Di Jogja ini, hal yang paling melekat di diri saya ada banyak. Mungkin karena memang Jogja itu tempat yang multi segalanya. Dari yang bersifat multi-cultural, multi-ethnic, multi-culinary, dan multi-multi lainnya sampai yang aneh, multi-gaib.
Jogja memang kota yang istimewa. Dosen saya pernah bilang kalo Jogja itu mini nya Indonesia. Hampir mirip seperti diorama yang bisa dikunjungi dan bersifat realiti. Orang Jogja sendiri entah kenapa mereka selalu menjunjung tinggi budaya, adat, dan hal-hal lain yang bersifat tradisional. Mungkin itu karena orang Jogja sifatnya memang apa adanya. Selalu menganggap hal-hal kemodernan itu sebagai hal yang tidak perlu secaran berlebihan ditanggapi yang ujung-ujungnya bakal menenggelamkan sifat ketradisionalannya.
Satu hal yang harus saya pelajari disini yaitu unggah-ungguh. Sebuah tata krama yang tidak pernah saya pelajari sekalipun di tanah kelahiran saya. Disini, setiap orang wajib memiliki serta mengikuti unggah-ungguh yang memang sudah menjadi tradisi orang Jogja. Keistimewaan personality orang Jogja inilah yang jadi identitas Jogja itu sendiri. Tanpa perlu adanya rekayasa ataupun rekaan lainnya, tapi hanya mengikuti apa yang memang dianggap pantas dan perlu dilakukan.
Di tempat kos saya berada ini, banyak sekali keluarga-keluarga non-muslim yang notabene orang-orang mayoritas di negara islam ini. Suatu hari saya melihat, bapak-bapak berpeci menghadiri sebuah tahlilan yang diadakan oleh keluarga non-muslim. Suatu hal yang belum pernah saya lihat terjadi di depan mata saya kecuali di Jogja. Bukan bermaksud mencampur-adukkan agama, tetapi memang itulah ciri orang Jogja. Terbuka terhadap sesama, dan rasa kebersamaan yang memang dijunjung tinggi.
Memang gak ada salahnya menurut saya untuk mendoakan mereka yang berbeda agama. Toleransi memang diajarkan di agama kita islam. Justru banyak kini orang islam malah memusuhi mereka yang non-muslim. Seakan-akan islam merupakan agama yang arogan terhadap agama lain. Suatu cerminan yang memang 180 derajat salah dari ajaran islam itu sendiri.
Beberapa waktu lalu sebelum natal, teman non-islam saya pulang kampung kedaerah asalnya. Saya pun juga kembali ke kerabat saya. Suatu hari di dalam tas saya ada secarik kertas, berisi tulisan teman saya itu. Isi-nya permohonan doa kepada Tuhannya agar saya sebagai temannya diberi kemudahan dalam menjalani hidup serta dikabulkannya permohonan saya.
Itu hal yang belum pernah saya temui selain di Jogja. Dan itu sebuah realiti. Apapun agamanya, yang namanya berdoa demi kebaikan sesama walau berbeda agama, pasti perbolehkan atau justru malah di anjurkan untuk saling mendoakan. Itu yang saya tangkap dari keindahan beragama. Bukan kita memusuhi mereka.
Dalam bidang budaya, Jogja bisa dibilang nomor satunya di Indonesia. Dalam kegiatan budaya, hampir setiap minggunya diadakan di daerah Jogja. Dari mulai pelaksanaan budaya yang kecil-kecilan sampai pelaksanaan budaya yang besar-besaran melibatkan orang banyak serta berbulan-bulan persiapannya.
Beberapa waktu lalu, demi memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, masyarakat Jogja menyiapkan festival Sekaten. Melibatkan ribuan orang, serta persiapan yang memang harus matang. Ada juga rangkaian festival memperingati 1 Suro / 1 Muharram. Semua festival atau upacara itu harus melalui rangkaian-rangkaian upacara pengiring lainnya. Semua itu pasti ada nilai budaya yang terkandung serta nilai kehidupan yang berharga yang bisa kita petik.
Suatu hal yang sangat mustahil saya temukan di tanah kelahiran saya. Karena itu, dibanding kekurangannya, terdapat kelebihan yang sangat banyak sampai tak terhitung jumlahnya. Membuat Jogja tetap istimewa dan selalu istimewa di tengah keistimewaannya. Jogja beda bukan karena hal buruknya, tapi karena banyaknya nilai positifnya. Itulah yang menyebabkan banyak orang betah tinggal di Jogja, ingin ke Jogja. Menyebabkan multi-ethnic nya menjadi ciri khasnya.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.