満月 ( Mangetsu ), sebuah kata dalam bahasa Jepang yang bermakna "Bulan Purnama" dalam bahasa Indonesia. Bulan purnama merupakan fase bulan ketika bulan benar-benar secara penuh menampakkan keseluruhan permukaan terang ke permukaan bumi. Bulan purnama selalu terjadi ketika tanggal menunjukkan angka 15 dalam kalender Hijriyah maupun Jawa.
Bulan purnama sering dikaitkan dengan keindahan malam yang terjadi hanya sekali dalam satu bulan. Karena hanya terjadi sekali, maka bulan purnama sering sekali mendapat keistimewaan dihati seluruh manusia di permukaan bumi yang sedang menikmati bulan purnama. Umumnya mereka di daerah pedesaan lah yang lebih merasakan keistimewaan dari terangnya bulan purnama, karena masih minimnya penerangan di sekitar mereka ketimbang orang-orang yang ada di daerah perkotaan. Di mana polusi cahaya selalu terjadi ketika malam hari. Membuat langit malam tak nampak memancarkan cahaya dari bulan maupun bintang.
Bulan purnama sering juga di anggap klenik oleh masyarakat Indonesia. Hampir di semua suku di Indonesia menganggap ada sebuah kekuatan gaib yang terpancar ketika bulan purnama yang terang terlihat. Kebanyakan mereka yang masih memegang faham primitif, akan melakukan ritual-ritual pemujaan maupun ritual-ritual sakral yang ditujukan untuk sang bulan purnama. Semua itu dilakukan demi kelancaran kelangsungan hidup mereka.
Hal tersebut tidak lah benar secara ilmiah maupun secara agama. Tidak ada kaitannya bulan purnama dengan hal-hal gaib. Karena semuanya berjalan sesuai kehendak-Nya. Di mana perputaran bulan akan seperti itu selamanya hingga kiamat datang kelak. Manusia modern tidak akan melakukan ritual-ritual seperti itu karena sudah berpikir maju dan tidak lagi percaya dengan hal-hal klenik semacam itu.
Bagi saya, bulan purnama merupakan sebuah momen di mana saya bisa lebih mengagumi ciptaan-Nya pada saat itu. Kebanyakan orang akan keluar rumah untuk menikmati cahaya matahari yang dipantulkan oleh permukaan bulan. Biasanya mereka akan bercengkerama dengan sesama keluarga maupun orang lain di teras rumah. Begitu juga dengan orang tua saya, yang selalu leyeh-leyeh sambil mengobrol santai saat bulan purnama datang.
Sudah 9 bulan saya di Jogja, berarti sudah 9 fase bulan purnama saya lewatkan di sini. Dulu ketika saya masih berada di Lampung, saya sering menikmati bulan purnama dari depan rumah. Ketika saya masih kecil, kakak-kakak saya akan keluar rumah duduk di pinggir jalan bersama tetangga-tetangga samping kanan kiri. Mereka bercanda sambil menikmati indahnya bulan purnama tentunya. Saya hanya pun sekadar ikut-ikutan keluar rumah dan duduk di sekitar mereka, walau saya masih belum paham apa yang mereka bicarakan waktu itu.
Menginjak remaja, saya masih tetap suka menikmati bulan purnama. Terlebih lagi jika suasana sedang mendukung kala itu. Langit cerah dan kebetulan listrik padam. Bisa dibilang itu momen yang sudah lama saya rindukan. Mungkin KLP ( perusahaan listrik dahulu ) sengaja mematikan aliran listrik supaya orang-orang keluar rumah untuk menikmati cahaya bulan purnama. Yah, begitulah kenyataannya.
Ketika remaja, saya sering menikmati bulan purnama sendirian. Teman-teman saya lebih suka keluar malam ke kota ketimbang berada di sekitar rumah mereka. Kakak-kakak saya juga sudah tidak satu rumah lagi dengan saya. Hanya ada ayah dan ibu saya saja di teras rumah. Biasanya saya memainkan gitar sambil duduk di pinggir jalan menikmati bulan purnama. Di situ saya merasakan kedamaian yang terpadu antara alunan gitar yang saya mainkan, suara serangga malam serta pancaran cahaya kuning keemasan dari bulan purnama. Rasa sendiri seketika hilang begitu saja. Bisa dibilang saya menikmati kesendirian tanpa merasakan bahwa saya sendiri.
Beberapa kendaraan roda dua maupun roda empat melintas di samping saya. Beberapa tetangga saya yang lewat. Kebanyakan mereka akan menyapa saya ketika melintas di samping saya. Sudah kebiasaan memang saling menyapa ketika ada seseorang di pinggir jalan. Terkadang teman saya yang lewat juga sekadar mampir ngobrol tentang segala hal yang ada.
Andai saya masih mempunyai waktu, saya masih ingin merasakan suasana malam seperti itu. Listrik padam ketika bulan purnama nampak. Mencoba menikmati hidup sebisa mungkin dalam kesederhanaan tanpa kemewahan yang ada. Sebuah perasaan damai muncul di tengah terangnya bulan, seketika masalah hilang seketika. Perasaan nyaman datang berkelanjutan, seperti cahaya bulan yang tak terhalang awan.
Bulan, aku merindu.




