Sunday, January 18, 2015

Rokok dan Saya

Rokok dan saya, sesuatu yang memang kurang akur. Rokok gak suka saya, saya juga gak suka rokok. Suatu hal yang sangat sulit jika kami berdua bergabung. Bagai api dan air, jika digabungkan salah satu akan musnah.Walau begitu, saya sudah mengenal rokok sejak kecil. Bahkan sejak sebelum saya masuk TK.

Pertemuan saya dengan rokok ketika itu sudah pasti bukan hanya pertemuan biasa. Tapi pertemuan dimana saya dan rokok mencoba untuk bergabung. Ya, saya mencoba merokok. Sebuah tindakan yang seharusnya anak kecil tidak lakukan. Tapi saya melakukan walau hanya beberapa hisap saja.

Hal yang saya rasakan pada saat itu cuma manggut-manggut, karena waktu itu saya cuma di rayu oleh tetangga saya yang usianya sudah remaja. Dan entah kenapa saya mau mencoba itu. Sudah terlalu lama buat di ingat-ingat.

Ketika itu ternyata rokok rasanya tidak seenak kelihatannya. Begitu juga yang saya rasakan sekarang. Mengkonsumsi asap rokok yang sudah di hisap perokok lain. Rasanya merokok ya mirip seperti itulah. Bedanya kita gak merasakan rasa manis pada kertas di ujung ekor rokok, dan hanya merasakan asap yang sudah dibuang perokok.

Beberapa kali saya juga mencoba bergabung dengan rokok. Hasilnya pun negatif, dan salah satu dari kami harus musnah jika terus bergabung. Karena memang saya tidak merasa cocok, saya pun memaksa untuk tidak bergabung kembali dilain waktu. Sebuah usaha menolak setiap rokok yang ditawarkan teman-teman saya yang pada dasarnya seorang perokok aktif.

Saya pernah menonton sebuah video dokumentasi berdurasi sekitar satu jam dari media Amerika. Video itu bercerita tentang perindustrian rokok serta para perokok di Indonesia. Berikut apa yang saya dapat dari video itu.
Di negara Amerika yang sebenarnya merupakan negara asal dari pabrik rokok "Marlboro", iklan rokok di media saluran TV diblokir perijinannya. Sehingga tidak ada satupun iklan rokok yang bermunculan di TV Amerika. Hal itu dilakukan pemerintah Amerika untuk menekan jumlah perokok aktif di negaranya. Selain itu, iklan-iklan lain seperti papan reklame atau poster pun juga dilarang. Sebuah terobosan yang memang patut diakui kesuksesannya.
Berbeda dengan Indonesia yang justru sangat mudah bagi kita untuk melihat iklan rokok. Dari media elektronik ataupun yang bertebaran menyebar di jalan-jalan. Sebuah kebijakan memang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Hentikan penyebaran iklan rokok di Indonesia.
Video itu berlanjut menceritakan perjalanan seorang reporter media Amerika bersama relawan anti rokok dari Indonesia menelusuri ibukota Jakarta. Sang reporter itu merasa takjub dengan ibukota Jakarta, karena iklan rokok serta outlet-outlet rokok yang sangat mudah sekali dijumpai di Indonesia. Sang relawan bercerita betapa beratnya perjuangan mereka mengatasi problema rokok.  
Reporter itu pun menanyai beberapa pelajar yang menggunakan seragam dan sedang merokok. Sebuah jawaban unik keluar dari mulut mereka. Betapa memang parahnya Indonesia jika dikaitkan dengan rokok.
Memang begitulah kenapa saya tidak menjadi seorang perokok seperti teman-teman saya yang lainnya. "Karena saya dan rokok tidak bisa bergabung". Jika digabungkan? salah satu dari kami akan musnah. Hingga saat ini saya masih tidak mempunyai ketertarikan akan rokok. Dan semoga hal itu berjalan sepanjang hidup saya hingga rokok benar-benar musnah dari Indonesia.  


Saya sematkan video yang sudah saya tonton mengenai rokok dan Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi