kepada para siswa secara bersamaan tanpa ada jeda untuk memperkaya ilmu yang bersifat non-akademisi. 

Pendidikan berbasis heterogen inilah yang menjadi problema para siswa yang dirasakan saat ini. Terutama karena semakin banyak kurikulum yang masuk ke dalam otak mereka secara bersamaan, akan mempersulit kreatifitas otak mereka di masa depan. Mereka dibiasakan untuk tetap pada batas, sementara kreatifitas mereka menginginkan sesuatu di luar batas. Akibatnya kreatifitas mereka hanya menjadi tahanan seperti di dalam penjara. 


Pendidikan seperti ini sangat tidak cocok untuk diterapkan sebagai investasi masa depan. Ketika seseorang berada pada situasi yang tidak disenanginya, maka tingkat kreatifitasnya akan kalah mutlak dengan rasa ketakutannya. Mereka merasa bodoh dengan sendirinya karena melihat banyaknya materi yang diterima saat bersamaan. Hal semacam inilah yang harus dirubah.

Melihat penerapan sistem pendidikan seperti itu, maka harapan kita untuk melihat Albert Einstein atau Steve Jobs generasi baru hanya akan menjadi sebatas harapan. Mereka yang terpenjara kreatifitasnya, hanya akan menjadi robot hidup yang senang mematuhi perintah dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang.

Sudah saatnya kita menerapkan pendidikan berbasis kreatifitas. Pendidikan yang membuat para siswanya merasa senang untuk terus menggali segala potensi mereka sesuati bakat dan minat. Pendidikan yang mampu menaikkan status negaranya bukan justru menurunkan status negaranya. Pendidikan yang membantu nalar untuk berkembang, bukan membuat nalar menjadi tersiksa. 

Ketika Indonesia menerapkan pendidikan yang serupa, maka tidak ada ruang yang cukup bagi para pemikir gila yang kaya dengan kreatifitas. Tidak ada bibit-bibit unggul yang tercipta. Semua terbatasi oleh setumpuk materi yang menghabiskan waktu mereka untuk memperdalam, memperluas, serta memperkaya kreatifitas mereka.

Humanismenya Manusia, Ketika Nurani dan Akal Berbicara

Peranan manusia dalam sendi kehidupan makhluk hidup di bumi ini, menjadikan manusia sebagai pelaku utama dalam sebuah tatanan sistem yang dibuat oleh Allah SWT. Karena itu manusia mempunyai tanggung jawab yang besar demi mensukseskan peranannya sebagai pelaku utama. Tugasnya berat, yakni menopang seluruh tatanan sistem. 

“Lantas kenapa kita manusia menjadi pelaku utama dalam tatanan sistem tersebut?”. Mari kita paparkan pertanyaan tersebut secara rinci. Pada dasarnya, manusia merupakan satu –satunya makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna diantara ciptaan-Nya yang lain. 

Fakta tersebut tidaklah hanya senda-gurau belaka. Melainkan sebuah bukti yang benar-benar terjadi secara nyata. Sebagai ciptaan yang sempurna, kita diberikan sebuah ‘gift’ berupa akal. Gift inilah yang membuat  kita sebagai manusia menjadi makhluk yang paling sempurna di antara ciptaan - ciptaan-Nya yang lain. Akal inilah juga yang membedakan kita manusia dengan makhluk – makhluk yang lain. 


“Lantas apakah dengan akal tersebut kita mempunyai tanggung jawab lebih?”. Itulah salah satu karunia Allah SWT kepada kita. Kita diberi akal untuk melakukan tugas kita, untuk melaksanakan peranan kita sebagai pelaku utama dalam tatanan sistem yang dibuat oleh Allah SWT. Kita ditakdirkan secara ‘prerogatif’ menjadi ‘khalifah’ atau pemimpin di dunia ini. Termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 30, yang menjelaskan bahwa kita secara nyata diperintahkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Karena tugas kita menjadi seorang khalifah atau pemimpin di muka bumi, maka kita memerlukan sebuah keistimewaan untuk menjalankan peranan tersebut.

Dengan akal tersebut, manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir sesuai dengan kehendaknya sendiri. Manusia bisa memilih apa yang harus dia kerjakan dan mana yang tidak dikerjakan. Itulah fungsi akal pada manusia. Yakni membantu manusia untuk mengambil sebuah keputusan atau membuat sebuah tindakan. Dengan kemampuan tersebut, manusia diberikan mandat untuk menyusun, mengawasi, melaksanakan, tatanan sistem yang dibuat oleh Allah SWT. Entah seperti apa tatanan sistem tersebut berjalan, semua sesuai dengan kehendak akal kita. Terlepas dari takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Untuk mencegah terjadinya kesemrawutan pada sistem yang dijalankan manusia tersebut, diperlukan sebuah perangkat bernama nurani. Nurani merupakan gift lain yang diberikan oleh Allah, bertugas untuk memanusiakan manusia. Isinya ialah rasa kepedulian antara kebaikan dan keburukkan. Nuranilah yang membuat manusia mampu untuk mengeluarkan sisi humanisnya. Nurani jugalah yang membantu kita manusia untuk merasakan adanya kehadiran makhluk lain di sekitar kita. Nuranilah yang berperan penting untuk menjadikan kita tidak merasa egois sendiri.


Perpaduan antara akal dan nurani inilah yang menjadi senjata utama manusia untuk mengelola tatanan sistem yang dibuat oleh Allah SWT. Jika hanya akal saja yang digunakan, maka tatanan sistem yang dijalankan hanya akan menimbulkan keresahan serta ancaman dari manusia itu sendiri. Tetapi jika kita menambahkan nurani untuk melaksanakan tatanan sistem tersebut, maka kesejahteraan akan meliputi segala sendi kehidupan yang dijalani oleh manusia.

Published By Irfan Fahrurrozi