Saturday, April 4, 2015

Milky Way



Namanya Milky Way. Istilah penamaan dalam  bahasa Inggris, yang berarti Jalan Susu jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Dinamakan Milky Way karena jika dilihat warnanya seperti putihnya susu yang bercahaya. Orang luar sana memberikan julukan Milky Way.  Orang Yunani percaya bahwa warna putih yang bersinar itu merupakan jalur yang sering dilalui para malaikat, sehingga jalur itu berwarna putih menyala.

Mengenang dulu, ketika kecil ayah saya memberikan sebuah ilmu tentang astronomi. Ya, bisa dibilang begitu. Ilmu yang beliau berikan berkaitan dengan Milky Way. Ayah saya tidak pernah menyebut Milky Way. Tapi ayah saya menyebut hal itu dengan suatu sebutan yang umum dilafalkan oleh orang Jawa. Sayangnya saya lupa tentang sebutan penting itu.

Ilmu yang ayah saya berikan dulu, ternyata berkaitan dengan penyebutan Milky Way dalam bahasa Indonesia. Dulu ayah saya pernah menyebut bahwa ada tokoh pewayangan yang gagah bernama Werkudara tengah melangkah menyeberangi sungai di atas sana, tepatnya di Milky Way. Sebuah hal yang membuat saya berimajinasi kesana-kemari untuk beberapa tahun hingga saya paham akan apa yang ayah saya sebutkan ketika dulu.

Ayah saya memang sangat menyukai dengan cerita pewayangan, bisa dibilang beliau ikut melestarikan budaya Jawa dengan masih tetap mendengarkan cerita-cerita pewayangan hingga sekarang. Jadi sangat wajar, segala sesuatu tentang pewayangan sudah di luar kepala. 

Ketika Milky Way muncul di langit di atas rumah saya, beliau mulai mengenalkan kepada saya juga saudara-saudara saya tentang adanya Werkudara yang sedang menyeberangi sungai. Seketika yang dulu saya belum paham tentang ilmu astronomi malah berimajinasi tentang hal-hal yang tidak mungkin. Dulu saya beranggapan bahwa memang benar-benar ada tokoh pewayangan itu di atas langit dan dia benar-benar hidup di suatu tempat di atas sana, hingga ayah saya benar-benar bisa melihat dia. Sungguh imajinasi saya terlalu mengesankan.

Hingga suatu saat tepatnya ketika bulan Ramadan tiba, kala itu situasi desa saya sedang mati listrik. Dan hal itu menyebabkan bintang-bintang di langit malam terlihat lebih terang dari biasanya, kebetulan juga kala itu langit sedang cerah dan Milky Way sedang tampak di langit atas. Momen itu ternyata dimanfaatkan ayah saya untuk memberikan ilmu tentang tokoh pewayangan itu. Dengan bermodalkan senter sebagai alat bantu, beliau mulai menyoroti bintang dikejauhan sana yang membentuk koloni Milky Way. 

Setelah beberapa saat menjelaskan gambaran tentang tokoh pewayangan yang sedang menyeberangi sungai, ternyata memang saya masih belum paham juga dengan saudara-saudara saya. Akhirnya beliau menggambarkan sketsa kumpulan bintang menggunakan kertas dan pensil. Awal mula, beliau membuat titik-titik yang menggambarkan keberadaan bintang di langit atas. Lalu setelah beberapa saat ayah saya selesai membuat titik-titik itu. Lalu mulai menarik garis dari masing-masing titik yang ada. Dan ternyata hasilnya menggambarkan sebuah tokoh pewayangan itu.

Langsung saya yang masih tidak percaya tentang sketsa itu langsung melihat langit atas tepat dimana Milky Way berada. Cukup lama mencari posisi-posisi bintang yang menjadi titik penghubung antar garis itu. Setelah beberapa lama akhirnya saya mulai dapat melihat gambaran tentang tokoh pewayangan yang benar-benar ada dalam Milky Way. Yaitu merupakan sisi gelap pada bagian Milky Way yang nampak.

Setelah beberapa  tahun berlalu sejak itu, kini saya baru mengetahui bahwa ilmu yang ayah saya berikan itu merupakan sebab kenapa Milky Way memiliki sebutan nama "Bimasakti" di Indonesia, bukannya "Jalur Susu" seperti terjemahannya. Ternyata dulu Bung Karno lah yang berjasa memberikan nama itu. Beliau kala itu juga melihat adanya tokoh pewayangan Werkudara  di bagian sisi gelap Milky Way. Werkudara sendiri mempunyai nama Indonesia "Bima", jadi karena itu Milky Way yang merupakan galaksi tempat kita berada mempunyai sebutan "Galaksi Bimasakti".

Saat ini, Milky Way sudah mulai nampak di langit atas. Tapi suasana Jogja yang terlalu banyak polusi cahaya, cukup susah melihat dengan jelas. Tidak seperti dulu ketika saya masih berada di rumah. Berharap saya masih bisa mengamati tokoh pewayangan itu suatu saat ketika saya kembali ke rumah saya.

Selain itu, ayah saya juga memberikan beberapa ilmu astronomi lainnya yang semuanya didasarkan dengan ilmu astronomi Jawa. Antara lain tentang Lintang Gubug Penceng, Lintang Kemukus, Lintang Luku dan beberapa hal lainnya. Ilmu yang ternyata sangat penting untuk pengetahuan juga untuk penanda kebesaran-Nya. 

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi