Tuesday, January 27, 2015

Tahu Lebih Dulu (2)

Sebuah hal istimewa bagi saya ketika saya mendapat anugerah untuk bisa tahu lebih dulu. Tahu tentang sesuatu yang terkadang penting atau terkadang menjadi suatu penentu antara apa yang bakal didapat di masa depan. Terkadang juga tahu lebih dulu hal-hal yang semestinya gak perlu diketahui. Itu yang saya tidak suka. Jika harus tidak diketahui, ya gak perlu untuk mencoba sekedar tahu atau bahkan mencoba untuk tahu lebih dulu.

Tahu lebih dulu yang menjadi faktor penentu masa depan sudah saya alami dari kecil. Dari masa-masa menyenangkan, masa yang belum tau apa arti dari perjuangan. Masa yang cukup biar kan mengalir seperti air. Tanpa berpikir ada apa di depan atau apa yang jadi penghalang. Mengalir hanya sekadar mengamati apa yang dilalui, apa yang terlihat di sekitar, dan apa yang terlewat.

Tahu lebih dulu yang terjadi pada saya, membuat saya menjadi sumber nomer satu. Sumber dari segala pertanyaan teman saya, akan hal-hal yang bersifat formal dan umum. Hal-hal yang akan mempengaruhi masa depan saya dan mereka.

Hal yang saya tidak suka menjadi tahu lebih dulu, ketika saya gak boleh membuat teman saya menjadi tahu tentang apa yang saya tahu lebih dulu. Saya bukan tipe orang gak memberi teman-teman saya hal yang saya tahu. Berbagi membawa kebahagiaan, hal yang pasti terjadi. Melanggar aturan demi berbagi, sudah saya lakukan.

Melanggar aturan yang dibuat manusia demi kebaikan manusia. Sebuah pelanggaran pastinya. Pelanggaran yang sudah saya lakukan karena prinsip hidup. Jika sudah menjadi prinsip, yang namanya aturan ya jadi gak penting. Yang terpenting prinsip itu terlaksana, gak peduli konsekuensi kedepan atau yang mungkin bakal dihadapi. Itulah manusia, dan saya pun manusia.

Jika saya tidak tahu lebih dulu kala itu, pasti saya gak bakal melanggar aturan itu. Tapi sudah anugerah-Nya saya dikasih tahu lebih dulu. Anugerah yang memang gak bisa saya atau manusia lain tolak. Pemberian-Nya ya wajib diterima dan harus disyukuri tentunya. Bukan seperti mereka yang gak berakal. Gak pernah kenal kata 'terima kasih'.

Walau itu yang membuat saya melanggar, tapi itu tetap hal yang istimewa. Anugrah itu hal yang istimewa. Saya melanggar bukan karena anugerah yang sudah saya terima. Tapi karena prinsip hidup saya yang melihat dari dua sisi atau pihak. Bukan hanya dengan sebelah mata tanpa memandang sekitar.

Dua orang teman saya sudah mendahului saya. Menuju kehidupan selanjutnya. Ya semoga yang pernah saya bagi ke mereka, menjadi hal baik bagi mereka. Membagi hal yang istimewa dan tak ternilai harganya. Begitu apa yang sudah mereka bagi kepada saya. Anugerah yang mereka terima. Hal-hal istimewa yang mereka dapat dari-Nya.

Namanya juga manusia. Gak bisa hidup sebatang kara. Manusia ya harus sosial. Harus berbagi. Dan itu yang jadi prinsip saya. Semua kan bukan cuma milik sendiri atau pribadi. Tapi sebagian juga milik mereka, orang lain. Saya juga mencoba membagi sebanyak mungkin anugerah yang saya dapat. Mencoba membuat orang lain merasakannya.

Anugerah yang sebenarnya bisa didapat semua orang. Bukan hanya pada saya saja. Bisa didapat dari usaha. Mencoba menemukan hal baru dalam kehidupan. Tahu lebih dulu bersifat umum dan abadi serta tak terhingga tentunya. Tapi tetap harus memahami sesuatu dari kedua sisi yang berbeda, memandang dengan dua mata dan bersifat tidak membeda-bedakan.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi