Bilingual, diartikan sebagai kemampuan seseorang yang menguasai dan menggunakan dua bahasa berbeda untuk berkomunikasi sehari-hari. Secara logika, kemampuan ini merupakan pemahaman susunan struktur dua bahasa dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Sejauh ini, kita wajib berbangga dengan menjadi warga negara Indonesia sejak lahir.
Kenapa?
Salah satunya ialah bahwa 57.3% orang Indonesia merupakan bilingual. Artinya setengah lebih populasi orang Indonesia, mempunyai kemampuan berkomunikasi menggunakan dua bahasa. Dengan jumlah persentase yang melebihi setengah dari seluruh penduduk Indonesia, berhasil menempatkan Indonesia ke urutan tiga di dunia di mana penduduknya bilingual. Bisa jadi persentase tersebut lebih kecil ketimbang kenyataanya. Terbukti bahwa kita sangat mudah menemukan orang-orang di sekitar kita menggunakan dua bahasa untuk berkomunikasi.
Kemampuan bilingual tersebut didasari oleh suku bangsa yang dimiliki setiap penduduk Indonesia. Setiap suku bangsa memiliki bahasa khas nya sendiri. Dan kita penduduk Indonesia yang kesadaran berbudayanya tinggi, pasti menguasai bahasa sukunya masing-masing. Tercatat ada 742 bahasa yang ada di Indonesia. Dan keseluruhannya itu berasal dari suku-suku bangsa di Indonesia. Belum lagi sub-bahasa pada masing-masing bahasa. Misal bahasa Jawa, mempunyai Ngoko, Kromo Madyo, dan Kromo Inggil. Mungkin jumlahnya akan lebih dari 742 bahasa.
Sebagai seorang yang bilingual, keuntungan yang saya rasakan cukup banyak. Kemampuan memahami susunan struktur dua bahasa, bisa dibilang membuat otak saya terlatih untuk berganti mode sesuai dengan bahasa yang digunakan.
Sejak kecil bahasa 'ibu' saya ialah bahasa Jawa. Pada dasarnya saya besar di lingkungan orang Jawa. Dan hal ini membuat saya harus melatih otak untuk berganti mode ke bahasa Indonesia ketika menginjak bangku SMP. Ketika sebagian besar teman-teman saya berbahasa Indonesia dengan lancar, saya justru masih terbilang kaku untuk berucap. Memang awalnya kaku dan sulit, tapi pada akhirnya otak menjadi terlatih.
Menurut penelitian, seorang bilingual akan secara otomatis berganti kepribadian ketika dia menggunakan bahasa lain. Penelitian tersebut terjadi pada saya. Wajar saja karena memang setiap bahasa memiliki polanya tersendiri yang mengakibatkan harus ada penyesuaian dari pengguna bahasa itu sendiri.
Ketika seseorang belajar sebuah bahasa asing, tingkat kecepatan menguasai bahasa tersebut tergantung dari seberapa sering bahasa tersebut mereka dengar sehari-hari. Dosen saya pernah bilang bahwa kemampuan menguasai bahasa asing itu merupakan manifestasi dari kebiasaan mendengar bahasa tersebut. Misal, ada seorang wanita Indonesia yang tak bisa menulis atau membaca diajak bekerja oleh bule ke Inggris. Secara natural, wanita tersebut akan bisa berbicara bahasa Inggris walaupun dia tidak bisa menulis atau membaca. Karena pemahaman suatu bahasa dimulai dari mendengar.
Hal itu berlaku juga untuk seorang anak kecil yang baru belajar berbicara dan belum mengenal tulisan.
Dari fakta tersebut, memahami bahasa asing lebih mudah jika kita tinggal di lingkungan yang menggunakan bahasa tersebut ketimbang belajar bahasa tersebut di rumah kita masing-masing. Ingat, otak kita mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan bereaksi dalam hal-hal baru.
Kembali pembicaraan Indonesia. Negara kita ini yang berada urutan ketiga di dunia dalam bidang bilingual, ternyata juga berada di urutan pertama dalam bidang trilingual. Secara persentase ada 17,4% penduduk Indonesia menguasai tiga bahasa sekaligus dengan kombinasi yang terbanyak ialah bahasa Indonesia, bahasa Jawa, dan bahasa Inggris. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berbangga dengan adanya hasil tersebut.
Bahkan kita patut berbangga mempunyai anak bangsa yang menguasai 14 bahasa asing. Gayatri Wailisa namanya. Seorang remaja asal Ambon yang mendunia karena kemampuan linguistiknya. Sayang beliau sudah berpisah dengan kita.
Situs www.swiftkey.com membuat info grafis yang menggambarkan seberapa banyak bilingual dan trilingual di dunia. Berikut gambarnya.
Jadi, seberapa bilingual-kah dirimu?Irfan Fahrurrozi © 2016


No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.