Berawal dari imajinasi setelah bangun tidur lalu sholat subuh tadi pagi, terngiang tentang Malaikat-Malaikat Allah yang bertugas mencatat do'a-do'a yang saya limpahkan kepada-Nya.
Sesuatu yang sebenarnya menjadi sebuah pertanyaan yang menuntut untuk dijawab dan dipertanggungjawabkan. Sebuah pertanyaan yang lahir dari -mukjizat- imajinasi tak disengaja.
Apakah malaikat Allah itu 'Ikhlas' menjalankan pekerjaannya?
Oke, saya mulai ulik pertanyaan tersebut berdasar fakta, opini, serta imajinasi saya pribadi. Memang sebenarnya membicarakan perihal Agama merupakan hal yang riskan. Dimana pembicara hal tersebut harus bersumber dan bukan sebuah karangan. Untuk itu akan saya maksimalkan semaksimal mungkin pembahasan ini.
Sebelumnya kita pahami apa Malaikat itu?
Malaikat (bahasa Arab: ملاءكة malāʾikah; tunggal: ملاك atau مَلَكْ malāk) adalah makhluk yang memiliki kekuatan-kekuatan yang patuh pada ketentuan dan perintah Allah.
Keistimewaan spesial dari Malaikat ialah bahwa mereka diberi kekuatan 'yang patuh' pada perintah Allah SWT. Kekuatan tersebut merupakan equipment yang diberikan oleh Allah untuk mempermudah pekerjaannya. Setuju?
Lantas dengan special equipment tadi, Malaikat akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengabdi kepada perintah-perintah Allah yang telah diberikan kepada mereka 24 jam / 7 hari non-stop hingga tidak tidur. Setuju?
Sejauh ini pendapat tersebut masih bisa kita setujui bersama-sama. Mulai dari sini saya mulai bicara tentang hal yang agak riskan serta samar untuk diperbincangkan. Saya awali dengan perbedaan antara kita 'manusia' dengan mereka 'Malaikat'.
Manusia merupakan makhluk paling sempurna di antara ciptaan Allah. Termaktub dalam Al-Qur'an Q.S. Al-Baqarah : 30. Untuk itu Manusia dinobatkan menjadi Khalifah di bumi berdasarkan hak prerogatif Allah SWT.
Berdasar ayat itu, bisa diambil kesimpulan bahwa Malaikat merupakan makhluk Allah yang tidak sempurna atau bahasa alusnya mendekati sempurna. Kenapa? Semua itu disebabkan oleh perbedaan kita dengan mereka.
Manusia diberi special gift berupa akal sekaligus nafsu. Bukan sekadar special equipment tapi sudah selevel dengan special gift. Dengan akal disertai nafsu, manusia dipersilakan untuk sak karepe atau sesukanya mau melakukan apa di dunia ini. Manusia juga di persilakan untuk mengatur jalan hidupnya masing-masing walau masih terikat dengan takdir, toh takdirnya juga masih bisa dirubah tergantung dari manusianya itu sendiri mau merubah atau tidak. Kan kita bisa sak karepe mau nyleweng atau tidak ya monggo.
Malaikat tidak mempunyai special gift seperti kita. Artinya Malaikat seperti mempunyai kekang akan apa yang akan dilakukannya. Tanpa special gift itu, Malaikat tidak akan pernah tau bagaimana rasanya bisa mengatur sebuah kelompok, melakukan penemuan dalam bidang astronomi, membuat klepon, atau sekadar menyantap gudeg Yu Djum.
Dalam dunia per-IT-an, kita bisa berandai-andai bahwa manusia itu merupakan objek yang diberi kemampuan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dari Allah SWT. Dalam AI, sistem mampu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan serta mampu untuk mengembangkannya sehingga AI menjadi sebuah sistem yang dapat berjalan sendiri sekaligus mampu mengambil keputusan dari pilihan yang diberikan berdasar perhitungan antara 0 dan 1 [binary].
Manusia, berperilaku sebagai objeknya Allah SWT yang mampu belajar, berkembang, serta mengambil keputusan. Dengan kemampuan tersebut kita bisa menentukan jalan kita sendiri sesuai dengan apa yang akan kita pilih.
Sedangkan Malaikat, hanyalah robot-robot yang diciptakan sebagai pekerja langitnya Allah SWT. Mereka merupakan objek yang diberi struktur program sebagai sistem inti untuk menjalankan aktifitas mereka berupa melakukan perintah yang diberikan Allah SWT. Seperti halnya robot ciptaan manusia yang tidak dilengkapi sistem AI, mereka hanya akan beraktifitas sesuai program yang diberikan. Tidak pernah mengembangkan struktur program yang ada pada diri mereka, kecuali si pembuat yakni Allah SWT yang melakukannya.
Dari situ terlihat bagaimana Malaikat dengan special equipment-nya dan manusia dengan special gift-nya mempunyai perbedaan.
Berdasar pendapat saya tersebut, masihkah Anda setuju?
Lantas bagaimana dengan kadar keikhlasan Malaikat terhadap pekerjaannya?
Rasa Ikhlas merupakan buah yang lahir dari kemauan. Kenapa seseorang bisa ikhlas untuk bersedekah sekian juta? Karena adanya kemauan dari pelakunya. Begitu juga jika si pelaku tidak ikhlas dengan sedekahnya. Rasa ikhlas dan tidak ikhlas bisa disimpulkan bahwa kedua rasa tersebut merupakan buah atau hasil dari sesuatu bernama 'kemauan'.
Malaikat yang notabene tidak memiliki akal plus nafsu, tidak akan pernah memiliki sesuatu yang disebut kemauan. Setuju?
Begini penjelasan logikanya. Jika manusia itu memiliki kemauan karena kita mempunyai nafsu yang merupakan special gift dari Nya. Sedangkan Malaikat merupakan robot pekerja langit yang hanya mempunyai special equipment untuk melancarkan membantu mengerjakan pekerjaannya. Selayaknya robot ciptaan manusia yang tidak diberikan sistem AI di dalamnya, robot tersebut hanya berjalan sesuai program utama. Seperti penjelasan di atas tadi.
Kemauan hadir dalam sebuah paket yang bernama 'akal plus nafsu'. Dan karena itu kita manusia memiliki sesuatu yang disebut kemauan.
Bisa ditarik kesimpulan, Malaikat tidak mempunyai kemauan. Dan karena itu, Malaikat tidak mempunyai rasa ikhlas dalam diri mereka.
Jadi, selama ini Malaikat tidak pernah 'ikhlas' atau 'tidak ikhlas' dalam menjalankan pekerjaan mereka. Karena 'ikhlas' dan 'tidak ikhlas' tidak pernah terprogram pada diri mereka.
Terjawablah pertanyaan yang terngiang secara tidak sengaja selepas sholat Subuh tadi pagi.
Apa masih setuju dengan pendapat saya?
That's your choice.
Rabu, 30/03/2016


No comments:
Post a Comment
Beri komentar kalian terhadap kisah saya yang satu ini.