Wednesday, February 4, 2015

Facebook

Sudah beberapa bulan ini, saya tidak mengkonfirmasi mereka-mereka yang meminta "pertemanan" kepada saya di facebook. Terkecuali yang saya tahu siapa dia, seperti seorang blogger atau teman kampus. Tapi justru kebanyakan malah orang-orang bertipe random yang meminta hubungan pertemanan kepada saya. Dan entah kenapa tipe random itu justru condong ke tipe negatif.

Tipe negatif bag saya seperti seorang labil, remaja alay atau orang-orang yang masih baru mengenal media sosial. Itu semua golongan yang saya hindari untuk sebuah pertemanan di facebook. Saya tidak keberatan sebenarnya mengeklik tombol konfirmasi, tapi yang membuat saya enggan melakukannya justru tingkah orang-orang tersebut. 

Sepertinya saya sudah bisa membaca tingkah laku seseorang difacebook hanya dengan melihat foto profil dan juga namanya. Sebuah hal yang memang tidak selalu konkrit. Tapi itu sudah menjadi dasar bagi saya untuk mempertimbangkan sebuah jalinan pertemanan di media sosial facebook. 

Kebanyakan dari mereka hanya mencurahkan isi hati tentang hubungan percintaan mereka yang dialami di dunia nyata. Justru ada banyak orang yang sudah mencurahkan hatinya dengan tulisan-tulisan EYD versi mereka, bukan EYD versi saya ataupun Indonesia. Dan itu yang paling saya benci. 

Semua tingkah laku golongan seperti mereka, bagi saya hanya akan membuat beranda saya seperti tempat kumuh yang kaya akan sampah-sampah berserakan. Dan saya perlu melakukan pembersihan total untuk itu. 

Memang sudah hak masing-masing individu untuk menulis apa saja di media sosial mereka. Tapi setidaknya mereka harus belajar akan apa-apa yang seharusnya dan tidak seharusnya di bagi ke dalam media sosial mereka. Mereka harus memiliki penyaring untuk itu.

Melakukan pembersihan sudah saya lakukan sejak beberapa bulan lalu. Dengan cara memutuskan hubungan pertemanan dengan mereka. Akun saya yang sudah lima tahun beroperasi, masih mempunyai 700 orang teman. Dan masih banyak golongan seperti mereka di pertemanan facebook saya. Ketika mereka muncul dalam beranda facebook saya, pasti akan saya putus hubungan pertemanan itu tanpa pikir panjang siapa dia. Dan itu sudah saya lakukan berulang kali.

Memang kejam jika itu dilakukan di dunia nyata. Memutuskan sebuah jalingan petemanan yang terjalin. Tapi jika itu dilakukan dalam media sosial facebook, hasilnya akan tampak lebih baik. Facebook akan menjadi jernih, tanpa ada satupun sampah yang berserakan. Dan sampah-sampah yang dibuang itu, akan menjadi satu golongan tersendiri. Mereka akan membentuk sebuah komunitas secara sendiri. Hingga kesadaran lah yang akan membuat mereka keluar dari komunitas itu, dan berpikir bahwa komunitas mereka hanya dipenuhi oleh sampah yang berserekan dan sudah dibuang.

Saya dulu pernah termasuk dalam golongan sampah itu, dan kini saya sudah sadar bahwa golongan itu memang benar-benar sampah yang ada dalam kehidupan media sosial saya. Dan ketika saya sadar, memutus jalinan pertemanan lah cara yang paling tepat untuk keluar dari golongan itu dan menjadi golongan yang lebih baik lagi.

Seharusnya kesadaran itu dimiliki setiap pribadi sejalan dengan perkembangan umur mereka yang semakin dewasa. Semakin baik untuk menyaring apa yang ada di media sosial. Tapi beberapa orang pun justru malah tetap seperti itu, walau usia mereka sudah seharusnya memiliki kesadaran tentang apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya. 

Semua memiliki hak berbagi, tapi setiap orang juga harus memiliki penyaring untuk itu. 

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi