Wednesday, April 29, 2015

Ketahui Saya Hari Ini (2)

Hari Selasa, hari yang paling panjang di antara bulan Januari hingga Juni 2015. Bukan karena waktunya yang bertambah lama, tapi karena kegiatan ngampus yang lebih banyak. Berangkat pagi, pulang Maghrib. Mengingatkan masa-masa SMK dulu, "Pantang pulang sebelum petang". Hanya saja bedanya di sini tingkatan lebih tinggi.

Wajarlah bagi para penyandang manusia intelektual untuk ngampus pagi sampai terbenam matahari. Lelah bukan masalah, asal harmoni bisa memberi sekaligus menghiasi *Loh!!!*. Mencoba menyandang gelar tukang insinyur. Bukan buat kebanggaan pribadi diri sendiri, tapi kebanggaan orang tua. Di mana si tukang insinyur hanya merasakan biasa-biasa saja, tapi si orang tua merasakan bahagia di akhir nestapa.

Nestapa memberi biaya, nestapa memberi kiat, nestapa menanti hasil. Wah, pengorbanan ya harus dibalas sebanyak mungkin. Harus beri lebih, dan bukan sekadar membalas budi. Memberi seperti apa yang sudah diberi. Ndak sopan namanya, kalo memberi kok sama dengan apa yang diterima. Wagu sebutannya. Kalo dikasih minimal, ya balas semaksimal. Bukan justru membalas dengan kriminal-kriminal, kurang-ajar namanya.

Diingat-ingat, sudah sekitar 10 bulan merantau di kampung halaman. Jauh dari orang tua, tapi malah sering bertemu keluarga besar. Tenang! Dibalik A ada B C D dan seterusnya. Jadi wajarlah kalo jauh dari orang tua malah sering bertemu keluarga besar, hehehe. Saya kan anak terakhir, jadi saya beban terakhir sekaligus jadi pembahagia terakhir. Begitulah rumus pastinya, sudah ada tanpa harus ditemukan terlebih dulu.

Pukul 00.00. Pertanda hari ini sudah Rabu. Waktu memang berputar stabil secara kuantitas, tapi jelas berbeda dengan kualitas yang timbul dari waktu ke waktu. Saya masih melek di tengah malem, bukan berarti saya merem di tengah siang. Sudah kebiasaan melek sampai larut malam hingga siang bolong. Nyatanya, orang yang lebih aktif pada malam hari memiliki daya otak yang tinggi. Kenapa? Karena otak terus aktif ketika malam hari. Memang bertolak belakang dengan stigma yang ada tentang melek sampai larut malam.

Pagi nanti, saya harus sudah siap pukul 7 pagi dengan melangkah kaki mencari pecahan-pecahan masa depan. Bisa dikatakan istirahat saya kurang untuk mencari pecahan-pecahan masa depan esok pagi. Tapi daya juang saya meningkat dengan kurangnya istirahat. Membuat saya dipaksa terus menerus melawan rasa malas dan kantuk. Akibatnya, saya terbiasa melawan kebiasaan buruk itu. Wih, bertolak belakang sekali...

Oke, bertolak belakang itu gak papa. Yang penting tidak menyalahi aturan negaramu serta aturan agamamu. Begitulah yang dosen bahasa Inggris saya bilang. Seperti sudah tertanam ke ingatan siapa saja yang mendengar perkataan itu. 

Intinya, hidup saya selalu berwarna. Ya! Saya lulus tes buta warna. Bukan sekadar lolos semata. Jadi sudah dipastikan hidup saya dari dulu hingga sekarang selalu berwarna. Berwarna identik dengan ceria, tapi ceria bisa juga tidak berwarna. Dengan satu warna kita bisa juga ceria. Cukup warna cokelat hasil campuran susu kental manis dengan segelas air yang diberi potongan-potongan es dan di minum di kala terik matahari, sudah memberi keceriaan kan?

Terlepas dari itu semua, cerita saya ini tidak bertema. Bukan karena otak saya tidak bertema, tapi memang ada banyak tema yang saya padukan menjadi satu. Bisa dikatakan temanya banyak tapi ada satu. Bisa juga dikatakan tidak bertema, karena tidak adanya keterikatan cerita dengan sebuah tema melainkan terikat dengan banyak tema, hehehe.


Yuk! Filosofi hidup saya menganut paham bebas. Bebas sewajarnya, bukan bebas yang lepas dari keterikatan harmoni yang ada. Baik norma, maupun aturan juga tata krama. Hidup mu juga harus bebas kendati ada saja yang menerabas. Unik kan? Life for free! 

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi