Sunday, May 1, 2016

Bobroknya Media di Indonesia

Media -bentuk pertama dari 'medium'-, alat yang digunakan untuk mengirimkan data atau informasi. 


Media di Indonesia berperan sangat penting dalam penyebaran berita secara aktual, faktual, serta terpercaya. Walau ternyata hanya sedikit yang memang benar-benar aktual, faktual, serta terpercaya. Masih membekas dalam ingatan saya tentang Pemilu Presiden 2014 lalu, di mana media berbondong-bondong beralih profesi dari mendistribusikan berita menjadi penggiat pencari suara bagi kandidat calon presiden. Terlihat bahwa media di Indonesia tidak benar-benar berperan sebagai mana mestinya. 

Keloyalitasan media sebagai penyebar berita patut dipertanyakan ketika tingkat kenetralan media tersebut berpindah ke sisi salah satu pihak yang masih punya hubungan dengan orang dalam pada media tersebut. 

Fakta tersebut mirip dengan politik di negeri tercinta kita ini. Asalkan punya orang dalam, semua beres bisa diatur. Mirisnya praktek seperti itu bisa merambah ke bidang-bidang lain, dari pendidikan, kepolisian, kedokteran, kepegawaian, hingga bidang terkecil dalam lingkup persahabatan.

Untuk media-media di Indonesia, 90% pimpinan media tersebut kini tengah berlomba-lomba menjadi yang terkuat dalam bidang politik. Kebetulan atau memang kesengajaan?. Para pimpinan media tersebut kebanyakan sudah lupa dengan tujuan dan fungsi media didirikan. Terlihat mereka justru gembar-gembor dengan visi-misi yang diusungnya sebagai politisi bukan sebagai pimpinan media. 

Memang media sendiri merupakan senjata ampuh untuk menarik, mencari, serta mendapatkan suara dari masyarakat luas. Cukup dengan memuja-muji diri sendiri, atau cukup sedikit menjatuhkan lawan politik tetapi secara terus-menerus. Semua itu dilakukan serentak oleh media-media di Indonesia yang pimpinannya terjun ke bidang politik.

Ada media yang hanya memberitakan Gubernur provinsi tertentu ? Ada..
Ada media yang hanya memberitakan Calon presiden tertentu ? Ada..
Ada media yang isi beritanya nyeritain pimpinannya ? Ada..

Jika diabsen satu-persatu, semua hal negatif tentang media ada pada media Indonesia. 

Bahkan dalam menampilkan berita, media Indonesia cenderung berat untuk memberitakan prestasi anak-anak Indonesia jika tidak mempunyai kepentingan untuk menaikkan derajat pimpinan medianya. Terlihat tentang minimnya pemberitaan Musa La Ode, hafidz Al-Qur'an asli Indonesia yang membuat decak kagum negara-negara Arab tentang kemampuannya menghafalkan Al-Qur'an serta Al-Hadits. 


Kenapa minim pemberitaan ? Selain karena memang tidak ada untungnya bagi si pimpinan media jika menggembor-gemborkan berita tersebut, isu SARA juga jadi faktor lainnya. Media yang dikuasai oleh golongan tertentu, pasti akan minim pemberitaan jika yang diberitakan bukan termasuk golongannya. Sekali lagi praktek orang dalam terjadi dalam hal ini.


Selain hal tersebut, saya ingat tentang pemberitaan seorang anak Indonesia yang mahir bermain piano lalu tampil serta menjadi nominator pada ajang Grammy Award 2016, Joey Alexander. Jika membandingkan pemberitaan yang dilakukan media luar dan media Indonesia, terlihat jika media luar memberitakan hal tersebut dengan pujian pada judul beritanya. Sedangkan media Indonesia justru bertolak belakang dengan media luar. Hal ini membuat saya berpikiran, apakah harus menang terlebih dahulu untuk bisa dipuji oleh media Indonesia. 



Ketika media-media di Indonesia tengah serentak menampilkan kebobrokannya, media nasional lah yang harusnya turun tangan menjadi panutan para media-media tersebut. Media nasional perlu memberi contoh bagaimana media itu sebenarnya. Bagaimana media benar-benar menjalankan fungsi serta kewajibannya kepada masyarakat luas dalam hal menyebarkan informasi yang aktual, faktual, serta terpercaya. Tidak memihak dan selalu bersikap netral untuk seluruh pihak.

Ada harapan agar kedepannya media Indonesia ini benar-benar melakukan norma-norma ke-Indonesiaannnya. Untuk sekarang memang masih sekadar harapan, tapi jika diwujudkan tentu saja akan membuahkan hasil yang nantinya akan membuat masyarakat berdecak kagum akan loyalitas media Indonesia. Praktek-praktek seperti orang dalam atau SARA hilang secara keseluruhan hingga keakar-akarnya. 

Memang masih sulit untuk bisa mewujudkan hal seperti itu. Terlebih lagi bukan hanya terjadi pada media Indonesia saja, tetapi juga media-media Internasional yang sudah mempunyai kelas dibidangnya. Tetapi itu bukan alasan bagi Indonesia untuk berkata 'maklum' karena yang di luar juga seperti itu. Media Indonesia bisa menjadi contoh bagi media-media luar akan loyalitasnya sebagai media yang sebenar-benarnya. Menjalankan fungsinya secara kaffah dan tidak hanya sekadar memberikan berita yang membuat telinga panas bagi pendengarnya.

Semoga media Indonesia berubah ke arah yang lebih baik. 

Published By Irfan Fahrurrozi