Friday, January 9, 2015

Ukuran Kebahagiaan Masa Kecil

Dosen mata kuliah algoritma & pemrograman pernah bilang:
Tingkat kebahagiaan masa kecil seseorang ditentukan jumlah bekas luka yang ada ditubuhnya
Saya setuju dengan analisa dari dosen saya tersebut. Mungkin karena itu memang terbukti pada diri saya. Bekas luka yang timbul karena kecelakaan kecil, jatuh, mbolang, dan sebagainya memang saya rasa bisa dijadikan sebuah patokan seberapa bahagianya masa kecil kalian. Setidaknya bekas luka yang terbuat secara alami karena kenakalan kita masa kecil atau kecerobohan kita masa kecil bisa membuat kita terus mengenang apa yang masa kecil kita lakukan. Seakan-akan bukan menjadi kutukan atau menambah jelek tampilan tubuh kita, tetapi justru menjadi pengenang masa kecil kita. 

Memang gak semua bekas luka di sebabkan karena suatu hal yang menyenangkan pas dilakukan di masa kecil. Tapi jika bekas luka itu memang disebabkan karena suatu hal yang menyenangkan, kita gak bakal menyesal punya bekas luka itu. 

Ada sebuah bekas luka di tangan kanan saya yang hingga kini gak bisa ilang. Mungkin bukan "Hingga Kini" tapi "Sampai kapanpun". Kelas tiga sekolah dasar dulu, ketika sore hari menjelang magrib, saya dan teman masa kecil saya bermain dengan wadah plastik yang di bakar. Suatu hal yang memang asyik melihat tetesan lelehan plastik yang dibakar. Dan suatu kesalahan yang dibilang fatal, jika itu dibuat mainan. 

Tetesan lelehan plastik itu mengenai tangan kanan saya. 5 tetesan yang panas tepatnya. Efeknya, kulit tangan saya ikut meleleh, dan daging segar berwarna putih terlihat. Bisa dikatakan luka robek berbentuk segitiga. Hal yang mengesankan yang saya lakukan setelah terkena cairan panas itu, mencari air dan merendam tangan saya. Kenapa? namanya juga panik!. 

Saya yakin dulu, kulit saya ikut menempel di tetesan plastik yang jatuh ditangan saya. Terus pas tetesan plastik itu saya buang dari tangan saya, kulit pun ikut terbuang. Mengakibatkan bekas luka yang secara permanen. Karena kerusakan kulit yang cukup parah pastinya. 

Semakin bertambah umur, luka itu bukannya memudar tetapi justru malah melebar. Mungkin karena kulitnya tidak bisa regenerasi, dan terus terbentang karena pertumbuhan tangan saya yang dulu ketika itu "tangan anak kecil" ke "tangan orang normal". 

Dan apa yang saya rasakan sekarang ialah tak ada rasa penyesalan. Dan saya selalu menganggap kejadian kecil itu sebagai kenangan indah. Walau itu sebenarnya sebuah kecelakaan karena kecerobohan!

Saya prihatin jika kalian anak orang kaya yang masa kecilnya hanya dilakukan didalam rumah dengan seonggok mainan plastik impor made in china . Tanpa ada petualangan khususnya bersentuhan langsung dengan alam. 

Seberapa banyak bekas luka menyenangkan kalian? Ingatlah, itu bukan hal yang harus dihilangkan dari kenangan. Justru itu sebagai media membuat masa kecil kalian abadi.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi