Besok pagi hari senin, mereka para pelajar kelas XII sekolah menengah atas bakal melaksanakan ujian nasional. Menandakan malam ini mereka melakukan beberapa ritual wajib yang biasa dilakukan para pendahulu-pendahulunya dulu. Ritual wajib yang diantaranya menyimpang tapi umum dilakukan. Sisanya ritual wajib sebagai formalitas belaka.
Ritual wajib yang umum dilakukan para siswa berotak pas-pasan dibidang akademik, biasanya mereka akan melakukan fast-review tentang apa yang telah mereka pelajari selama tiga tahun. Biasanya siswa seperti ini tidak terlalu siap menghadapi ujian karena sudah merasa siap. Siswa seperti ini biasanya berujung biasa-biasa aja ketika nilai ujian nasional keluar. Terkadang siswa ini malah berujung luar biasa, karena faktor-faktor ajaib.
Ritual wajib lainnya, biasa dilakukan oleh siswa yang memang sudah sangat-sangat siap melakukan ujian nasional dan siswa-siswa yang mengganggap ujian nasional seperti ujian-ujian biasa. Yakni tidur malam seawal mungkin. Ritual ini dilakukan oleh mereka yang sudah sangat-sangat siap menghadapi ujian nasional untuk memberikan kesegaran otak mengerjakan soal-soal ujian nasional keesokan paginya. Tapi bagi mereka yang mengganggap ujian nasional hanya seperti ujian-ujian biasa saja, melakukan ritual ini untuk menghilangkan rasa deg-degan yang mereka hadapi. Kebanyakan dari mereka bakal menyadari setulus hati bahwa besok ujian, besok ujian, besok ujian.
Ritual wajib yang satu ini dilakukan oleh siswa-siswa antar golongan, yakni "searching, surfing, browsing, finding, hunting kunci jawaban". Ya, ritual ini dilakukan oleh siswa-siswa antar golongan, karena memang ritual ini dilakukan oleh sebagian siswa yang merasa sangat siap, yang pas-pasan saja, atau siswa yang menganggap biasa-biasa saja. Ritual ini merupakan ritual yang menyimpang tapi umum dilakukan.
Hal ini merupakan sebuah pelanggaran. Mereka yang melakukan hal ini tidak semata-semata salah 100%, karena hal ini terjadi karena ada pemicunya. Sama seperti asap, dimana ada asap pasti ada api yang menimbulkannya. Merekalah oknum-oknum dalam ruang lingkup pendidikan kita yang melakukan tindakan pelanggaran dengan membocorkan kunci-kunci jawaban ujian nasional.
Peluang ini pun dimanfaatkan oleh orang-orang kreatif yang tak bertanggung jawab sebagai ladang penghasilan. Merekalah joki-joki penjual kunci jawaban. Kenapa kreatif yang tak bertanggung jawab? Ya, mereka memang kreatif dengan memanfaatkan peluang sebaik mungkin tapi juga tak bertanggung jawab akan apa yang mereka jual. Banyak siswa-siswa yang tertipu oleh penjual kunci jawaban palsu. Namun jika mereka bertanggung jawab dengan kunci jawaban yang benar, mereka tetap saja bersalah.
Yah, memang bisa dibilang sistem pendidikan kita ini masih jauh dari kata sempurna. Bahkan bisa dibilang lebih menjurus ke kata buruk ketimbang baik. Sistem pendidikan kita menurut saya terlalu monoton dan menekan. Monoton dalam artian dimana kreatifitas para siswa disini tidak menjadi prioritas untuk dikembangkan, dan justru memberikan pengajaran yang siswa sendiri tidak suka dengan apa yang diajarkan. Menekan dalam artian siswa ditekan habis-habisan karena tuntuntan nilai yang harus dicapai. Mereka terpaksa sekolah demi nilai tinggi, bukan demi ilmu yang didapat.
Dari 3 ujian nasional yang saya lalui, saya sudah banyak mengerti tentang fakta-fakta yang ada dalam ujian nasional itu sendiri. Dari nilai ujian 4.00 hingga nilai 9.50 pernah saya dapatkan dari 3 ujian nasional itu. Lantas, apa saya termasuk siswa yang bodoh atau siswa yang pintar? Ya bisa dibilang faktor keberuntungan, bukan faktor bodoh atau pintar. Itu karena memang sistem ujian nasional kita lebih mengarah ke faktor keberuntungan ketimbang faktor bodoh atau pintar. Itu karena memang sistem ujian nasional kita yang tidak sempurna.
Memang tidak ada sistem di dunia ini yang sempurna. Setiap sistem pasti mempunyai lubang. Tapi mencoba menutup lubang itu lah yang membuat sistem terlihat sempurna, bukannya menambah lubang yang ada. Jadi harapan saya tentunya agar sistem pendidikan di Indonesia ini mulai menuju ke tahap kesempurnaan. Bukan malah menambah lubang yang sudah ada.
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.