Sunday, January 11, 2015

What I Think About Your Idol

Lebaran Iduladha tahun 2012 lalu, saya pertama kali mengenal sebuah kelompok paduan suara yang di iringi dengan tarian ketika kelompok itu sedang tampil menghibur. Perkenalan saya pertama kali itu diawali dengan sebuah prasangka buruk saya terhadap kelompok itu. Di kala itu saya memang sedang tidak suka atau lebih tepatnya sedang membenci kelompok-kelompok paduan suara yang menghibur para penonton menggunakan sinkronisasi mulut mereka dengan musik yang diputar. 

Teman saya mengenalkan kelompok paduan suara tersebut bukan dari gaya mereka yang sedang tampil menghibur. Tetapi dengan puluhan foto remaja-remaja perempuan yang bisa dibilang tingkat kecantikannya melebihi wanita tercantik di kota tempat saya bersekolah kala itu. Waktu itu dia mempelopori nonton bareng foto-foto remaja-remaja tersebut di dalam mushola sekolah. 

Sebuah tindakan yang kalian pikir itu seharusnya tidak boleh dilakukan, ya kan? Tapi kami melakukannya!. Teman saya itu sebenarnya penggila tarian yang ditarikan para laki-laki yang menjelang dewasa yang berasal dari negeri ginseng. Kadang kala dia juga melakukan tiruan tarian yang dilakukan para laki-laki itu di dalam kelas. Golongan mereka lebih senang disebut B-Boy. 

Oke, setelah perkenalan saya dengan kelompok paduan suara itu, saya belum terlalu terpengaruh dengan adanya paras-paras cantik mereka. Hingga suatu saat, ketika saya melakukan koneksi dengan menggunakan portal sekolah, saya menemukan data dari laptop kakak kelas saya yang berisi beberapa file video yang menampilkan gaya panggung para remaja perempuan itu. Secara iseng saya meng-copy nya. Karena awal tujuan saya menggunakan portal jaringan sekolah untuk mencuri film-film dari laptop para siswa lain yang menggunakan jaringan yang sama. 

Setelah pulang sekolah, saya melihat film-film yang sudah saya curi tadi, termasuk dengan file video yang berisi penampilan kelompok paduan suara. Lirik lagunya sangat asing bagi saya, termasuk musiknya. Tetapi karena saya memang penyuka musik Jepang, saya sedikit agak nyambung ketika mendengarkan musik paduan suara itu yang memang bergenre musik Jepang. Hanya saja penyesuaian lirik bahasa Indonesianya agak kurang pas kala itu ketika saya pertama kali mendengarnya. 

Beberapa waktu berlalu, dan kegilaan teman saya tentang kelompok paduan suara itu mulai menggila. Mereka sering menyanyikan salah satu single dari kelompok itu. Kuping saya yang selalu dekat dengan pergaulan mereka, mulai terkena polusi dari suara-suara mereka yang berisi lirik-lirik lagu kelompok paduan suara yang di ulang-ulang. Dan itu merupakan awal proses dimana membuat orang lain menjadi terbayang-bayang.

Lama-kelamaan, saya lirik itu mulai menghinggapi otak saya. Dan hasrat saya untuk menyelesaikan sepenggal lirik itu mulai datang. Satu-satunya obat yang saya punya hanyalah file video penampilan dari kelompok paduan suara itu. Terpaksa saya mengkonsumsinya dengan menontonnya. Perlahan bayang-bayang tentang lirik itu mulai hilang, tapi justru bayang-bayang para remaja perempuan itu mulai menghinggapi kepala saya. 

Terpaksa saya mencari obat lain, dengan membuka fanspage facebook yang dulu teman saya dan saya tonton bareng-bareng di dalan mushola sekolah. Satu demi satu foto saya lihat. Dan hanya ada rasa kagum dan ingin bertemu dengan mereka demi membuktikan betapa kalah cantiknya wanita tercantik di kota itu. Suatu hal yang aneh. Saya malah terbayang-bayang dan mulai kecanduan paras mereka. Tidak ada unsur lain selain kekaguman dan ingin bertemu.

Selamat! Teman saya sudah meracuni pikiran jernih saya dan mengisinya dengan kelompok paduan suara itu. Lalu suatu saat ada sebuah konser khusus mereka di sebuah stasiun TV swasta nasional. Siaran itu secara live di tayangkan sore hari, tepat setelah saya pulang sekolah. Dan secara tepat waktu, saya mulai menonton penampilan paduan suara itu satu demi satu. Beberapa lagu atau sebagian besar lagu terdengar asing di kuping saya.

Besoknya, saya mengetahui jika bukan saya saja yang melihat penampilan kelompok paduan suara kemarin. Beberapa teman saya yang kelihatannya juga keracunan juga melihat mereka. Keracunan saya pun mulai parah, dengan mendownload lagu-lagu mereka secara ilegal. Dan memasukannya di kartu memori hp saya. Setiap hari saya dengarkan lagu-lagu mereka. 

Saya yang kala itu sudah menjadi blogger, mulai mencari informasi mendalam tentang kelompok itu dan memposting artikel ke blog yang saya kelola. Lama-kelamaan ternyata artikel di blog saya mulai laku di lalu lintas Indonesia. Hal itu membuat saya semakin mendalam mencari informasi tentang mereka di internet dan mempublish informasi baru di blog saya. Hasilnya fantastis, blog saya laku keras ketika ujung tahun 2013. Sehari saya bisa mendapat 4000 page viewer. 

Ketika itu tahap keracunan saya sudah dilevel menegah. Dimana saya mulai tahu informasi-informasi standar keseluruhan. Beberapa orang dari kelompok paduan suara itu saya ikuti di media jejaring sosial twitter. Beberapa yang saya anggap memang terbaik di kelompok itu. Tahun berganti, saya mempunyai ide dengan menggunakan lagu mereka sebagai media belajar saya dalam bermusik menggunakan alat musik gitar. Dari dulu saya memang sudah menyukai gitar. 
Saya beranggapan, jika saya bisa satu lagu mereka sudah dipastikan saya lancar bermain gitar di lagu-lagu musisi lainnya.
Kenapa? karena musik yang bergenre jepang menggunakan sistem kunci yang rumit dan banyak. Begitu juga temponya yang kadang cepat pada beberapa bagian, nadanya juga terlalu sering berubah. Itu satu keuntungan saya menyukai kelompok paduan suara tersebut. Keuntungan lainnya sebenarnya tidak ada. Tapi mereka membuat saya bahagia ketika saya mendengarkan atau menonton pertunjukan mereka.

Kini sekarang saya mulai tidak peduli dengan mereka, karena mungkin saya mulai bosann dan berusaha membuat saya bosan dengan mereka. Tetapi sepertinya itu berlangsung lama, dimana saat ini saya masih suka mendengarkan melodi-melodi dari musik mereka dan juga mempraktekannya dengan menggunakan gitar saya. 

Mungkin saya tidak akan bisa sepenuhnya berhenti menggemari musik mereka ataupun paras mereka. Bahkan sebenarnya, ada ratusan ribu orang yang keracunan lebih parah dari saya. Dimana mereka mulai tidak peduli dengan seberapa banyak uang yang mereka keluarkan setiap harinya yang digunakan untuk menonton pertunjukkan mereka setiap harinya. Ya, mereka melakukan pertunjukan setiap harinya. 

Perhari, mereka harus membayar 50.000 hingga 100.000 hanya untuk tiket masuk. Dimana nilai itu masih sangat besar bagi saya yang tidak memiliki penghasilan tetap. Tapi, demi mengobati keracunan mereka, sepertinya tidak ada cara lain selain menggelontorkan uang tersebut demi bertemu idolanya. 

Sebenarnya, hasrat saya ingin bertemu mereka dan beratapan muka masih ada hingga sekarang ini. Dan saya juga menantikannya. Dan juga menantikan secara gratis. Saya masih tidak mau menghamburkan uang saya demi bertemu mereka yang juga manusia biasa tapi punya hal yang lebih dari hanya sekedar biasa.

Mungkin suatu saat saya bisa bertemu dengan paduan suara kelompok itu. Oya, paduan suara itu memiliki nama JKT48.  hihihi!

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi