Thursday, March 19, 2015

夏 ( Manatsu )

夏 ( Manatsu ), sebuah kata yang berasal dari bahasa Jepang. Sebuah kata yang bermakna sebuah musim yang terjadi di seluruh dunia kecuali bagian kutub. Sebuah kata yang menggambarkan keindahan serta keistimewaan alam ciptan-Nya. Musim panas, itulah makna dari kata tersebut bagi pengguna bahasa Indonesia. Atau "summer" bagi pengguna bahasa Inggris.

Musim panas, datang ketika menjelang penghujung akhir bulan ketiga di setiap tahun. Penanda bahwa air hujan sudah mulai jarang turun ke bumi. Penanda bahwa hari-hari akan sering dihiasi oleh cerahnya matahari di siang hari dan terangnya bintang di malam hari. Penanda bahwa sunrise dan sunset datang untuk ikut menghiasi hari demi hari.

Musim panas, datang sebagai akhir musim hujan di tempat beriklim tropis di bumi. Sebuah awal dari akhir bencana banjir yang datang ketika musim hujan. Sebuah mula dari hembusan angin yang bertiup dari timur ke barat. Sebuah titik kebahagiaan ketika layang-layang mulai mengudara menampakkan keelokan sayap-sayapnya. Sebuah keindahan tentunya.

Musim panas identik dengan suara garengpung. Sebuah hewan yang menjadi penanda dimulainya sebuah musim yang identik dengan  kebahagiaan. Ciri khas yang belum hilang hingga sekarang. Dan tentunya berharap tak akan pernah hilang selamanya. Biarlah menjadi sebuah kekhasan dari sebuah musim yang dimana kebahagiaan selalu ada untuk bisa didapat. 

Suara yang selalu dirindukan selama enam bulan ketika musim hujan datang. Suara unik yang tercipta dari gesekkan sayap-sayap transparannya, yang selalu membawa kedamaian setiap pendengarnya. Ikut menambah hangatnya suasana siang hari bersama keluarga yang sedang bercengkrama antar sesama. Menambah eratnya persaudaraan sesama manusia di kala berbincang di siang hari. Di sela-sela istirahat siang melepas penat.

Garengpung, begitulah saya menyebutnya. Lebih tepatnya, begitulah kami orang Jawa termasuk keluarga saya menyebutnya. Sebuah serangga yang hanya menampakkan diri ketika dimulainya musim panas hingga berakhirnya musim panas. Sebuah serangga yang menjadi sebuah ciri dimana ekosistem alam masih asri.


Garengpung mempunyai kaitan dengan pohon katu dalam ingatan saya. Garengpung juga mengingatkan saya tentang masa-masa kecil saya dulu ketika musim panas. Bisa dibilang serangga itu ikut membuat sebuah kenangan manis dengan masa kecil saya dulu. Di mana ketika ayah saya pertama kali mengenalkan saya kepada serangga itu. Semua indah kala itu.

Garengpung menjadi penanda musim panas akan datang. Dan kemarin sore, setelah sekian lama saya tidak mendengar serangga itu bernyanyi, akhirnya saya mendengarnya di tengah-tengah komplek perumahan yang padat penduduk dan minim akan tumbuhan hijau. Tapi sudah takdir-Nya untuk saya bisa mendengar serangga istimewa itu di tengah situasi yang sebenarnya bisa dibilang mustahil untuk bisa mendengar lantunan suara gesekkan dari sayap-sayapnya.

Memang sekarang sudah waktunya untuk mendengar hewan itu menggesekkan sayap-sayapnya. Membuat saya mengingat-ingat apa yang terjadi dulu kala ketika masa kecil saya yang penuh kebahagiaan sedang terjadi. Membuat saya mengucap syukur tentang yang terjadi di masa dulu. Mustahil sekarang bisa merasakan kebahagiaan yang sama ketika dulu kala, tapi paling tidak kenangan membantu saya merasakan kembali apa yang sudah sekian lama terjadi.

Musim panas memang saat-saat di mana permainan masa kecil saya dilakukan. Permainan yang jelas jauh dari teknologi modern seperti sekarang ini. Yang hanya ada kembali ke alam serta menjadi pribadi yang alami dengan segala imajinasi yang ada dalam pikiran di dalam kepala juga di dalam hati. Semua mempunyai nilai lebih untuk membuat musim panas yang berharga tak hanya sekadar lewat tanpa ada sebuah kenangan yang tergores di dalam batin.

Berharap musim panas yang dulu bisa hadir secara lebih dan bukan hanya hadir sebagai kenangan yang tak  mungkin bisa diulang. Hadir secara nyata untuk mengulang kebahagiaan yang dulu sudah tercipta. Walau itu memang mustahil untuk sekarang, tapi setidaknya harapan harus ada. Tanpa harapan, masa-masa yang dilalui sudah pasti tanpa kesan karena tidak adanya sebuah capaian dari sebuah harapan. 
Berharap musim panas kali ini bisa membuat kenangan yang manis tentunya.


No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi