Menurut saya memang acara yasinan seperti itu bid'ah. Kenapa? karena pada dasarnya acara semacam itu tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dahulu kala. Dan pada pelaksanaan acara tersebut, selalu berisi dengan pembacaan surat Yaasin yang ditujukan untuk mendoakan seseorang yang sudah meninggal.
Berlangsungnya acara tersebut secara terus-menerus, membuat seolah-olah kita mengkultuskan bahwa surat Yaasin itu surat untuk orang mati. Dan orang yang sudah mati itu ya harus dibacakan surat Yaasin seperti itu biar tenang di alam sana. Itulah anggapan saya terhadap adanya acara tersebut. Dan mungkin ada beberapa orang yang memang setuju dengan anggapan seperti itu.
Lantas apa kita itu gak boleh mengirim do'a kepada orang yang sudah meninggal?
Rasulullah sudah lama sekali meninggal, dan kita masih saja berdo'a sholawat ketika sholat. Bukankah itu mendo'akan orang yang sudah meninggal?. Rasulullah juga golongan manusia seperti kita. Dan dengan bukti seperti itu, menandakan bahwa kita memang di bolehkan mendo'akan orang-orang yang sudah meninggal, tentunya dengan cara dan do'a-do'a yang dianjurkan. Bukan seperti mengutamakan bid'ah dan menunda yang diwajibkan.
Cukup unik memang fenomena salah kaprah seperti ini. Namun itulah faktanya.
Hal yang membuat saya termenung masih ada.
Masjid, sebuah tempat ibadah orang-orang yang beragama islam. Masjid biasa disebut rumahnya Allah. Masjid juga harus diisi dengan aktivitas-aktivitas keagamaan yang ditujukan untuk menyembah atau memuliakan Allah SWT. Bukan hanya itu saja, masjid juga biasa difungsikan sebagai tempat penting dilaksanakannya acara-acara tertentu yang bertujuan kebaikan.
Ada juga yang menggunakan masjid sebagai sarana umum. Masjid memang sarana umum, tetapi ada beberapa oknum masyarakat yang bisa dibilang menyalahgunakan sarana umum tersebut.
Sebelum saya hijrah ke Jogja sekitar setahun yang lalu, ada sebuah keluarga yang hidup dekat dengan masjid di rumah saya. Keluarga tersebut bisa dibilang keluarga yang kurang beruntung dalam bidang perekonomian. Keluarga itu hanya mampu menempati sebuah bangunan kecil yang dulu berfungsi sebagai gudang mainan ketika saya masih TK.
Di gedung yang mirip gudang tersebut memang tidak layak jika digunakan sebagai rumah untuk kehidupan sehari-hari. Apalagi hanya ala kadarnya saja. Sumur dan kebutuhan MCK saja tidak tersedia. Keluarga tersebut pun menumpang kamar mandi di masjid sebagai tempat MCK. Hal tersebut memang dibolehkan. Dulu ketika keluarga saya dan juga para tetangga terkena musibah kekeringan, kami menggunakan sumur masjid untuk ngangsu. Bisa dibilang itu termasuk berkah dari masjid.
Tetapi, yang memprihatinkan ialah timbal balik keluarga tersebut kepada masjid yang selama ini menjadi tempat mereka semua melakukan kebutuhan MCK. Menumpang di rumah orang saja kita akan malu jika timbal balik kita terhadap orang tersebut buruk, lha ini menumpang di tempat yang biasa disebut rumahnya Allah.
Si suami & istri tidak aktif melakukan kegiatan peribadahan di masjid tersebut. Bahkan belum pernah melihat si suami melaksanakan sholat Jum'at berjamaah di masjid itu, apalagi sholat-sholat lainnya yang hanya disunahkan dilaksakan secara berjamaah di masjid.
Masih banyak memang orang-orang tersebut di sekitar kita. Berdasarkan fakta yang ada, jika kita memakmurkan masjid maka masjid tersebut akan memakmurkan kita. Saya memang bukan ahli agama seperti ayah ataupun ustadz-ustadz, tapi saya melihat bagaimana hal kecil terjadi di dalam masjid. Dari hilangnya kotak amal, aki, DVD player, semua pernah saya temui.
Mencuri di rumah orang saja sudah bisa masuk penjara, apalagi di masjid. Mungkin suatu saat si pencuri akan masuk penjara yang dibuat Allah. Semoga saja kita semua mendapat hidayah-Nya. Aamin...
Keprihatinan saya tentang masjid juga masih berlanjut. Kali ini tentang orang-orang yang tinggal di sekitar masjid. Banyak sekali orang-orang yang memang tinggal dekat dengan masjid itu tapi tidak pernah atau jarang sekali mau melaksanakan sholat berjamaah dimasjid. Bahkan sholat Jum'at saja tidak. Unik memang...
Ayah saya pernah berkata, "Masjid itu corong TOA nya ketinggian masangnya, jadi kalo ada adzan orang-orang yang dekat itu gak kedengaran karena TOA nya ketinggian, jadi pada gak datang ke masjid. Kalo yang rumahnya jauh, itu karena jauh jadi gak dengar kalo ada adzan".
Sebuah majas yang memang secara sengaja keluar dari perkataan ayah saya. Majas yang menggambarkan keadaan yang benar-benar terjadi. Saya sendiri masih bisa dibilang males untuk melakukan sholat berjamaah di masjid, tapi semaksimal mungkin saya berusaha untuk bisa melaksanakan hal tersebut.
-- Irfan
No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.