Nama masa kecil saya ialah Bambang Irawan. Sebuah nama yang diberikan oleh seseorang yang merupakan seorang pahlawan yang "tidak dengan tanpa tanda jasa". Ayah saya seorang pahlawan tanpa tanda jasa --biasa dipanggil Guru--. Itu berarti bukan ayah saya yang memberikan nama Bambang Irawan tersebut. Siapa pahlawan yang "tidak dengan tanpa jasa" ? Beliau adalah ibu saya yang tercinta dan satu-satunya.
Dimana pada hari saya menulis ini, merupakan hari ibu di tanggal 22 Desember 2014. Ketika tanggal 21 Desember 2014, pada hari itu saya telah benar-benar rindu kepada ibu saya. Sebuah flashback mengharukan saya dapatkan ketika saya menonton film doraemon Stand By Me tepat ketika skenario dimana Shizuka berbicara kepada ayahnya bahwa dia belum bisa membahagiakan ayah dan ibunya. Begitu juga dengan saya, dan ketika itu saya mendapat sebuah pandangan yang saya yakin itu memang nyata.
Terlihat seorang bayi yang menangis karena baru dilahirkan oleh seorang wanita yang itu ialah ibu saya sendiri dan bayi itu diri saya sendiri. Saya melihat ibu saya kesakitan lalu menangis ketika saya dilahirkan. Bukan tangisan karena kesakitan lah yang ibu saya rasakan, tapi mungkin itu tangisan kebahagiaan karena saya telah dilahirkan dengan selamat. Perjuangan yang sangatlah berat tetapi itu dilalui oleh ibu saya. Saya merasa berdosa. Terlalu banyak saya membantah, berbohong, merepotkan dan hal-hal lain yang saya lakukan tanpa adanya kebahagiaan yang harusnya saya berikan kepada ibu saya. Saat ini saya tidak bertemu ibu saya tepat 5 bulan ketika tanggal 23 Desember 2014.
Ada yang bilang laki-laki tidak boleh menangis, tapi itu bagi saya sebuah omong kosong besar. Ketika seorang laki-laki dikaitkan dengan ibunya tentang perjuangan ibunya membesarkan dia, sudah sewajarnya dia menangis. Dan tangisan itu merupakan perasaan terdalam dari seorang laki-laki. Pada hari 21 Desember 2014 kemarin setelah skenario Shizuka berbicara kepada ayahnya, saya pun mengeluarkan air mata dan bisa dibilang itu menangis. Perasaan terdalam saya keluar ketika pandangan tentang kelahiran saya terlintas. Sungguh tak terbayangkan perjuangannya. Mungkin karena sekarang hari ibu, maka pada tanggal 21 Desember itu perasaan terdalam saya benar-benar keluar.
Ketika sore harinya, saya menonton video dari seorang motivator Ippho. Ada momen dimana ia bercerita tentang perjuangan seorang ibu dimana dari tahun pertama perbuatan kita kepada ibu kita, sampai di tahun ke 40 usia kita. Itulah saat dimana air mata yang disertai perasaan terdalam saya keluar. Saya kembali teringat tentang ibu saya. Kedua kalinya di hari yang sama saya menangis. Dan saya menangis karena ibu saya.
Tak tertahankan tak terelakkan. Air mata cerminan cinta serta kasih sayang kepada ibu saya yang bisa dibilang hanya sepanjang jalan, dan kasih sayangnya kepada saya sepanjang jaman. Video saya lanjutkan, dimana sang motivator melelang al-qur'an yang biaya keseluruhannya akan di sumbangkan, dan uang itu bersifat sedekah. Seorarng ibu yang sudah tua membeli al-qur'an itu dengan harga US$ 25000, sekitar 30 juta rupiah mungkin. Dan itu untuk sebuah kitab al-qur'an. Hajat dari ibu itu lah yang mulia, dimana ia bersedekah sebagai pendorong untuk kesembuhan ibunya yang sudah sepuh sedang sakit kritis di rumah sakit selama satu bulan. Hal yang menyedihkan ketika seorang yang kita cintai, seorang yang kita sayangi, ibu kita, masuk ke rumah sakit. Dan saat itu, ketiga kalinya dalam sehari saya meneteskan air mata, mengeluarkan perasaan terdalam saya betapa rindunya saya, betapa berdosanya saya, betapa sayangnya saya, betapa tidak mebahagiakannya saya kepada ibu saya.
Ketika beberapa minggu saya di Jogja, ayah saya yang merupakan seorang yang tegar dan kuat juga meneteskan air mata ketika dia menceritakan kisah ibunya yaitu nenek saya. Suatu hal yang saya kira mustahil untuk melihat ayah saya meneteskan air mata untuk sebuah kisah yang mungkin dianggap semua orang sebagai cerita biasa. Tetapi itu lah yang membuat ayah saya meneteskan air mata, karena sebuah kisah yang menjadikan seorang ibu sebagai pelaku utamanya. Entah kenapa saya begitu rindu kepada ibu saya, dan mungkin ayah saya juga rindu kepada ibunya yang saya yakin ibunya mendapatkan tempat yang paling bagus disana, disurga.
Ketika saya menulis ini, saya pun mengeluarkan air mata bersama keluarnya perasaan terdalam saya terhadap ibu saya. Terlalu banyak waktu yang saya sia-siakan ketika bersama ibu saya. Ingin rasanya saya kembali kerumah dan memeluk ibu saya, meminta maaf sebesar-besarnya kepada ibu saya. Air mata penuh kerinduan. Ketika hari yang fitri kemarin, saya tidak bertemu ibu saya. Dan andai pintu kemana saja milik doraemon benar-benar ada, pasti akan saya beli berapapun harganya. Demi bertemu ibu saya. Semoga ibu saya diberi umur panjang, diberi kemuliaan, diberi kesehatan, diberi keberkahan dalam hidupnya. "Ibu, I have no words but I have much Love to you." Selamat hari ibu!
hahaha.. iso galau to njol?
ReplyDeleteWeh, aku ki jek terhitung manusia biasa yang penuh dosa dan tanpa jasa....
Deleteasd
ReplyDeleteSaya baru-baru ini menemukan eyezy dan itu benar-benar mengubah cara saya mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi di perangkat anak saya. Aplikasi ini menawarkan antarmuka yang ramah pengguna dan wawasan terperinci, menjadikannya salah satu alat paling andal yang pernah saya gunakan.
ReplyDelete