Sunday, June 28, 2015

3 Kali Puasa, 3 Kali Lebaran

28 Juni 2014 - Hari ketika kami umat muslim melakukan puasa Ramadan untuk pertama kalinya pada tahun 1435 Hijriyah. Tepat setahun yang lalu. Saat ini 28 Juni 2015, kita juga sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan tahun 1436 Hijriyah. Hanya saja saat ini kita sudah mencapai hari ke 11 puasa Ramadan.


Semakin kesini, bulan Ramadan semakin berjalan maju. Itu karena patokan sistem penanggalan hijriyah dan masehi berbeda. Sistem penanggalan hijriyah, dilakukan dengan berpatokan dengan sistem peredaran bulan terhadap bumi. Sedangkan sistem penanggalan masehi, menganut peredaran bumi terhadap matahari.

Rata-rata perbedaan sistem penanggalan ini mengakibatkan adanya selisih sekitar 11-12 hari. Maka dari itu, bulan-bulan pada sistem penanggalan hijriyah akan terus maju jika dibandingkan dengan sistem penanggalan masehi. 

Menurut ayah saya dengan adanya perbedaan sistem penanggalan ini, kita akan secara teratur mengalami 3 kali puasa 3 kali lebaran dalam jangka beberapa tahun. Ayah saya yang seorang guru matematika pernah menghitung perbedaan sistem penanggalan ini. Dan tepat pada tahun 2033 masehi kelak, kita akan mengalami peristiwa '3 kali puasa, 3 kali lebaran'. 

  • Sabtu, 1 Januari 2033 = Puasa Ramadan
  • Senin, 3 Januari 2033 = Lebaran Idul Fitri
  • Jumat, 11 Maret 2033 = Puasa Arafah
  • Sabtu, 12 Maret 2033 = Lebaran Idul Adha
  • Rabu, 23 November 2033 = Puasa Ramadan
  • Jumat, 23 Desember 2033 = Lebaran Idul Fitri
Yap, dalam setahun kita mengalami '3 kali puasa, 3 kali lebaran'. Hal ini membuat kita teringat dengan lagu bang Toyib yang konon katanya tidak pulang selama 3 kali puasa, 3 kali lebaran. Bisa jadi ketika tahun itu tiba, akan ada media yang menyangkut-pautkan kejadian ini dengan lagu tersebut. Setidaknya saya sudah menyangkut-pautkan hal ini sekarang. 

Lantas pada tahun 2033 bang Toyib akan pulang?

Jika dilihat berdasar tanggal tersebut, maka masyarakat yang beragama Kristen dan Katolik akan merayakan hari raya Natal pada suasana hari raya Idul Fitri. Sedikit unik memang, tapi itulah kenyataannya. Hari raya Idul Fitri hanya 2 hari lebih dulu dibanding dengan hari raya natal umat Nasrani pada tanggal 25 Desember 2033.

Kejadian unik ini akan terus terjadi dengan selang beberapa tahun. Mungkin saya akan bertanya kepada Ayah saya selisih tersebut nanti. 

Tahun 2033 masih sekitar 17 tahun lagi. Pertanyaanya, apa kita masih diberi umur hingga menjumpai tahun tersebut? Wallahu'alam.. Tapi sudah patutnya kita berdo'a kepada Allah demi kebaikan kita mendatang. Kuasa Allah sudah menjadi kuasa di atas kuasa. Apapun ketetapannya kelak, kita hanya bisa berdo'a serta berusaha yang terbaik. 

Bisa jadi kala itu, zaman di bumi sudah benar-benar berubah. Bisa saja bumi sudah kiamat, kaum muslim mencapai kejayaannya, atau malah manusia di bumi sudah tidak beragama. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Selain dipengaruhi oleh takdir yang maha kuasa, usaha manusia sendiri juga turut berperan besar mempengaruhi perubahan zaman di masa depan.

Usaha kita sekarang, menentukan kita di masa depan. 

Referensi : 
-- Irfan

Saturday, June 27, 2015

Kita Kembali ke Zaman Nabi Luth

Semakin kesini, ternyata bukan semakin maju. Zaman sekarang ternyata justru kembali lagi ke zaman dahulu. Walau teknologi zaman sekarang lebih maju dari zaman dahulu, tapi pola pikirnya kembali ke zaman dulu.

Selain kita kembali ke zaman batu, di mana batu-batu menjadi digandrungi serta dihargai mahal. Kita juga ternyata kembali ke era zaman Nabi Luth. Zaman di mana manusia-manusia terdahulu menyalahi fitrah yang telah ditetapkan. 

Kembali ke zaman batu sudah dirasakan sangat kental di Indonesia. Dari anak kecil kelas satu SD hingga aki-aki lanjut usia, semua mengidam-idamkan batu. Keponakan saya yang masih kelas satu SD, sibuk mencari bongkahan batu yang ada di sekitar rumah. Bahkan kesehariannya tidak luput dari mencari serta memoles ditambah menggosok batu yang sudah didapat. Walau yang diambil bukanlah batu yang dimuliakan seperti batu akik dan hanya batu granit biasa.

Melihat pesatnya perkembangan batu sekarang ini, saya malah jadi khawatir terhadap perkembangan zaman Nabi Luth. Jika fenomena zaman batu kembali mencuat hingga akhirnya menular ke sana - sini, bisa jadi zaman Nabi Luth juga menular ke sana - sini hingga akhirnya melumer dan lumrah di kalangan masyarakat.

Kemarin tepatnya, negara adidaya Amerika meresmikan pernikahan sejenis. Pernikahan yang dijalankan oleh pasangan yang sama jenis kelaminnya. Mirip dengan zaman Nabi Luth, atau bisa dikatakan kita kembali ke zaman Nabi Luth. 


Peresmian tersebut bahkan turut diaminkan oleh Twitter, Intel, 9gag, dan perusahaan-perusahaan lain. Mereka memperingati peresmian tersebut dengan mengganti foto profil pada laman media sosial mereka. Hal ini bisa dijadikan patokan bahwa peresmian tersebut tidak hanya mendapat sedikit dukungan, tapi malah jutaan dukungan mungkin. 

"Besar pasak dari pada tiang, Besar dukungan ketimbang tolakan".

Alasan dari peresmian pelegalan pernikahan sejenis tersebut ialah 'siapapun boleh mencintai dan tak terbatasi'. Memang siapapun boleh saling mencintai, tapi memang tetap harus berpatokan terhadap fitrahnya. Kita boleh mencintai sesama manusia, tetapi kita tidak boleh melanggar fitrah yang sudah diberikan kepada manusia itu sendiri. Lantas untuk apa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan jika bukan untuk saling mencintai?

Dengan adanya laki-laki dan perempuan, umat manusia bisa terus ada serta terjaga kelestariaannya. Intinya kehidupan manusia akan tetap berlanjut jika laki-laki dan perempuan saling mengikuti fitrah yang diberikan. 

Pelegalan pernikahan sejenis ini, membuat pikiran mereka para pelakunya menjadi mundur. Yap! mundur ke zaman Nabi Luth. Negara Amerika yang mayoritas masyarakatnya beragama Nasrani, pasti paham betul dengan cerita Nabi Luth. Nabi Luth bukanlah nabi umat islam saja, tapi juga di anggap seorang nabi dalam kitab injil versi sekarang yang menjadi panutan agama Nasrani. Fenomena ini memperlihatkan kepada kita kiamat semakin dekat. 

Mungkinkah dengan adanya fenomena ini, Nabi Luth akan dihidupkan kembali dan memberikan pencerahan kepada mereka yang menganut faham pernikahan sejenis?

Tentu tidak! 

Nabi Luth tidak akan dihidupkan kembali ke dunia. Selain karena Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir, cerita Nabi Luth juga sudah tergambar jelas di Al-qur'an. Sudah jelas hukumnya haram menikah sesama jenis. Selain memang bukan qodrat, takdir, serta fitrah manusia, pernikahan sejenis tidak akan pernah menghasilkan keuntungan. 

Tidak menghasilkan keturunan, tapi malah menghasilkan penyakit akhlak. Zaman dulu agar penyakit akhlak itu tidak menyebar ke negara tetangga, cara satu-satunya ialah dengan melenyapkan semuanya dari atas bumi. Benar, zaman dulu Nabi Luth memohon kepada Allah untuk memberikan azab kepada mereka di dunia sebelum mereka menerima azab di akhirat. Dan permohonan Nabi Luth itu dikabulkan oleh Allah dengan mendatangkan azab yang mengakibatkan mereka semua mati. Hal itu ditujukan sebagai pelajaran untuk umat sesudahnya.

Lalu pertanyaannya, apa kita semua orang-orang yang menolak pelegalan tersebut harus serentak bersama-sama memohon kepada Allah agar mereka diberikan azab yang sama seperti kaum Nabi Luth?

Semoga mereka semua bisa kembali ke jalan yang benar, sebelum Allah benar-benar memberikan hadiah berupa azab. Amin.. 

Thursday, June 25, 2015

Perjalanan



Sebuah karya emas dari seorang penyanyi lawas mendiang Franky Sahilatua. Dinyanyikan oleh adiknya Jane Sahilatua.

Sebuah lagu yang saya dengar pertama kali melalui siaran radio khusus lagu-lagu nostalgia yang diputar ketika menjelang tengah malam sebagai penghantar tidur.

Dulu saya memang sering mendengar acara tersebut melalui radio di handphone saya. Memang tidak umum seorang remaja seperti saya kala itu mendengarkan radio yang memutar lagu-lagu lawas.

Mendengar radio saja sudah sangat tidak umum, apalagi mendengar acara seperti itu. Tapi mungkin saya memang berbeda dari kebanyakan remaja seperti saya.

Bagi saya, lagu-lagu nostalgia tak pernah tergerus zaman. Lagu-lagu itu akan terus ada dan exist untuk pendengarnya. Bisa dibilang itu suatu kekuatan tersendiri dari lagu-lagu lawas.

Lagu yang diciptakan mendiang Franky tersebut berjudul Perjalanan. Sebuah lagu balada yang mempunyai aura tersendiri di dalamnya. Dan saya bangga bisa merasakan aura tersebut.

Lagu yang bisa membawa saya merasakan makna yang ada di dalam liriknya. Itulah yang membuat saya menyukai lagu ini.

Perlu beberapa waktu bagi saya menemukan judul lagu ini. Baru saat ini saya mengetahui judul yang sebenarnya.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bukan saya saja yang menyukai lagu tersebut, tapi juga Ayah saya. Mungkin karena selera kami sama. Atau mungkin ada makna tersendiri lagu ini bagi Ayah saya.

Lagu ini sebuah karya emas bagi saya. Dan akan terus menjadi karya emas bagi para penikmatnya.

- Irfan

Wednesday, June 10, 2015

Mbah Begu Namanya

27 Oktober 2003

Sebuah hari yang sebenarnya cukup spesial bagi umat muslim khususnya. Tak terkecuali umat muslim di sekitar tempat tinggal saya, di Desa Sidodadi. Waktu itu merupakan hari pertama kami umat muslim menjalankan puasa Ramadhan tahun 1424 Hijriyah. Namun hari itu juga menjadi hari duka bagi seorang kakek tua yang hidup di sebuah bekas lumbung padi 100 meter dari rumah saya.

Mbah Begu namanya. Yap, kami dulu memanggil beliau Mbah Begu. Saya tidak pernah tahu asal-usul atau makna nama Mbah Begu tersebut. Beliau seorang kakek tua yang serba kekurangan menurut saya, tapi juga memiliki kelebihan. Mbah Begu memiliki keterbatasan secara fisik yakni tidak mampu berbicara seperti layaknya orang normal lainnya. Bisa dibilang beliau seorang tunawicara.

Selain keterbatasan secara fisik, Mbah Begu juga memiliki keterbatasan secara psikis. Mbah Begu mempunyai latar belakang sakit jiwa. Mungkin itu yang membuat beliau hidup sebatangkara di sebuah tempat kotor bekas lumbung padi yang lama sekali sudah tak digunakan. Mbah Begu pun ditakuti oleh kami anak-anak.

Kami yang dulu masih anak-anak, sering menghindar jika berpapasan dengan beliau di jalan. Alasannya sederhana, karena beliau (maaf) gila. Layaknya orang yang menderita sakit jiwa, biasanya mereka selalu diasingkan bahkan dikucilkan oleh warga. Beberapa menghiraukan mereka, tapi ada juga yang peduli. Kami anak-anak sering dikejar oleh beliau. Saya tidak tahu kenapa, tapi menurut saya orang yang menderita sakit jiwa tidak akan mengejar seseorang jika tidak diganggu.

Memang benar hal tersebut. Dulu kami sering mengganggu beliau, dalam artian menggodanya saja. Saya tidak tahu seberapa marahnya beliau waktu itu hingga mengejar kami anak-anak yang kala itu hanya tahu bermain saja. Saya pun pernah dikejar beliau, bahkan hingga ke belakang rumah saya. Waktu itu saya dan teman-teman saya sedang bersepeda di depan rumah. Itu terjadi ketika saya masih TK. Tanpa sengaja beliau melihat kami, tanpa basa-basi kami langsung menuju belakang rumah saya.

Kami langsung masuk pawon (bahasa Jawa dari dapur) melalui pintu samping. waktu itu di rumah saya hanya ada Ibu saya seorang, Ayah saya sedang bekerja, dan saudara-saudara bersekolah. Kami bersembunyi sampai beliau melewati depan rumah saya dan lalu kami kembali bermain. Namun tak disangka beliau malah mengikuti kami hingga belakang rumah saya. Kami yang ketakutan hanya ketar-ketir berjejer di pawon.

Kala itu Ibu saya yang melindungi kami semua. Ibu saya juga terlihat agak takut kala itu jika saya amati. Bagaimana tidak, berhadapan dengan orang yang menderita sakit jiwa yang sedang mengejar anak-anak. Ibu saya berkata kepada beliau dari kejauhan, "Ini anaknya Pak Lurah!". Ibu saya mengulangi perkataan  tersebut berulang beberapa kali. Mbah Begu yang pada dasarnya seorang tunawicara, hanya bisa mengeluarkan kata "hahohmhaouhu". Entahlah, beliau seperti mengeluarkan kata-kata yang kami semua tidak paham artinya.

Mbah Begu pun menganggukkan kepalanya berulang pertanda bahwa beliau mengerti dan paham apa yang dikatakan oleh Ibu saya. Setelah itu beliau kembali meneruskan perjalanannya meninggalkan kami semua yang tengah ketakutan. Kala itu beliau membawa sebuah kain yang dijadikan kantong atau tas. Entah apa isinya, tapi beliau selalu membawa tas tersebut ketika pergi kemana-mana.

Tentunya lega melihat beliau pergi meninggalkan kami semua. Saya dan teman-teman saya pun kembali bermain hanya di sekitaran rumah saya. Tentunya rasa ketakutan kami masih ada. Dan Ibu saya juga menyarankan untuk tidak bermain jauh dari rumah. Itu merupakan pengalaman terparah saya dengan beliau Mbah Begu. 

Tentunya bukan hanya saya saja yang pernah mengalami hal seperti itu. Dulu anak-anak yang lebih tua dari kami juga sering mengganggu beliau. Mungkin karena itu beliau menjadi sedikit sentimen terhadap anak-anak seperti saya. Bahkan saya yang benar-benar takut dan tak pernah sekalipun mengganggu, masih dikejar oleh beliau. Hal itu menjadi momok bagi kami anak-anak.

Terlepas dari pemikiran kami sebagai anak-anak, Mbah Begu terlihat seperti orang normal lainnya. Beliau butuh makan untuk menyambung hidup sehari-hari. Beliau memang tidak bekerja, bisa jadi karena faktor keterbatasan yang dimilikinya. Ada tetangga saya yang sepertinya terus memberikan Mbah Begu makanan untuk menyambung hidup. Manusia tak bisa begitu saja membiarkan manusia kesulitan. Itu yang mendorong beberapa tetangga saya membantu beliau.

Kepedulian warga sekitar pula yang memberikan Mbah Begu sebuah tempat berteduh. Dari dulu memang ada sebuah lumbung yang sudah lama tidak terpakai. Seingat saya, lumbung padi itu tak pernah beroperasi. Mungkin sejak saya lahir lumbung padi itu sudah tidak digunakan warga. Keadaan lumbung itu jauh dari kata layak jika dijadikan tempat tinggal. 

Tapi karena keadaan beliau yang serba keterbatasan, warga menjadikan bekas lumbung padi itu sebagai rumah untuk berteduh serta berlindung beliau. Kebetulan lumbung padi itu hanya berjarak sekitar 30 meter dari Taman Kanak-kanak tempat saya bersekolah dulu. Dan bisa dibilang letak lumbung padi itu ada dirute jalan yang sehari-hari saya lalui untuk pergi sekolah di Taman Kanak-kanak. 

Tentu ada sebuah ketakutan ketika saya terpaksa harus melewati depan lumbung padi tempat Mbah Begu tinggal. Yang saya lakukan hanya jalan menunduk, tanpa berani melihat lumbung padi tersebut. Kadang kala beliau ada di depan lumbung padi ketika pagi. Itu menjadi sebuah hal yang mendebarkan bagi saya. 

Sewaktu saya TK, saya selalu berangkat sendiri tanpa di antar oleh Ibu atau Bapak saya. Saya tidak takut jika harus berada sendirian tanpa orang tua ketika bersekolah. Yah bisa dibilang saya pemberani kala itu. Wajar saja, karena memang Taman Kanak-kanak tersebut masih cukup dekat dari rumah saya. 

Dengan adanya momok melewati lumbung padi, saya masih tetap jalan terus menuju sekolah. Tak pernah terpikir oleh saya untuk bolos sekolah hanya karena alasan harus melewati lumbung padi tempat Mbah Begu tinggal. Ada seorang teman yang menurut saya dia bernyali besar. Ketika pulang sekolah, dia sengaja mengganggu beliau dengan meneriakkan namanya dan lari sekencang mungkin setelah itu. Suatu saat beliau melemparnya dengan tongkat kayu, untungnya lemparan itu tidak tepat mengenainya.

Selain di bekas lumbung padi, Mbah Begu juga pernah tidur di balai desa. Tempatnya hanya bersebelahan dengan sekolah TK saya. Teman-teman yang memang bernyali pernah sekali mengganggu beliau. Akibatnya beliau yang mungkin marah, mendatangi sekolah TK kami. Dan mencari mereka. Untungnya beliau tidak sampai masuk kedalam ruang kelas.

Masa kecil saya bisa dibilang cukup banyak tantangan. Tapi hingga kini itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Tentunya itu sangat berharga bagi saya.

Mbah Begu yang hidup sebatangkara, ternyata tak berjalan lama. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di lumbung padi tersebut tepat pada tanggal 27 Oktober 2003 hari pertama puasa. Seingat saya hari itulah dimana beliau ditemukan sudah terbujur kaku. 

Beliau yang terus berjuang menjalani hidup yang penuh rintangan, harus terhenti oleh waktu. Waktu itu ada tetangga saya yang ketika habis sholat tarawih di masjid, sempat melempari atap seng lumbung padi tersebut dengan batu. Tujuannya tentu usil. Tapi tak ada tanda-tanda beliau keluar dari lumbung padi tersebut. Pada pagi harinya, hal itu dilakukan kembali dan tetap sama. Beliau tidak keluar dari lumbung padi itu. 

Mungkin karena penasaran, dia memeriksa lumbung padi tersebut. Dan ternyata beliau sudah menghadap kepada-Nya. Begitulah cerita yang saya dengar dan masih saya ingat.

Setelah itu para warga berkumpul mengurus jenazah alm. Mbah Begu. Kami anak-anak juga berkumpul di sana melihat para warga yang melayat. Jenazahnya dimandikan, dikafani, serta disolatkan oleh warga. Benar-benar murni dilakukan secara gotong-royong. 

Ada seorang warga yang mengenal keluarga dari beliau. Dia pun menghubungi pihak keluarga tentang kematian Mbah Begu. Saya melihat keluarga Mbah Begu datang. Kepala desa kami mengumumkan berita duka tersebut kepada warga bahwa jenazah sudah siap dikebumikan. Pak lurah memberi tahu, bahwa nama asli alm. Mbah Begu ialah Biran. Tertera pada KTP yang ditemukan di dalam lumbung padi.

Tentu dengan meninggalnya beliau, kami anak-anak tidak akan pernah terganggu lagi dengan ketakutan-ketakutan kami. Tapi disisi lain tetap ada pihak yang ditinggalkan yaitu keluarga beliau. Sudah hampir 12 tahun beliau meninggalkan kita semua. Tapi kisah beliau akan menjadi sejarah yang abadi bagi kami yang pernah bertemu atau bertatap muka secara langsung. 

Sebuah kisah pahit dari perjuangan seseorang menjalani hidup sebatangkara karena keterbatasan fisik dan psikis. Sebuah kisah tentang kepedulian warga terhadap dia yang terabaikan. Sebuah kisah tentang trauma anak-anak TK. Sebuah kisah yang mempunyai banyak nilai moral, pelajaran tentang hidup, hingga perjuangan hidup. Semua sudah menjadi sejarah. Tak berbekas dan hanya ada dalam ingatan.

Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya.

Friday, June 5, 2015

Published By Irfan Fahrurrozi