Friday, January 23, 2015

Made in China

Wah berlanjut dari kisah yang kemarin. Kemarin resmi 'Made in Ayah' yang artinya low cost bahkan free. Tapi yang kali ini asli 'Made in China'. Hanya bagus dari segi tampilan. Keawetannya juga harus dipertimbangkan. Gak awet wajar, walau sudah mencoba mengawetkannya. Tapi yang namanya made in China susah kalo awet. Memang yang awet itu pasti bukan dari China. Hape saja, kalo labelnya sudah made in China pasti sudah tak ragukan. Sekelas OPPO sekalipun. Tetep saja China.

Mainan saya yang made in China ini kayaknya cuman sedikit. Yah memang saya jarang sekali dibelikan mainan berlabel China. Selain boros duit, ya pastinya juga kurang awet. Dan hanya mementingkan tampilan kan. Ah sudahlah. 


  • Tamiya
Nah, semua anak kecil pada jaman saya pasti punya yang namanya mobil balap bernama TAMIYA. Tamiya itu sebenarnya merk perusahaan yang menyokong produk mobil balap ini. Tapi karena China itu negara ter-kreatif, semua mainan pun diplagiat. Justru dengan adanya plagiator ini, saya gak pernah punya tamiya yang merknya bener-bener tamiya. 

Tapi karena Tamiya itu persuhaan pertama yang buat tamiya, jadi apapun merknya tapi kalo bentuknya mobil balap yang ada di anime Let's and Go, pasti tetap disebut dengan tamiya. Gakk peduli made in China atau made in Indonesia sekalipun. Itu salah satu keuntungan dari pembuat pertama sekaligus yang memperkenalkan mainan ini terlebih dahulu.

Mainan ini hadir di Indonesia gara-gara RCTI. Stasiun TV favorit sekaligus kebanggaan, karena setiap hari minggu berasa di surga. Nonton TV dari jam 5 pagi sampai jam 12 siang. Saat itu RCTI, SCTV dan Indosiar masih berlomba-lomba paling banyak menayangkan kartun anime. Semua berubah ketika..... ah sudahlah...

Anime Let's and Go, ceritanya memang bagus kala itu. Buktinya semua orang terinspirasi dan pengen punya yang namanya tamiya. Tamiya pertama saya bernama Max Breaker. Harganya sekitar 14 ribu kata ayah saya. Sebuah tamiya yang ketika itu tak tunggu-tunggu di anime nya. Ternyata pas ketika season 1 tamat, tamiya saya gak pernah nongol di TV. 

Ternyata tamiya saya hadir di season 2. Itu berarti saya punya mobil yang lebih maju dari teman-teman saya yang punya tamiya juga. Kakak saya pun juga membeli tamiya rakitan. Katanya harganya 19 ribu. Lebih komplit, lebih wow, bisa modifikasi pula. Tamiya saya yang kedua namanya, magnum. Harganya 15 ribu. Sudah termasuk baterai yang bisa recharge

Semua tamiya itu juga akhirnya sama, rusak. Maklum karena memang itu semua made in China. Yah saya masih tetap mengucapkan terimakasih kepada China, sudah membantu membuat masa kecil saya bahagia. Walau saya tahu harganya memang mahal kala itu. Dan tidak semurah buatan ayah saya.

  • Tembak-tembakan
Yang ini mainan bahaya. Lebih bahaya dari mainan yang dibuat Ayah saya. Perjuangan saya mendapatkan mainan ini sangat berat. Perlu usaha seharian. Dan tentunya melelahkan. Usaha apa yang dilakukan anak kecil untuk mendapatkan mainan keinginannya ? "MENANGIS".

Ya! Saya menangis seharian demi tercapainya impian saya itu. Kala itu penyakit anak kecil saya kumat. Suka iri kalo teman saya punya mainan baru. 

Kala itu, teman saya baru punya tembak-tembakan model pistol. Ya karena saya cuman bisa melihat saja. Terkadang saya pinjam. Intinya produk China itu sudah membutakan hati nurani saya. Akhirnya saya kalah, dan penyakitnya kumat. 

Setelah seharian, barulah Ayah saya mengajak saya ke pasar. Beli tembak-tembakan. Dan ternyata di luar dugaan saya. Saya pengennya pistol, tapi karena Ayah saya tahu kalo pistol itu untuk anak dengan level kemampuan menembak rendah, Ayah saya membelikan saya Sniper Riffle. 

Senjata yang ada teropongnya. Bisa di pompa. Dan memang harus dipompa ketika memainkannya. Jadi itu senjata yang spesial pastinya. Saya saja menangis terkena tembakkan itu. Tapi uniknya, teropongnya itu bolong. Tanpa ada lensa pembesar. Mungkin karena di desain untuk anak-anak dan bukan untuk perang sungguhan, jadi cukup bentuknya saja yang mirip.

Akhirnya made in China yang ini rusak juga. Tetap saja label gak awetnya nempel. Sekarang ya gak tau dimana rimbanya. Tapi saya bahagialah mempunyai senjata terbaik didunia menurut saya.

  • Gembot
Gembot ini permainan modern di jamannya. Walau sekarang kalo masih ada gembot, pasti tidak laku. Gembot ini pemberian pak-lek saya yang baru saja pulang dari merantau di Malaysia.

Saya baru tau gembot ini darinya setelah saya baru pindah ke Jogja ini. Dulu saya gak tau itu dari siapa. Tapi gembot itu dibawa mbak saya dari Jogja. 

Dulu karena didikan mbak saya yang terbilang didikan untuk menjadikan anak kecil pintar, jadinya main gembot itu hanya boleh dilakukan seminggu sekali. Tepatnya hari Jum'at sore. Dilain hari, gembot itu disimpan rapih di lemari kamarnya. Saya yang masih kecil ya belum bisa membuka lemari terus mengambil nya di laci paling atas. It's something

Akhirnya juga sama dengan made in China lainnya. Rusak rusak dan rusak. Wah saya tidak tau kenapa. Yang jelas ketika mbak saya kembali lagi ke Jogja dulu, intensitas main saya yang awalnya seminggu sekali berubah jadi sehari sekali. Keren kan..

  • Beyblade
Yang ini ceritanya sama dengan yang tamiya. Sama-sama ada karena kartun anime hari minggu. Kalo dipikir-pikir sekitar kelas dua SD mainan ini booming di Indonesia. Kala itu beyblade nya yang paling keren yang bisa keluar api kalo nempel atau gesek tembok. 

Punya saya gak kaya itu. Tapi kalo dilihat keapikannya, punya saya lebih unggul. Sedikit menggunakan media plastik sebagai body-nya. Tapi lebih seperti logam. Itu juga awalnya mainan yang dibelikan untuk kakak saya.

Setelah saya pulang dari Jogja kelas 2 SD, Ayah saya membelikan beyblade baru. Dengan fitur canggih. Bisa hidup, karena ada lampunya. Tapi kualitasnya buruk. Body-nya keseluruhan terbuat daru plastik. 

Baru beli saja sudah pecah di sampingnya. Punya benyblade sudah pasti di adu dengan beyblade teman. Dan itu pasti. Mudah pecahlah jika body-nya dari plastik full. 

Akhir ceritanya ya jelas rusak. Entah sekarang dimana saya juga gak tau. Sudah 11 tahun berlalu.

-----------------

Itu beberapa mainan dengan label made in China yang paling berkesan di antara yang lainnya. Sampai sekarang juga made in China masih merajai pasar dunia. Bukan cuma Indonesia saja. Tapi terimakasih China sudah membantu saya mendapat kebahagiaan masa kecil saya. 

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi