Hari ketika kisah ini ditulis, merupakan hari pertama kalinya saya bisa mengakses kembali blog pribadi ini *dengan domain baru*. Hari sebelumnya, saya membeli sebuah domain yang rencananya akan saya gunakan untuk blog lainnya yang ingin saya komersialisasikan. Tetapi entah kenapa, terlintas pikiran jahat saya untuk menggunakan domain ini diblog pribadi, bukan untuk blog yang akan saya komersialisasikan. Sebenarnya saya baru pertama kali membeli domain, sebuah kata-kata yang harus ditukar dengan sejumlah uang. Dan sampai saat ini saya masih berfikir itu sebuah hal yang tidak sebanding. Namun begitulah dunia, dimana ada sesuatu hal yang terbatas maka semua orang akan mencoba mencari keuntungan dari hal tersebut, begitu pula dengan saya.
Keberanian saya membeli domain untuk blog ini, mungkin karena ini satu-satunya blog terbaik yang pernah saya kelola. Sudah ada 8 blog sebelumnya yang pernah saya kelola, tetapi hati dan pikiran saya tetap memilih bahwa blog ini merupakan blog yang terbaik dan paling terbaik yang pernah saya kelola.
Blog yang rencana akan saya komersialisasikan saat ini masih menemui hambatan, entah apa masalahnya. Tetapi saya mengelola blog itu secara profesional dan itu membuat saya berfikir tidak akan menemukan hambatan apapun dalam mengkomersialisasikannya. Saya pernah memberikan ilmu tentang blog kepada sahabat saya dulu, dan blognya pun kini sudah dikomersialisasikan. Berbanding 180 derajat dengan apa yang saya alami sekarang ini. Sungguh malang dengan nasib saya ini. Seseorang yang awalnya dibawah saya, kini dia diatas saya bahkan sangat jauh. Itu lah takdir-Nya tidak bisa ditolak --tetapi bisa dirubah-- secara halus.
Saya yakin bahwa ada Skenario yang menakjubkan dibelakang hambatan-hambatan yang saya temukan sekarang ini. Dia memang yang maha adil, dan tidak akan pernah bersifat tidak adil sedikit pun meskipun itu terhadap seseorang yang tidak pernah adil kepada-Nya. Semua itu terangkai dalam cerita bernama kehidupan. Tak ada hal yang bisa melampaui-Nya.
Saya termasuk Irfan yang beruntung karena saya orang pertama yang membeli domain irfan.asia . Sebuah domain yang sangat pas jika saya terapkan di blog pribadi saya. Mungkin itu termasuk alasan lain dimana saya melakukan pikiran jahat saya dengan memasukkan domain itu ke blog ini. Blog yang hanya sebagai pengganti buku harian saja terkadang tidak jarang ada hari tanpa menulis buku harian tersebut.
Setiap seorang profesional pasti memiliki homepage mereka masing-masing. Dan blog ini saya nyatakan sebagai official homepage pribadi saya, yang saya kelola secara profesional. Impian saya jelas menjadi seorang yang profesional dibidang nya. Saat ini saya masih menjadi penulis artikel freelance --seperti itulah sebutannya--- yang menjajakan lapaknya di media sosial. Saya seorang penerjemah Twitter untuk Indonesia, dan itu bersifat volunteer atau sukarela tanpa dibayar sepeserpun. Beberapa teman saya beranggapan itu hanya sebuah pekerjaan yang tidak ada harganya atau tak berguna, tetapi karena ada saya dan seribuan orang lain yang melakukan pekerjaan itu, Anda dan Anda bisa mengakses Twitter dengan bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia!. Dulu saya pernah berinisiatif untuk membuat Twitter berbahasa Jawa, sebuah bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia. Tetapi usaha itu sia-sia, tapi pasti ada hal positif disetiap usaha yang kita lakukan walaupun usaha itu bernilai negatif.
Kini, saya masih terus berjuang untuk mendapatkan kompensasi dari blog yang saya komersialisasikan walaupun entah sampai kapan hal tersebut bisa terwujud. Tetapi saya percaya suatu saat saya bisa mendapatkan kompensasi dari blog itu. Saya beranggapan bahwa orang yang optimis akan lebih nyesek ketika menemui hambatan ketimbang orang yang selalu pesimis. Itu karena orang yang pesimis sudah tersimpan rasa gagal dalam pikirannya, dan ketika orang itu gagal maka itu sudah menjadi hal biasa. Tetapi jika orang pesimis itu berhasil, maka ada kemungkinan dua kali lipat rasa puas akan dinikmatinya. Dan saya memilih untuk menjadi orang yang pesimis dalam segala hal walau terkadang ada beberapa bagian yang memaksa saya harus bersifat optimis. Nyatanya ketika saya bersifat optimis dan gagal, nyesek pun datang dua kali lipat. Yah, namanya juga hidup semua mempunyai pasangannya, dimana positif akan selalu berpasangan dengan negatif walau ada sifat netral diantara keduanya. Karena netral tidak akan pernah mempunyai pasangan didunia ini.
Keberanian saya membeli domain untuk blog ini, mungkin karena ini satu-satunya blog terbaik yang pernah saya kelola. Sudah ada 8 blog sebelumnya yang pernah saya kelola, tetapi hati dan pikiran saya tetap memilih bahwa blog ini merupakan blog yang terbaik dan paling terbaik yang pernah saya kelola.
Blog yang rencana akan saya komersialisasikan saat ini masih menemui hambatan, entah apa masalahnya. Tetapi saya mengelola blog itu secara profesional dan itu membuat saya berfikir tidak akan menemukan hambatan apapun dalam mengkomersialisasikannya. Saya pernah memberikan ilmu tentang blog kepada sahabat saya dulu, dan blognya pun kini sudah dikomersialisasikan. Berbanding 180 derajat dengan apa yang saya alami sekarang ini. Sungguh malang dengan nasib saya ini. Seseorang yang awalnya dibawah saya, kini dia diatas saya bahkan sangat jauh. Itu lah takdir-Nya tidak bisa ditolak --tetapi bisa dirubah-- secara halus.
Saya yakin bahwa ada Skenario yang menakjubkan dibelakang hambatan-hambatan yang saya temukan sekarang ini. Dia memang yang maha adil, dan tidak akan pernah bersifat tidak adil sedikit pun meskipun itu terhadap seseorang yang tidak pernah adil kepada-Nya. Semua itu terangkai dalam cerita bernama kehidupan. Tak ada hal yang bisa melampaui-Nya.
Saya termasuk Irfan yang beruntung karena saya orang pertama yang membeli domain irfan.asia . Sebuah domain yang sangat pas jika saya terapkan di blog pribadi saya. Mungkin itu termasuk alasan lain dimana saya melakukan pikiran jahat saya dengan memasukkan domain itu ke blog ini. Blog yang hanya sebagai pengganti buku harian saja terkadang tidak jarang ada hari tanpa menulis buku harian tersebut.
Setiap seorang profesional pasti memiliki homepage mereka masing-masing. Dan blog ini saya nyatakan sebagai official homepage pribadi saya, yang saya kelola secara profesional. Impian saya jelas menjadi seorang yang profesional dibidang nya. Saat ini saya masih menjadi penulis artikel freelance --seperti itulah sebutannya--- yang menjajakan lapaknya di media sosial. Saya seorang penerjemah Twitter untuk Indonesia, dan itu bersifat volunteer atau sukarela tanpa dibayar sepeserpun. Beberapa teman saya beranggapan itu hanya sebuah pekerjaan yang tidak ada harganya atau tak berguna, tetapi karena ada saya dan seribuan orang lain yang melakukan pekerjaan itu, Anda dan Anda bisa mengakses Twitter dengan bahasa nasional kita, Bahasa Indonesia!. Dulu saya pernah berinisiatif untuk membuat Twitter berbahasa Jawa, sebuah bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia. Tetapi usaha itu sia-sia, tapi pasti ada hal positif disetiap usaha yang kita lakukan walaupun usaha itu bernilai negatif.
Kini, saya masih terus berjuang untuk mendapatkan kompensasi dari blog yang saya komersialisasikan walaupun entah sampai kapan hal tersebut bisa terwujud. Tetapi saya percaya suatu saat saya bisa mendapatkan kompensasi dari blog itu. Saya beranggapan bahwa orang yang optimis akan lebih nyesek ketika menemui hambatan ketimbang orang yang selalu pesimis. Itu karena orang yang pesimis sudah tersimpan rasa gagal dalam pikirannya, dan ketika orang itu gagal maka itu sudah menjadi hal biasa. Tetapi jika orang pesimis itu berhasil, maka ada kemungkinan dua kali lipat rasa puas akan dinikmatinya. Dan saya memilih untuk menjadi orang yang pesimis dalam segala hal walau terkadang ada beberapa bagian yang memaksa saya harus bersifat optimis. Nyatanya ketika saya bersifat optimis dan gagal, nyesek pun datang dua kali lipat. Yah, namanya juga hidup semua mempunyai pasangannya, dimana positif akan selalu berpasangan dengan negatif walau ada sifat netral diantara keduanya. Karena netral tidak akan pernah mempunyai pasangan didunia ini.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.