Thursday, January 22, 2015

Made in Ayah

Masa kecil saya memang sudah bahagia dulu. Dan karena itu saya merindukannya kembali. Yang jelas masa kecil saya tidak seperti masa yang dilalui anak-anak sekarang. Masa kecil saya dan semua orang-orang yang seumuran dengan saya pasti punya masa kecil yang sempurna, jauh dari kata-kata masa kecil kurang bahagia.

Faktor pendorong masa kecil bahagia saya ialah mainan-mainan yang saya mainkan ketika kecil. Mainan yang ayah saya buat ataupun ayah saya belikan. Semua sangat berarti hingga sekarang. Terbukti saya merindukan masa kecil saya.


Made in Ayah

Ayah saya memang orang yang jenius, bukan otak kirinya saja tapi juga jenius dalam otak kanannya. Walaupun hanya sedikit yang turun ke dalam diri saya, tapi saya tetap bersyukur. Hal yang jarang di miliki orang lain. 

Ayah saya sering membuat mainan-mainan untuk saya dulu. Mencoba menghiasi masa kecil saya dengan kesenangan yang pastinya membuat kenangan mengagumkan. Kebanyakan yang ayah saya buat mainan-mainan tradisional. Yang kita tau mainan tradisional berfungsi membangun motorik, sosialisasi dan banyak hal bermanfaat lainnya.


  • Otok-otok
Ini mainan pertama saya ketika kecil yang di buat ayah saya dari bambu serta kaleng susu. Mainan tradisional yang mempunyai dua roda dan tongkat bambu sebagai pendorongnya. Intinya ketika saya mendorong mainan ini, pasti keluar suara otok-otok berulang. Karena ada kaleng susu bekas yang dipukul dengan bambu memanfaatkan gaya pegas dari karet dan gaya tarik dari putaran roda. Mainan itu sudah rusak sekarang >.< 

  • Jedoran
Wah ini mainan berbahaya. Soalnya dibuat untuk nembak teman-teman saya. Ya, bisa dibilang ini tembak-tembakan versi tradisional. Memanfaatkan bunga jambu air yang masih kuncup sebagai pelurunya. Di rumah saya ada dua buah jambu air yang pasti berbuah setiap musimnya. Ketika bunganya masih kuncup sering sekali tak pakai buat peluru jedoran. Mainan ini cuma dari bambu. Bambu biasa sebagai pelongsong, dan bambu lain sebagai pendorong peluru.

  • Truk
Iya namanya truk. Mobil truk mainan. Dibuat ayah saya pastinya. Warnanya biru dicat dengan cat kalengan. Mobil-mobilan yang dibuat dari kayu. Beda dengan mainan replika truk yang dijual dipinggir jalan, mobil truk yang satu ini punya fitur spesial. Roda depannya bisa belok. Sebuah fitur istimewa bagi saya yang memang menyukai mobil pas kala itu. Walau ternyata fitur itu tidak pas diaplikasikan. Soalnya pas mobil itu saya tarik belok kekiri, justru roda depannya malah belok kekanan. 

Karena saya mempunyai kakak laki-laki, ayah saya beli truk mainan di pinggir jalan warnanya kuning dan catnya masih basah pas dulu itu. Mobil yang dibuat ayah saya jadi milik kakak saya, dan mobil yang baru beli jadi milik saya. Karena masih baru, jadi saya pilih mobil itu. Tapi sekarang saya gak ingat akhir cerita mobil mainan itu. Yang jelas saya sudah lama gak lihat mobil itu. Mungkin akhir ceritanya jadi kayu bakar.

  • Patu
Dibahasa Jawa ada sebuah huruf yang gak ada di Bahasa Indonesia. Tapi huruf itu biasa diganti dengan huruf 'T'. Huruf itu bunyinya seperti huruf T yang dilafalkan orang suku Bali. Nah, jadi mainan saya ini namanya PATU, dengan huruf T yang dilafalkan. 

Patu ini mainan gangsing yang dibuat dari kayu dan cara mainnya pakai tali sebagai penggeraknya. Tali di lilitkan di badan patu sampai ke leher patu. Terus di lempar dengan teknik biar patu ini bisa muter. Dulu itu musim patu dan teman-teman saya sudah punya patu duluan. Akhirnya ayah saya membuatnya untuk saya, karena dulu mustahil bagi saya bermain dengan alat pertukangan. 

Akhir cerita dari mainan saya ini terbengkalai. Karena sesudah musim patu, teman-teman saya juga tidak mainan patu lagi. Begitu juga dengan saya. Akhirnya ya patu itu terbengkalai. Padahal dulu patu saya sudah tak kasih warna dengan spidol. Jadinya full color.

  • Yoyo
Iya yoyo. Cuma yoyo ini dibuat dari kayu, tapi dibuat pas saya masih kecil banget. Jadi sebenarnya yoyo ini di buat bukan untuk saya. Tapi untuk kakak saya. Ada dua yoyo di rumah saya. Yoyo yang pertama juga dibuat dari kayu, tapi bukan buatan tangan ayah saya. Dibuat dipabrik. Asal-usulnya yoyo itu dibeli seorang murid ayah saya, tapi karena mungkin dia memainkannya di sekolah, ayah saya merampas yoyo itu. Iya merampas. Ayah saya yang seorang guru wajarlah merampas mainan muridnya. Saya juga pernah kok dirampas mainannya sama guru saya >.<.

Yoyo buatan pabrik itu terkesan bagus. Warnanya merah dengan permukaan yang halus. Pastinya diamplas dan dibuat sungguh-sungguh. Tapi dari segi permainan, saya tidak suka memainkan yoyo buatan pabrik itu. Rasanya terlalu berat dan tali yang kepanjangan. Tapi yoyo buatan ayah saya, hanya sederhana. Warnanya juga hanya warna kayu. Saya suka yoyo yang ini karena enak kalo dimainkan. Gak terlalu berat dan talinya gak kepanjangan. Saya dulu itu pendek, lebih pendek dari teman-teman saya. Sampai sekarang yoyo ini masih ada dirumah saya dan bisa dimainkan. Yang saya suka bau khas dari yoyo ini. Masih ingat sampai sekarang.

----

Nah itu mainan-mainan yang ayah saya buat untuk menghiasi masa kecil saya. Buktinya masa kecil saya memang bahagia, berarti usaha ayah saya berhasil dan tak sia-sia. Sebenarnya masih banyak mainan buatan ayah saya, hanya saja saya lupa dan susah mengingat sekarang. Nanti kalo saya ingat, pasti saya tulis lagi ceritanya disini.

----
  • Tembak-tembakkan
Nah, akhirnya ketemu juga yang lainnya.. Tembak-tembakkan. Iya, mainan tembak / senapan dari kayu. Pelurunya masih sama dengan jedoran. Nah, mainan ini pakai gaya pegas dari karet buat melontarkan pelurunya, bunga jambu air yang masih kuncup. Mungkin sebenarnya ayah saya mencoba mengurangi sampah yang berserakan dari 2 pohon jambu di halaman rumah. Saat ini sih pohon jambu airnya tinggal satu, dulu satunya di pangkas habis karena kakak perempuan saya menikah dan pohon jambunya  jadi halangan kalo dipasang tenda.

Ada 2 buah tembak-tembakan yang dibuat ayah saya. Yang satu besar yang satu kecil. Mungkin yang besar untuk kakak saya dan yang kecil untuk saya. Akhir cerita dari mainan itu, yang besar terbengkalai entah dimana. Mungkin juga berakhir jadi kayu bakar. Kalo yang kecil berubah fungsi jadi pembunuh lalat. Memanfaatkan karetnya. Karena dirumah saya dulu banyak lalat, jadi senjata itu buat membunuh lalat. Ternyata multi-fungsi. Sekarang mungkin masih ada yang kecil.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi