Monday, February 16, 2015

Film Religi

Beberapa hari lalu, kakak laki-laki saya datang mampir ke kamar kos saya. Dia datang untuk menginap semalam di sini. Ketinggalan kereta lah penyebabnya. Sebenarnya, dia akan berkunjung ke rumah kakak perempuan saya. Tapi karena kereta sudah berangkat lebih dulu ketimbang pesawat yang ditumpanginya mendarat, maka dia menginap di kamar kos saya untuk semalam dan pergi ketika pagi esoknya. 

Hal yang saya dapatkan ketika dia tidak sengaja datang untuk menginap di sini, saya mendapat beberapa film baru dan agak lama yang belum saya tonton sebelumnya. Film yang rata-rata dibuat di tahun 2014 lalu. Beberapa film berbentuk animasi 3D dan lainnya film religi dan film sejarah. Kesemuanya langsung saya copy di dalam harddisk saya. 

Semalam berada disini, kami berdua menonton film animasi 3D keluaran Disney yang belum pernah kami tonton sebelumnya. Big Hero 6, itulah judulnya. Film yang ternyata memang asyik dan layak diberi bintang karena kualitas filmnya dari segi animasi maupun segi cerita. Semua nya terlihat mengagumkan dan memang belum pernah ada sebelumnya. Dan yang terpenting film tersebut mempunyai banyak hikmah yang bisa di ambil berdasar cerita dari film tersebut. 

Semakin malam, kakak saya tidur begitu saja. Wajar, karena dia baru saja tiba di Jogja dari Jakarta. Memang dia sering bolak-balik Surabaya - Jakarta untuk melaksanakan tugas pekerjaannya. Kadang kala dia mampir ke Jogja untuk bertemu keluarga, seperti saat ini. 

Ketika dia beristirahat, saya melanjutkan film-film yang sudah saya copy sebelumnya. Film bertema religi yang saya tonton selanjutnya. Film yang ternyata memang populer di Indonesia dan bahkan mendapat kehormatan diputar di Amerika yang notabene negara muslim menjadi kaum minoritas. 

Bercerita tentang perjalanan suami istri yang beragama Islam mengarungi hidup berumah tangga di benua Eropa yang juga muslim menjadi kaum minoritas. Semua hal yang terjadi tentang bagaimana mereka memandang seorang muslim diperlihatkan dan diceritakan. Dari yang memang diremehkan hingga di kenal baik. Semua tergambar dalam film itu. 

Ketika saya menonton film itu, sempat terlintas di fikiran saya tentang mereka pemeran-pemeran film religi itu. Dimana mereka yang bukan seorang suami istri dalam dunia nyata harus berperan menjadi suami istri dalam dunia akting. Hal yang memang kontradiksi dengan yang terjadi sebenarnya. 

Sebuah kontradiksi juga terjadi dalam fikiran saya. Dimana tujuan pembuatan film religi sudah pasti untuk memberikan hikmah tentang keagamaan kepada para penontonnya. Memberikan kesan serta pelajaran bagaimana menjalankan agama yang baik dan benar dalam kehidupan nyata. Tapi justru dalam film itu, yang pemeran utamanya dua pasang manusia yang harus berperan menjadi suami istri melakukan sentuhan-sentuhan yang sebenarnya dilarang dalam agama itu sendiri.

Dalam perspektif lain, bisa dibilang "sebuah film yang dibuat untuk memberikan pelajaran tentang agama tetapi dibuat dengan cara yang menentang agama". Dan itu memang nyata saya lihat dari film itu. Setelah saya fikir lebih mendalam, malah bukan hanya film itu saja yang mencerminkan kesimpulan tadi. Banyak film-film religi lainnya yang dibuat dengan menentang agama. Dan itu memang terjadi di Indonesia.

Memang sudah menjadi hal asing melihat dua orang pasangan yang belum terikat dalam sebuah ikatan bersentuhan secara diam-diam maupun secara terang-terangan. Tapi bagi saya, itu sebuah kesalahan besar yang dikecil-kecilkan. Sering dianggap sepele dan hanya angin bertiup saja, tanpa ada yang bisa menangkapnya. 

Sebuah ironi bagi pandangan saya. Seperti menyuruh orang lain taat dalam agama tapi justru dia sendiri tidak taat pada agama malah justru dia sendiri yang menodai agama itu. Andai semua orang termasuk mereka para pelaku figur-figur pembuat film ataupun figur lainnya mempunyai pemikiran yang sama terhadap saya, pasti tidak akan terjadi hal-hal yang bertolak belakang seperti itu kedepannya. 

Tapi manusia memang tetap manusia. Sulit untuk mengubah manusia jika tidak ada kemauan untuk berubah dalam pikiran dan hati pribadi masing-masing. Semoga Tuhan lah yang membuat dan membantu mereka untuk berubah.

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi