Sekarang ini saya paham jika bulan Februari itu memang bulan yang berat bagi orang tua yang memiliki anak yang sedang melanjutkan study di jenjang perguruan tinggi. Bulan Februari menjadi bulan yang berat karena pada bulan Februari, para orang tua itu akan menghambur-hamburkan uang dalam bidang pendidikan yang sedang dijalanin oleh anak-anaknya. Termasuk orang tua saya.
Membiayai anaknya untuk menggapai cita-cita melalui bidang pendidikan. Berharap agar anaknya menjadi pribadi yang lebih maju dan berhasil dari apa yang sudah dicapai oleh orang tua. Semua orang tua pasti berharap seperti itu. Dan saya yakin, orang tua saya juga sedang berharap seperti itu.
Mereka berkorban dengan materi ketika fase ini. Berkorban yang tidak sedikit dan bisa dibilang sangat banyak, demi masa depan yang lebih cerah untuk sang anak. Dan itu yang saya rasakan sekarang ini tentang pengorbanan orang tua saya dengan materi untuk membiayai pendidikan saya saat ini. Pendidikan yang diharapkan oleh orang tua saya, agar hidup saya kelak tidak seperti apa yang tidak diinginkan oleh semua orang.
Semua anak yang sedang belajar di perguruan tinggi pasti juga berpikiran demikian. Karena memang itu sudah menjadi hal wajib bagi kita semua. Mau tidak mau pasti kita mengalami itu ketika kita belajar di sebuah perguruan tinggi yang keseluruhan biaya pendidikan dibayar sepenuhnya oleh orang tua. Membuat kita semua menjadi ragu-ragu untuk menatap dan meraih masa depan, karena sudah merasa takut dengan kata membalas segala jasa orang tua yang telah mengeluarkan seluruh tenaga batin, fisik, serta materi untuk si anak.
Selama hidup saya, rasa membebani orang tua selalu ada. Dan entah kenapa kali ini, terasa yang paling banyak saya membebani orang tua saya dalam hal materi. Karena memang baru kali ini, orang tua saya mengeluarkan nominal yang sangat besar untuk membantu saya menaklukan apa yang namanya masa depan.
Sebuah beban mental bagi saya sekarang ini untuk membalas secara maksimal seluruh usaha yang sudah diberikan orang tua saya kepada saya. Dan pasti bukan hanya beban mental saya saja, tapi juga beban mental seluruh anak yang mengalami hal sama dengan saya. Sebuah beban yang hanya bisa terlepas jika dihadapi dengan setulus hati dan semangat pantang menyerah. Itu kunci yang memang sangat cocok untuk mengatasi beban mental yang hadir dalam kehidupan ini.
Saya tidak tahu apa saya bisa mengatasi beban mental itu. Walau memang saya tahu bagaimana kunci-kunci untuk mengatasinya. Tapi bagi saya, masa depan tidak semudah akan apa yang saya bayangkan sekarang ini. Mulai sadar dan paham jika masa depan itu suatu hal yang harus benar-benar di perjuangkan agar sesuai bayangan dan sesuai dengan apa yang diinginkan.
Saat ini saya hanya bisa berdoa serta berusaha. Berharap masa depan saya bisa secerah bulan purnama yang selalu saya lihat ketika menampakkan diri. Berharap masa depan saya bisa seterang matahari pagi dilangit yang cerah. Berharap masa depan saya berkilau seperti bintang dimalam hari. Berharap masa depan saya bisa membuat orang tua saya tersenyum manis. Serta berharap agar masa depan saya yang hebat itu bisa dirasakan oleh semua orang.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.