Saturday, October 3, 2015

Summer Holiday Satu

Sewaktu SD ada sebuah tradisi dalam pelajaran bahasa Indonesia. Tradisi tersebut merupakan sebuah tugas yang diberikan oleh bapak ibu guru ketika hari pertama masuk setelah libur panjang. Lantas apa tradisi tersebut? Menceritakan bagaimana liburanmu.


Hal itulah yang akan saya lakukan sekarang. Mungkin bisa sekaligus bernostalgia akan tugas yang sudah lama tidak pernah saya lakukan lagi.


Bagaimana saya menghabiskan waktu liburan ?


Setelah dua semester menjadi seorang mahasiswa, akhirnya saya menemukan juga yang namanya liburan panjang. Setiap mahasiswa pasti mendapat liburan panjang per 2 semester, tepatnya di akhir semester 2. Walau sama-sama libur panjang, tapi lamanya waktu libur berbeda dengan anak sekolah yang hanya 3 minggu. Yap, kami mahasiswa mendapat libur minimal 2 bulan.


Perjalanan liburan saya dimulai dengan batalnya rencana saya untuk bisa berlebaran di rumah masa kecil saya. Batalnya rencana tersebut malah tergantikan dengan berkumpulnya seluruh keluarga besar saya di Jogja. Mungkin kalimat 'Tuhan punya rencana yang lebih baik'  cocok jika dicocokkan dengan apa yang saya alami.

Mungkin jika rencana saya terlaksana, kumpulnya seluruh keluarga besar yang jarang banget terjadi tidak akan terlaksana. Memang di keluarga saya, tidak pernah mengadakan pertemuan keluarga atau sejenisnya. Dan dihari lebaran idul fitri kemarinlah acara tersebut untuk pertama kalinya terlaksana walau memang serba dadakan. Tapi yang dadakan biasanya lebih mantap.

Untuk pertama kalinya juga, kedua orang tua saya berlebaran di kampung halamannya setelah pernikahan mereka. Menikah sekitar penghujung tahun 70an, dan baru sekarang bisa berlebaran di kampung halamannya. Unik memang...

Kejadian unik memang harus diabadikan. Foto keluarga besar pun dibuat, bermodal camdic.

'Tuhan punya rencana yang lebih baik'

Kalimat tersebut masih berlanjut. Dengan batalnya saya berlebaran di rumah masa kecil saya, masih ada rencana-rencana tuhan yang tentunya lebih baik terus berdatangan. Selama 20 hari orang tua saya pulang ke kampungnya. Setahun yang lalu hanya ayah saya yang pulang kampung, itupun karena mengantarkan saya mendaftar kuliah.

Setelah 20 hari yang hebat berlalu, kedua orang tua saya kembali ke rumah masa kecil saya. Dan ada saya dalam perjalanan pulang tersebut. Setelah satu tahun lebih saya meninggalkan rumah itu, kini saya kembali walau hanya sekedar menengok.

Berubah?


Keadaan memang sudah berubah semenjak setahun berlalu. Memang sangat wajar dan seharusnya ada perubahan. Namun dibeberapa hal masih ada yang belum mau berubah. Minimal saya masih merasa ada di rumah sendiri, dan belum menjadi orang asing disitu.


Ada rumah-rumah baru yang didirikan, ada juga orang-orang baru yang menetap disitu. Mungkin jika saya tidak menengok lebih dari 3 tahun, sepertinya saya bakal merasa menjadi orang asing di tempat di mana saya tumbuh besar. Dalam jangka waktu 1 tahun, sudah terasa perubahannya.

Namun juga sedikit miris juga melihat keadaan orang-orang disekitar. Ada yang sekeng karena penyakit, termasuk Mbah Tinah ( waktu kecil saya pernah di-mong beliau ). Rumahnya ada di depan rumah saya. Jaman dulu beliau berjualan di depan TK dan SD. Hingga saya tamat SD, beliau masih tetap berjualan jajanan anak-anak. Beliau sudah janda, entah dari kapan. Karena itulah rezeki harus dicari sendiri tanpa ada yang menafkahi.

Selain Mbah Tinah, ada beberapa orang lain yang bisa dibilang mirip dengan beliau. Penyakit jadi teman akrab mereka..


"Cara Tuhan membuat umatnya tidak mengingat apa-apa kecuali hanya mengingat diri-Nya ialah dengan memberikan penyakit kepada mereka - Caknun"

Salah satu ibu teman akrab saya pun harus berpulang. Kematian memang tidak bisa dirubah kapan datangnya. Memang cukup berat jika sosok ibu berpulang ke sisi-Nya. Tapi yang namanya sesuatu yang bernyawa, pasti akan kembali kepada-Nya. Sebagai teman ikut berkabung, ikut menyemangati.

Berbicara tentang kematian, masih ada yang agak kurang tepat tapi membudaya. Ritual yasinan namanya. Lebih bagus disebut ritual ketimbang ibadah menurut saya. Sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, tapi justru mengakar dan membudaya pada masyarakat Indonesia.

Budaya yasinan itu masih ada di lingkungan rumah saya. Bahkan ketika saya menghadiri ritual tersebut, terlihat ada sesuatu yang ganjil. Mengutamakan yang bid'ah dan mengenyampingkan yang wajib. Ketika itu saya menghadiri yasinan yang saya sendiri tidak tahu bahwa acara tersebut merupakan yasinan karena memang keluarga saya didawuhi untuk menghadiri acara gendurenan atau syukuran.

Setelah tiba di rumah acara tersebut dilaksanakan, tamu-tamu yang datang pun membawa buku kecil tipis bertuliskan 'Yaasin' . Diluar dugaan saya tentunya, niat saya menghadiri syukuran harus tergantikan dengan acara tersebut.

Acara tersebut dimulai setelah ibadah sholat Magrib dan masih berlanjut ketika adzan Isya terdengar. Uniknya acara tersebut masih tetap berlanjut hingga ba'da Isya. Terlihatlah bahwa mengutamakan bid'ah dan mengenyampingkan yang wajib. Jelas salah, semoga saja hal tersebut bisa hilang dari lingkungan masyarakat di rumah saya. Aamiin...

-- Irfan

No comments:

Post a Comment

Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.

Published By Irfan Fahrurrozi