Wednesday, June 10, 2015

Mbah Begu Namanya

27 Oktober 2003

Sebuah hari yang sebenarnya cukup spesial bagi umat muslim khususnya. Tak terkecuali umat muslim di sekitar tempat tinggal saya, di Desa Sidodadi. Waktu itu merupakan hari pertama kami umat muslim menjalankan puasa Ramadhan tahun 1424 Hijriyah. Namun hari itu juga menjadi hari duka bagi seorang kakek tua yang hidup di sebuah bekas lumbung padi 100 meter dari rumah saya.

Mbah Begu namanya. Yap, kami dulu memanggil beliau Mbah Begu. Saya tidak pernah tahu asal-usul atau makna nama Mbah Begu tersebut. Beliau seorang kakek tua yang serba kekurangan menurut saya, tapi juga memiliki kelebihan. Mbah Begu memiliki keterbatasan secara fisik yakni tidak mampu berbicara seperti layaknya orang normal lainnya. Bisa dibilang beliau seorang tunawicara.

Selain keterbatasan secara fisik, Mbah Begu juga memiliki keterbatasan secara psikis. Mbah Begu mempunyai latar belakang sakit jiwa. Mungkin itu yang membuat beliau hidup sebatangkara di sebuah tempat kotor bekas lumbung padi yang lama sekali sudah tak digunakan. Mbah Begu pun ditakuti oleh kami anak-anak.

Kami yang dulu masih anak-anak, sering menghindar jika berpapasan dengan beliau di jalan. Alasannya sederhana, karena beliau (maaf) gila. Layaknya orang yang menderita sakit jiwa, biasanya mereka selalu diasingkan bahkan dikucilkan oleh warga. Beberapa menghiraukan mereka, tapi ada juga yang peduli. Kami anak-anak sering dikejar oleh beliau. Saya tidak tahu kenapa, tapi menurut saya orang yang menderita sakit jiwa tidak akan mengejar seseorang jika tidak diganggu.

Memang benar hal tersebut. Dulu kami sering mengganggu beliau, dalam artian menggodanya saja. Saya tidak tahu seberapa marahnya beliau waktu itu hingga mengejar kami anak-anak yang kala itu hanya tahu bermain saja. Saya pun pernah dikejar beliau, bahkan hingga ke belakang rumah saya. Waktu itu saya dan teman-teman saya sedang bersepeda di depan rumah. Itu terjadi ketika saya masih TK. Tanpa sengaja beliau melihat kami, tanpa basa-basi kami langsung menuju belakang rumah saya.

Kami langsung masuk pawon (bahasa Jawa dari dapur) melalui pintu samping. waktu itu di rumah saya hanya ada Ibu saya seorang, Ayah saya sedang bekerja, dan saudara-saudara bersekolah. Kami bersembunyi sampai beliau melewati depan rumah saya dan lalu kami kembali bermain. Namun tak disangka beliau malah mengikuti kami hingga belakang rumah saya. Kami yang ketakutan hanya ketar-ketir berjejer di pawon.

Kala itu Ibu saya yang melindungi kami semua. Ibu saya juga terlihat agak takut kala itu jika saya amati. Bagaimana tidak, berhadapan dengan orang yang menderita sakit jiwa yang sedang mengejar anak-anak. Ibu saya berkata kepada beliau dari kejauhan, "Ini anaknya Pak Lurah!". Ibu saya mengulangi perkataan  tersebut berulang beberapa kali. Mbah Begu yang pada dasarnya seorang tunawicara, hanya bisa mengeluarkan kata "hahohmhaouhu". Entahlah, beliau seperti mengeluarkan kata-kata yang kami semua tidak paham artinya.

Mbah Begu pun menganggukkan kepalanya berulang pertanda bahwa beliau mengerti dan paham apa yang dikatakan oleh Ibu saya. Setelah itu beliau kembali meneruskan perjalanannya meninggalkan kami semua yang tengah ketakutan. Kala itu beliau membawa sebuah kain yang dijadikan kantong atau tas. Entah apa isinya, tapi beliau selalu membawa tas tersebut ketika pergi kemana-mana.

Tentunya lega melihat beliau pergi meninggalkan kami semua. Saya dan teman-teman saya pun kembali bermain hanya di sekitaran rumah saya. Tentunya rasa ketakutan kami masih ada. Dan Ibu saya juga menyarankan untuk tidak bermain jauh dari rumah. Itu merupakan pengalaman terparah saya dengan beliau Mbah Begu. 

Tentunya bukan hanya saya saja yang pernah mengalami hal seperti itu. Dulu anak-anak yang lebih tua dari kami juga sering mengganggu beliau. Mungkin karena itu beliau menjadi sedikit sentimen terhadap anak-anak seperti saya. Bahkan saya yang benar-benar takut dan tak pernah sekalipun mengganggu, masih dikejar oleh beliau. Hal itu menjadi momok bagi kami anak-anak.

Terlepas dari pemikiran kami sebagai anak-anak, Mbah Begu terlihat seperti orang normal lainnya. Beliau butuh makan untuk menyambung hidup sehari-hari. Beliau memang tidak bekerja, bisa jadi karena faktor keterbatasan yang dimilikinya. Ada tetangga saya yang sepertinya terus memberikan Mbah Begu makanan untuk menyambung hidup. Manusia tak bisa begitu saja membiarkan manusia kesulitan. Itu yang mendorong beberapa tetangga saya membantu beliau.

Kepedulian warga sekitar pula yang memberikan Mbah Begu sebuah tempat berteduh. Dari dulu memang ada sebuah lumbung yang sudah lama tidak terpakai. Seingat saya, lumbung padi itu tak pernah beroperasi. Mungkin sejak saya lahir lumbung padi itu sudah tidak digunakan warga. Keadaan lumbung itu jauh dari kata layak jika dijadikan tempat tinggal. 

Tapi karena keadaan beliau yang serba keterbatasan, warga menjadikan bekas lumbung padi itu sebagai rumah untuk berteduh serta berlindung beliau. Kebetulan lumbung padi itu hanya berjarak sekitar 30 meter dari Taman Kanak-kanak tempat saya bersekolah dulu. Dan bisa dibilang letak lumbung padi itu ada dirute jalan yang sehari-hari saya lalui untuk pergi sekolah di Taman Kanak-kanak. 

Tentu ada sebuah ketakutan ketika saya terpaksa harus melewati depan lumbung padi tempat Mbah Begu tinggal. Yang saya lakukan hanya jalan menunduk, tanpa berani melihat lumbung padi tersebut. Kadang kala beliau ada di depan lumbung padi ketika pagi. Itu menjadi sebuah hal yang mendebarkan bagi saya. 

Sewaktu saya TK, saya selalu berangkat sendiri tanpa di antar oleh Ibu atau Bapak saya. Saya tidak takut jika harus berada sendirian tanpa orang tua ketika bersekolah. Yah bisa dibilang saya pemberani kala itu. Wajar saja, karena memang Taman Kanak-kanak tersebut masih cukup dekat dari rumah saya. 

Dengan adanya momok melewati lumbung padi, saya masih tetap jalan terus menuju sekolah. Tak pernah terpikir oleh saya untuk bolos sekolah hanya karena alasan harus melewati lumbung padi tempat Mbah Begu tinggal. Ada seorang teman yang menurut saya dia bernyali besar. Ketika pulang sekolah, dia sengaja mengganggu beliau dengan meneriakkan namanya dan lari sekencang mungkin setelah itu. Suatu saat beliau melemparnya dengan tongkat kayu, untungnya lemparan itu tidak tepat mengenainya.

Selain di bekas lumbung padi, Mbah Begu juga pernah tidur di balai desa. Tempatnya hanya bersebelahan dengan sekolah TK saya. Teman-teman yang memang bernyali pernah sekali mengganggu beliau. Akibatnya beliau yang mungkin marah, mendatangi sekolah TK kami. Dan mencari mereka. Untungnya beliau tidak sampai masuk kedalam ruang kelas.

Masa kecil saya bisa dibilang cukup banyak tantangan. Tapi hingga kini itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. Tentunya itu sangat berharga bagi saya.

Mbah Begu yang hidup sebatangkara, ternyata tak berjalan lama. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di lumbung padi tersebut tepat pada tanggal 27 Oktober 2003 hari pertama puasa. Seingat saya hari itulah dimana beliau ditemukan sudah terbujur kaku. 

Beliau yang terus berjuang menjalani hidup yang penuh rintangan, harus terhenti oleh waktu. Waktu itu ada tetangga saya yang ketika habis sholat tarawih di masjid, sempat melempari atap seng lumbung padi tersebut dengan batu. Tujuannya tentu usil. Tapi tak ada tanda-tanda beliau keluar dari lumbung padi tersebut. Pada pagi harinya, hal itu dilakukan kembali dan tetap sama. Beliau tidak keluar dari lumbung padi itu. 

Mungkin karena penasaran, dia memeriksa lumbung padi tersebut. Dan ternyata beliau sudah menghadap kepada-Nya. Begitulah cerita yang saya dengar dan masih saya ingat.

Setelah itu para warga berkumpul mengurus jenazah alm. Mbah Begu. Kami anak-anak juga berkumpul di sana melihat para warga yang melayat. Jenazahnya dimandikan, dikafani, serta disolatkan oleh warga. Benar-benar murni dilakukan secara gotong-royong. 

Ada seorang warga yang mengenal keluarga dari beliau. Dia pun menghubungi pihak keluarga tentang kematian Mbah Begu. Saya melihat keluarga Mbah Begu datang. Kepala desa kami mengumumkan berita duka tersebut kepada warga bahwa jenazah sudah siap dikebumikan. Pak lurah memberi tahu, bahwa nama asli alm. Mbah Begu ialah Biran. Tertera pada KTP yang ditemukan di dalam lumbung padi.

Tentu dengan meninggalnya beliau, kami anak-anak tidak akan pernah terganggu lagi dengan ketakutan-ketakutan kami. Tapi disisi lain tetap ada pihak yang ditinggalkan yaitu keluarga beliau. Sudah hampir 12 tahun beliau meninggalkan kita semua. Tapi kisah beliau akan menjadi sejarah yang abadi bagi kami yang pernah bertemu atau bertatap muka secara langsung. 

Sebuah kisah pahit dari perjuangan seseorang menjalani hidup sebatangkara karena keterbatasan fisik dan psikis. Sebuah kisah tentang kepedulian warga terhadap dia yang terabaikan. Sebuah kisah tentang trauma anak-anak TK. Sebuah kisah yang mempunyai banyak nilai moral, pelajaran tentang hidup, hingga perjuangan hidup. Semua sudah menjadi sejarah. Tak berbekas dan hanya ada dalam ingatan.

Semoga beliau ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi