Sunday, May 31, 2015

Tanggal Tua

Tanggal tua, dua buah kata yang sangat akrab bagi kalangan mahasiswa rantau. Kekhasannya lah yang membuatnya mudah akrab dengan mahasiswa rantau. Ya, tanggal tua merupakan sebuah keadaan di mana seorang mahasiswa rantau tengah berjuang dengan keras melalui tantangan. Biasanya berjuang dalam rentang waktu 10 hari, terhitung dari tanggal 20 hingga 31 hari di akhir bulan.

Begitu juga dengan saya. Ketika saya sedang menulis ini, tepat pada hari terakhir di bulan Mei, saya berencana makan malam dengan semangkuk makanan instan (baca mi rebus). Saya yakin bukan hanya saya seorang saja yang sedang berencana makan malam dengan makanan tersebut. Tapi hampir semua anak kos di seluruh Indonesia juga berencana makan malam dengan makanan tersebut di malam akhir penghujung bulan seperti saat ini.

Bisa dibilang mi instan merupakan teman akrab anak kos di akhir bulan. Bahkan bukan hanya di akhir bulan saja, tapi bisa jadi di awal bulan (kiriman telat datang). Saking seringnya, dari yang awalnya nge-favoritin mi instan, berubah menjadi kejelehan. Dari yang mulanya suka dengan rasanya, hingga akhirnya benci dengan aromanya.

Dari dulu memang saya menyukai mi instan, entah yang tipe rebus atau tipe goreng (walaupun tidak di goreng). Hingga saat ini saya masih suka dengan mi instan. Memang bahaya menjadikan makanan instan sebagai makanan kesukaan. Dari ancaman bahaya kesehatan jangka panjang, hingga mencret di pagi hari. Tapi yang namanya suka, pasti apapun halangannya pasti tetep digasak.

Menurut saya, mi instan bisa dibilang penolong sekaligus pembunuh. Penolong kita sebagai anak kos dalam hal materil, sekaligus pembunuh kita para umat manusia dalam jangka panjang. Walau memang semua orang bakalan mati pada akhirnya, tapi dengan mi instan secara kontinyu kita bisa mempercepat datangnya kematian..

Bagaimanapun juga, mi instan sudah mendarah daging di kehidupan orang-orang Indonesia. Dari yang masih belum bisa ngomong, hingga yang sudah susah ngomong pasti pernah menjajal gimana rasanya mi instan. Jadi bisa dibilang sudah menjadi cerita turun temurun ke anak cucu lah... Enaknya dan praktisnya lah yang menjadi makanan ini menjadi makanan sejuta umat bagi orang Indonesia.

Bahkan dengan bangganya, Indonesia sudah berani mengekspor makanan ini ke luar negeri sejak dulu. Iya, sejak dulu. Itu memang dikarenakan keenakan dan kepraktisannya. Bisa jadi dua faktor tersebut merupakan suatu komponen yang apabila di satukan akan mempunyai efek ketagihan dan lama-lama menjadi ketergantungan dan pada akhirnya mati....

Sekarang sudah setengah sepuluh malam, pertanda tanggal tua sudah mulai menuju akhirnya. Artinya kita bakal melangkah ke tanggal muda dalam beberapa jam mendatang. Tapi penderitaan tanggal tua masih bisa berlanjut menjangkiti tanggal muda. Tergantung kecepatan kiriman datang ke tabungan kita. Dari yang nunggu gaji hasil kerja sebulan, hingga kiriman bulanan dari orang tua di kampung.

Dengan tulisan ini, saya berharap tanggal tua menjadi titik awal untuk perjuangan anak kos sebagai anak Indonesia kedepannya! Terima kasih...

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi