Saturday, January 17, 2015

Selera Musik

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis kisah opini tentang "Saya Tidak Jenius". Di kisah itu ada sebuah ciri seorang jenius, yaitu menyukai musik. Saya memang suka dengan musik, sejak kecil saya pun sudah suka musik. Dari lagu-lagu yang saya nyanyikan ketika maju di depan kelas waktu masih TK sampai musik yang saya dendang kan saat ini. Memang wajar jika saya menyukai musik. Faktor keturunan!.

Ayah saya seorang jenius otak kiri, yang sebenarnya juga menguasai otak kanan. Ayah pun pintar dalam urusan menggambar, berkarya, juga memainkan musik. Salah satu alat musik yang paling beliau sukai ialah seruling. Ada sebuah seruling yang dibuat dari sebelum saya lahir menggunakan sebuah pipa, dan hingga kini seruling itu masih bisa dimainkan walau sudah patah menjadi dua karena keponakan saya.

Seruling itu sering digunakan ayah saya ketika malam hari. Dan saya pun tidak tahu kenapa selalu digunakan ketika malam hari. Dan mungkin aneh juga, menyuarakan seruling ketika siang hari. Mungkin itu alasannya. Tetapi menurut saya suara seruling itu menambah keindahan malam hari ketika beliau menyanyikannya. 

Tetangga rumah pun ikut mendengar alunan nada seruling itu. Bahkan yang jaraknya puluhan meter juga masih mendengar, mungkin karena disuarakan malam hari dimana kebisingan hilang. Rumah saya ada di desa bukan perkotaan, dimana menjadi sepi dan senyap ketika malam harinya. Yang ada hanya suara jangkrik, belalang serta hewan malam. 

Lagu yang biasanya didendangkan lagu-lagu lawas. Dari D'lloyd, Panbers hingga Koes Plus. Serta beberapa penyanyi lainnya. Tidak ada buku panduan atau kunci-kunci nada sebagai patokan, melainkan hanya angan-angan tentang alunan nada yang ada di benak beliau. Walau begitu tapi tak kalah merdu dengan para pemain seruling profesional.

Walau ayah saya berbakat menggunakan musik, ternyata beliau juga bisa memainkan gitar bekas yang dulu saya beli. Dulu ketika masih kecil beliau pernah menawari saya sebuah gitar, tapi karena saya tidak suka gitar biasa tanpa listrik saya pun menolaknya. Dan ketika kelas 2 SMK baru saya membeli gitar bekas dengan uang tabungan saya. 

Saya memang tertarik dengan alat musik gitar hingga sekarang, walau sekarang pun skill saya masih bisa dibilang pemula. Entah kenapa ketertarikan saya kepada alat musik gitar bukannya seruling yang sudah akrab sejak saya kecil. Jadi bakat ayah saya bermain seruling sama sekali tidak turun ke diri saya. Begitu juga saudara-saudara saya. Dan hanya saya yang tertarik memainkan alat musik.

Semenjak saya memiliki gitar, saya lebih tertarik memainkan lagu-lagu slow dan jazz. Lagu yang isi lantunan nadanya membawa kedamaian. Walau saya juga suka dengan musik aliran Jpop. Tapi musik Jpop susah dimainkan. Temponya cepat, nadanya juga cepat.  Selain itu saya juga suka dengan aliran reggae. Reggae identik dengan damai, makanya saya suka reggae.

Selain itu karena musiklah awal saya memulai mencari penghasilan via YouTube. Walau hingga kini saya belum menikmati sepeser pun hasilnya. 

Cita-cita saya tentang musik salah satunya bisa menggunakan alat musik seruling milik ayah saya. Tapi entah kenapa minat saya tidak ada sama sekali, jadi mungkin itu cita-cita yang tak mungkin tercapai secepatnya. 

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi