Sebuah kisah yang dulu pernah saya tulis. Dan memang saya itu bukan seorang yang jenius. Semua orang yang menganggap saya jenius berarti mereka sudah melakukan sebuah kesalahan. Karena kenyataannya saya bukan seorang yang jenius.
Masa kecil saya, pernah memenangkan perlombaan. Ya, saya sering ikut lomba. Guru-guru saya yang mengirim saya ke lomba. Formal maupun informal. Ketika kecil memang saya pasti mendapat ranking semasa SD ataupun TPA. Suatu hal yang saya tidak tau apa sebabnya.
Saya tidak pernah belajar ketika malam atau siang, kecuali ketika mau ulangan besoknya. Dan hal itu berlaku sampai sekarang. Tapi entah kenapa saya malah mengungguli mereka teman-teman sadya yang nyatanya belajar setiap malam, walau terkadang itu dipaksa. Wah saya tidak tau kenapa.
Menurut saya semua orang itu jenius. Dan karena semua orang jenius, maka jenius itu tidak ada. Semua orangkan sama. Kenapa membeda-bedakan?. Semua orang juga jenius. Tapi yang membedakan itu bakat. Tergantung bakatnya apa.
Saya selalu mendapat rangking ketika SD atau TPA. Itu bukan karena saya jenius, tapi karena saya tahu lebih dulu. Jika semua teman-teman saya seperti saya, kemungkinan besar saya tidak akan mendapat rangking.
Tahu lebih dulu, itu kuncinya. Seandaikan semua orang Indonesia tahu lebih dulu ketimbang semua orang luar negeri, saya yakin Indonesia pasti selalu mendapat rangking. Hanya saja orang Indonesia jarang yang tahu lebih dulu.
Ketika SMP, saya tidak pernah mendapat rangking. Ya karena teman-teman saya yang lainnya tahu lebih dulu ketimbang saya. Dan itu bukti nyata jika tahu lebih dulu itu membuat seseorang lebih unggul secara pemikiran. Tapi tahu lebih dulu bukan menjadi kunci seseorang unggul secara akhlaq.
Tahu lebih dulu, membuat teman-teman saya ketika itu menganggap saya itu pintar dan jenius. Padahal saya dan mereka sama-sama jenius juga pintar. Yang membedakan bakatnya saja. Andai mereka tahu lebih dulu, pasti juga mereka akan mendapatkan apa yang saya dapatkan.
Terkadang mereka yang tahu lebih dulu suka memandang remeh orang-orang yang tidak tahu lebih dulu. Dan saya benci orang seperti itu. Pura-pura tidak tahu lebih dulu, itu jalan yang harus saya tempuh. Jalan itu biasanya saya lakukan kepada orang-orang yang memang menganggap remeh orang yang tidak tahu lebih dulu. Akhirnya saya pun merasakan bagaimana diremehkan.
Tahu lebih dulu juga kadang-kadang membuat seseorang menjadi ingin dihormati. Rasa seakan-akan dia itu bosnya. Namanya juga manusia pasti gak luput dengan yang namanya hal-hal negatif. Tapi hal itu harusnya memang menjadi pelajaran yang penting.
Semoga orang-orang yang tahu lebih dulu merasakan apa yang orang-orang tidak tahu lebih dulu rasakan. Bukan hanya merasakan sesuatu secara sepihak. Tapi juga merasakan apa yang sedang terjadi dan dialami di lain pihak.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.